Uban dan Rasa Syukur

Beberapa bulan terakhir ini, perasaan yang berbeda hampir senantiasa hadir, mampir, dan diam melekat. Entah kapan akan segera berlalu dan berhenti merasuk pikiran. Masih sedang dalam upaya. Upaya untuk mengenyahkan perasaan tak menentu. Kata anak gaul sekarang, perasaan GALAU. Apa sebab? Malu rasanya untuk mengakui. Sungguh tulisan yang gak penting. Galau hanya gara-gara uban. Resah dan bimbang hanya gara-gara warna putih mengkilat yang perlahan tapi pasti mulai muncul satu demi satu di kepala. Saling berebut meminta perhatian, agar terlihat di permukaan.

Awalnya, selalu minta bantuan anak untuk mencabut. Dia cukup sulit untuk menemukan dan memilah mana rambut yang harus dienyahkan. Tidak demikian dengan beberapa bulan terakhir. Si rambut mengkilat semakin berani unjuk gigi, semakin percaya diri untuk tampil. Hanya sayang, tidak demikian hal nya dengan sang pemilik rambut.

Hari Sabtu adalah waktu yang tepat untuk menikmati tenangnya hari. Waktu yang sangat pas untuk berleha-leha sejenak, lepas dari beban rutinitas. Si bungsu berujar, “Ma, kok sekarang nambah terus ubannya?”.  Walau telah tahu, tetap saja beranjak menuju cermin dan menyibakkan rambut. “Iya, ya makin banyak. Ternyata  Mama sudah mulai tua”. Mulai menimbang-nimbang niat untuk mencat rambut. Suami yang tengah asyik dengan bacaannya langsung nimbrung, “Sudah, gak apa-apa, memang sudah mulai tua kok”. Gubraaak…!!! Hahaha… bukannya menghentikan kegalauan. Mungkin ini bukan kali pertama bagi suami. Pasti telah beberapa kali membaca kegalauan hati istrinya. Galau karena beberapa helai rambut putih mengkilatnya.

Uban seharusnya disikapi dengan wajar dan tidak berlebihan seperti halnya penggalauan hati yang terjadi beberapa bulan ini. Itu teorinya. Sudah sangat jelas dan terang. Seharusnya bisa lebih siap menghadapinya. Namun ternyata tidak demikian kenyataannya. Tetap saja menggalau dan butuh kesiapan. Teorinya, uban wajar terjadi saat rambut kehilangan pigmentasinya. Uban juga terjadi akibat faktor usia dan keturunan. Harusnya lebih siap. Bahkan kedua adik pun telah lebih dahulu memiliki uban, karena faktor keturunan. Harusnya lebih bersyukur, ternyata uban saya hadir lebih terlambat.

Ya, benar. Harusnya bersyukur. Memiliki rasa syukur senantiasa. Daripada sibuk menghitung helai uban yang bertambah, mari kita hitung berkat yang kita terima. Daftar berkat yang kita terima pasti akan sangat panjang, tidak terhitung. Laksana pasir di laut. Bahkan tidak cukup alasan untuk berkeluh kesah. Begitu besar kasihNya sehingga begitu banyak berkat dan kebaikan Tuhan. Anak-anak yang bertumbuh sehat, si sulung yang tingginya sudah nyusul, si cantik yang mulai ABG, si kecil yang sudah tidak terlalu sulit makannya, suami yang masih setia, keluarga dan sahabat yang mengelilingi, lingkungan yang mendukung, segelas teh tawar hangat di pagi hari, dan begitu banyak lagi alasan untuk memanjatkan rasa syukur. Selayaknya bersyukur sambil senantiasa berupaya untuk menjadi berkat pula bagi orang lain di sekitar kita.

Masih mencoba untuk terus menghibur diri. Tidak apa-apa. Semoga tiap lembar uban yang tumbuh di kepala menandakan tumbuhnya pula kesabaran, kebijaksanaan, kebaikan, keikhlasan. Menjadi lebih sabar, lebih bijak, lebih baik, lebih ikhlas.  Semoga. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s