Sedikit Masukan Buat Ahok : Ruang Tidak Tak Terbatas

Ahok seakan tidak ingin kalah dari Jokowi. Keduanya saat ini sedang berada di puncak perbincangan. Tengah menjadi pusat perhatian. Setiap hari pemberitaan tentang Jokowi dan Ahok bertebaran di berbagai media seakan tak henti. Apapun tingkah polah mereka cukup seksi untuk menjadi bahan berita. Cukup menjual jika menjadi bahan cerita. Itulah sebabnya, semua seakan berlomba untuk memberbincangkannya.

Dalam wawancara Hari Senin, tanggal 12/8/2013 dengan Kompas TV, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok, mengatakan bahwa Jakarta terbuka bagi semua orang yang datang, tetapi ada aturan main yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang ingin datang ke Jakarta. Setuju. Jakarta merupakan kota terbuka, bukan kota tertutup. Setiap orang berhak untuk datang ke Jakarta. Namun, ketika dia memilih untuk menjadi warga Jakarta, ada aturan main yang harus dipatuhi. Yang bersangkutan harus mau mengikuti peraturan yang ada. Sepakat.

Lebih lanjut, Ahok menjelaskan bahwa Jakarta bisa dihuni oleh 20-30 juta orang. Ahok mengatakan dengan 20 juta penduduk saat malam hari juga oke, yang penting harus memiliki infrastruktur dan transportasi massal yang jelas. Ini yang tidak sepenuhnya setuju.  Harus dikritisi.

Ruang Jakarta Tidak Tak Terbatas

Mencomot definisi ruang menurut UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Jakarta merupakan ruang bagi warganya dan makhluk lainnya hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. Ruang Jakarta tidak tak terbatas. Ada batasnya. Ada hitungan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ada batasan maksimal yang dapat ditampung dan ada batas kemampuan lingkungan hidup untuk mendukungnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta, luas wilayah Jakarta tidak bertambah, tetap +664,12 km2. Jumlah penduduknya yang senantiasa bertambah. Saat ini tercatat jumlah penduduk Jakarta 9,76 juta jiwa. Dengan luas yang sama dan tidak bertambah, bagaimanakah kondisi Jakarta jika dihuni oleh 20-30 juta jiwa? Masih layakkah? Masih nyamankah?

Itu hanya hitungan jumlah penduduk secara resmi. Kalau kita mau lebih cermat, jumlah “penduduk siang” di Jakarta akan berbeda dengan “penduduk malam”. Jumlah di atas belum memperhitungkan beban yang harus dipikul Kota Jakarta pada siang hari. Jumlah tersebut belum mengakomodir jumlah penduduk di sekitar Jakarta yang menjadi Commuter. Tinggal di sekitar Jakarta namun bekerja dan mencari penghidupan di Jakarta. Sehingga jumlahnya akan lebih banyak lagi.

Ada batas toleransi pengembangan dan pembangunan yang perlu ditegaskan untuk Kota Jakarta. Memang perlu diakui, manusia dengan karunia akal dan pikiran, dapat melakukan rekayasa teknologi terkait dengan pembangunan yang dilakukan. Manusia dapat mengatasi permasalahan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Namun, pada akhirnya, ada batasan yang tidak dapat dilampaui. Alam pasti akan menunjukkan keperkasaannya. Alam dan lingkungan akan menampilkan reaksi secara fisik.

Jika dipaksakan akan sangat tidak nyaman dan tidak aman. Jakarta harus disesuaikan dengan daya dukung dan daya tampungnya. Jika sudah melebihi, berbagai persoalan dijamin bermunculan, bencana sangat rentan terjadi, kenyamanan akan sangat terganggu. Kualitas hidup diragukan. Jangan sampai Jakarta terus mengarah ke sana.

Kita dapat menggunakan analogi kapal laut. Setiap kapal memiliki kapasitas dan kemampuan tonasi sebagai ambang batas kemampuan dan daya angkut kapal. Dengan rekayasa teknologi yang terus berkembang, tonasi sebagai ambang batas bisa saja bertambah. Namun begitu ambang batasnya terlampaui, kapal akan tenggelam dan karam. Begitu pula halnya dengan Kota Jakarta, ketika beban lingkungan yang dialami oleh Jakarta telah melampaui daya dukung dan daya tampungnya, Jakarta akan tenggelam, tanpa daya.

Masih terekam dalam ingatan, peristiwa amblesnya Jalan RE Martadinata di Jakarta Utara sedalam 7 m pada ruang sepanjang 103 meter dengan lebar 4 meter. Ini juga merupakan salah satu pertanda jalan tersebut telah memikul beban yang terlampau berat, melampaui kemampuannya untuk mendukung kegiatan di atasnya, untuk menampung aktivitas di atasnya.

Saatnya Berbagi Peran dan Fungsi dengan Tetangga

Jakarta bukan kota yang dapat berdiri sendiri. Jakarta juga memiliki ketergantungan dengan kota-kota di sekitarnya sebagai sebuah sistem.  Saling membutuhkan. Diharapkan saling mendukung. Jakarta harus mau berbagi peran dan fungsi dengan kota-kota tetangganya. Jakarta dapat berbagi peran dan fungsi dengan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, bahkan Puncak dan Cianjur. Dengan berbagi peran dan fungsi dengan tetangganya, diharapkan jumlah perjalanan keluar masuk Kota Jakarta dapat terkurangi. Supaya bebannya dapat sedikit terbagi.

Biarkanlah industri-industri mulai menepi, bergeser ke arah Bekasi dan Cikarang. Tidak perlu memaksakan diri untuk tetap bertahan di Jakarta dengan UMP yang tinggi. Buatlah agar perusahaan lebih diuntungkan jika lokasinya berada di Bekasi, Cikarang atau Tangerang. Relakanlah pusat-pusat pendidikan beringsut ke Depok, dan seterusnya. Bahkan, doronglah pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa. Supaya gerak geliat roda ekonomi tidak hanya bertumpu di Jakarta.

Jadi, Ko Ahok, tetap ingat, pertimbangkanlah daya dukung dan daya tampung Jakarta. Jangan biarkan Jakarta tenggelam karena beban yang terlampau berat. Salam. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s