Makna Lebaran Bagi Non Muslim

Bagi umat muslim, Idul Fitri, atau yang populer dengan sebutan Hari Lebaran, memiliki makna sebagai hari kembalinya kefitrahan manusia. Kembali ke kesucian, kembali fitri. Terkadang Idul Fitri dimaknai seperti bayi yang baru lahir, masih suci, bak secarik kertas putih. Realitas yang terjadi kemudian, kertas putih mulai tergores pensil, tercoret tulisan, terpercik tinta, bahkan teremas, hingga sulit kembali bersih dan licin. Perlu upaya untuk mengembalikan pada kondisi semula. Dalam perjalanannya, manusia tak luput dari kesalahan dan dosa baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama manusia. Manusia sering tergoda untuk melakukan beragam kesalahan, permusuhan, iri, dengki, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen untuk saling memaafkan, saling memulihkan, saling mengembalikan kondisi, untuk kembali fitri. Lebaran pun dimaknai sebagai suatu pesta kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh menjalani puasa di Bulan Ramadhan. Pesta kemenangan karena telah berhasil melawan berbagai nafsu. Itulah makna Idul Fitri.

Gambar

Selamat Idul Fitri, indahnya kebersamaan dalam keberagaman.
Sumber Foto: http://www.waroeng.nl

Bagaimana halnya dengan non muslim? Apa makna Lebaran bagi non muslim? Adakah makna Lebaran bagi non muslim? Umat non muslim pun turut memaknai Lebaran dalam persepsi dan caranya masing-masing. Berikut di antaranya:

1.   Lebaran adalah masa libur panjang

Dalam hal yang satu ini, baik umat muslim maupun non muslim sebenarnya sama saja. Sama-sama menantikan momen Lebaran. Sama-sama menanti dengan penuh harap, agar segera tiba, namun mungkin dengan persepsi yang berbeda. Kalau boleh, semoga Lebaran datangnya dapat dipercepat. Bagi sebagian besar orang (karena ada juga profesi-profesi yang tidak mendapatkannya), Lebaran merupakan masa liburan panjang. Masa yang dapat dipergunakan dengan beragam cara dan sesuai kebutuhan. Umat non muslim menantikan masa libur Lebaran, supaya bisa berlibur, pergi ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Cobalah cek agen-agen perjalanan wisata, coba tilik tour-tour yang ada. Biasanya pada waktu libur Lebaran, paket wisata laris bak kacang goreng, bahkan bak pisang goreng. Hampir semua habis terjual, baik paket wisata dalam negeri, maupun luar negeri. Banyak sekali agen perjalanan wisata yang menawarkan paket wisata yang disesuaikan dengan masa libur Lebaran. Jauh-jauh hari, paket-paket tersebut sudah habis terjual, hotel penuh, penginapan fully booked. Tidak perlu heran dan jangan heran, itulah kenyataannya.

Umat non muslim ikut menanti Lebaran dan turut menyesuaikan waktu liburnya, mencocokkannya dengan masa libur Lebaran. Beragam pertimbangannya, bermacam alasannya. Berikut di antaranya, “Supaya pas dengan waktu cuti bersama di kantor, agar pas dengan waktu mudik para asisten rumah tangga, agar tidak mengganggu waktu sekolah, karena liburnya panjang”.

2.   Lebaran adalah bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR)

Realita yang terjadi, THR ternyata tidak hanya ditunggu oleh umat Muslim yang merayakan hari raya saja. Pemberian THR juga berlaku untuk non muslim. Sebagian perusahaan yang memiliki karyawan yang beragam, memberikan THR tanpa membedakan muslim atau non muslim, menyamakan waktu pemberian THR dengan waktu pemberian THR bagi umat muslim. Mungkin ini tidak berlaku bagi perusahaan yang jumlah karyawan non muslimnya menjadi mayoritas. Untuk kasus tersebut, biasanya THR disesuaikan dengan hari raya keagamaannya masing-masing. Namun, untuk perusahaan maupun instansi/lembaga lainnya, THR juga diberikan kepada karyawan non muslim.

Rutinitas bagi-bagi THR juga dialami dan dilakukan oleh umat non muslim. Umat non muslim pun memiliki kebiasaan dan memang diwajibkan untuk membagi-bagi THR bagi para karyawannya yang muslim. Dengan demikian, Lebaran memiliki makna bagi-bagi THR secara universal, tanpa memandang muslim atau non muslim.

3.   Lebaran adalah toleransi

Inilah makna terpenting. Hari Lebaran sekaligus juga harus dimaknai sebagai toleransi, tenggang rasa, kebersamaan dalam keberagaman. Perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk saling mencurigai, menyerang, ataupun memusuhi. Perbedaan justru harus menjadi sarana untuk kebajikan. Dimaknai untuk saling memaafkan dan saling berbagi kasih. Berlapangdadalah ketika kita menghadapi perbedaan, karena kita memang selalu dihadapkan pada perbedaan, bahkan orang yang terdekat dengan kita pun bisa berbeda.

Sebenarnya sejak memasuki Bulan Ramadhan hingga Hari Raya Lebaran, suasana harmoni lintas agama sudah terlihat melalui rutinitas berpuasa. Umat muslim dan non muslim harus saling menghormati, saling menghargai. Non muslim menghormati umat muslim yang berpuasa, demikian pula sebaliknya. Contoh kecil, puasa sejatinya tidak membuat dan memaksakan kehendak sebagian orang atau sebagian kelompok agar restoran dan warung makan tutup. Sejatinya tidak hanya orang non muslim saja yang dihimbau untuk menghormati orang yang berpuasa. Namun, sebaliknya yang menjalankan puasa pun harus bertoleransi terhadap orang yang tidak berpuasa.

Toleransi berlanjut. Suasana harmoni makin terbangun melalui acara buka puasa bersama, tradisi mudik, tradisi halal bihalal, dan tradisi silaturahmi antarwarga saat Lebaran. Pada sebagian wilayah, sudah terjadi. Peristiwa kunjungan silaturahmi warga non muslim ke rumah warga muslim saat Lebaran sangat lumrah terjadi. Silaturahmi tetap harus terjaga dengan apik. Buka puasa bersama hanya momentum. Intinya adalah kebersamaan, tidak membatasi muslim atau non muslim.

Lebih indah lagi ketika kita melihat toleransi yang sangat nyata dan jelas terjadi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral di Jakarta. Kerukunan dan kedamaian harus tetap terpelihara, karena toleransi antarumat beragama pasti juga diajarkan oleh semua agama di dunia. Inilah makna yang sejati. Ketika Hari Lebaran jatuh pada Hari Minggu, Gereja Kathedral memundurkan jadwal misanya, demi memberikan kesempatan umat muslim untuk shalat Ied di Masjid Istiqlal. Gereja Kathedral juga membuka pintu halamannya lebar-lebar untuk menampung kendaraan pribadi umat muslim yang Shalat Ied di Masjid Istiqlal. Demikian pula halnya Masjid Istiqlal yang membuka gerbang halamannya lebar-lebar ketika ada Misa Natal. Justru di sanalah terpampang keindahan. Kebersamaan dalam keberagaman. Toleransi yang sangat kasat mata. Jangan sampai agama menjadi komoditi untuk berpolitik dan dipolitisasi.

Contoh lainnya cukup banyak, misal di Yogyakarta, sangat wajar terjadi, saat masa Lebaran umat non muslim turut membuat ketupat dan saling mengirim ketupat. Bahkan di Inggris sekalipun, toleransi sudah terbangun. Ada gereja tua yang sudah lama tidak terpakai, akhirnya diijinkan untuk digunakan sebagai masjid.

Jika ini senantiasa terwujud, betapa indahnya Indonesia. (Del)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s