Sutra Sengkang Ingin Senantiasa Melenggang

Mungkin belum banyak yang mengenal Sengkang. Sengkang adalah kota kecil ibu kota Kabupaten Wajo yang berjarak sekitar 250 km dari Makassar ke arah utara. Kota Sengkang dapat ditempuh dari Makassar sekitar 5-6 jam perjalanan darat dengan menyusur jalur lintas Barat Sulawesi melewati Kota Maros, Pangkajene, Barru, Pare-Pare, Pinrang, dan Sidenreng Rappang. Namun tidak perlu terlalu khawatir, walaupun suasana sepanjang jalan sudah ramai, jalanan menuju ke sana relatif mulus. Hanya mengalami keterhambatan di beberapa spot keramaian saja.

Menyebut Kabupaten Wajo, ingatan langsung tertuju pada Danau Tempe dan Sutra. Dua hal ini memang melekat erat dan terkait mesra dengan Kabupaten Wajo. Kota Sengkang selaku ibu kota Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan,  merupakan kota kecil yang tengah sibuk menata diri, menghibur hati, mencoba merajut senyum kembali setelah selama tidak  kurang dari 2 minggu berkutat dengan banjir, akibat meluapnya Danau Tempe. Bukan semata meluap, namun luapan akibat pendangkalan Danau Tempe. Danau Tempe merupakan danau yang berlokasi di bagian sebelah Barat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Hanya berjarak sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju Sungai Walanae. Danau ini merupakan salah satu danau tektonik di Indonesia. Ribuan rumah di sekitar Danau Tempe terendam banjir akibat meluapnya Danau Tempe. Dampaknya tidak hanya untuk Kabupaten Wajo saja, namun juga merembet ke tiga Kabupaten sekitarnya, yaitu Sidrap (Sidenreng Rappang), Soppeng, dan Bone. Air menggenangi rumah-rumah penduduk dengan ketinggian berkisar setengah hingga 3 m.

Gambar

Banjir akibat meluapnya Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Kota Sengkang memang belum terlalu populer, belum sering terdengar. Tapi ternyata di kota kecil tersebut juga menyimpan potensi yang tak kalah indah dan menarik. Kota ini merupakan surga bagi penggemar sutra, sentra utama kerajinan sutra di Indonesia Timur. Bagi orang yang sering berbelanja oleh-oleh di sepanjang Jalan Somba Opu, Makassar, tentu tidak asing dengan deretan kain sutra yang terpajang rapi di toko-toko souvenir. Dari Sengkang lah, sutra-sutra itu bermula.

Gambar

Tumpukan sutra di sentra penjualan sutra Sengkang, Kabupaten Wajo

Sutra dan Wajo seakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Hampir seluruh warga kota tidak asing dengan kerajinan sutra. Bahkan warga mengakrabi proses pemeliharaan ulat sutra di rumah masing-masing. Jika kita menengok Kecamatan Sabbangparu, hampir semua bagian bawah rumah, bagian kolong rumah penduduk sekaligus juga berfungsi sebagai kandang ulat sutra. Bagi mereka ulat sutra sudah menjadi bagian hidup, kehidupan, dan penghidupan mereka. Sudah pula menjadi bagian dari budaya. Kondisi tanah di Kabupaten Wajo turut mendukung dan sangat menunjang kelancaran penanaman pohon murbei yang merupakan pakan utama ulat sutra. Bagi gadis Wajo, kepiawaian menenun menjadi prasyarat wajib. “Bukan gadis Sengkang kalau tidak bisa menenun” tetap menjadi tagline yang selalu digaungkan masyarakat Wajo.

Gambar

Tenun dan Sutra sudah menjadi nafas kehidupan Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Cobalah mampir ke sentra kerajinan sutra di Kabupaten Wajo. Untaian benang sutra telah menjelma indah menjadi bentangan kain dengan beragam motif dan corak. Selain corak dan motifnya yang khas, para perajin juga masih banyak yang tetap menggunakan bahan alami untuk pewarnaannya. Biasanya mereka menggunakan getah beragam pohon, pucuk daun mangga, daun pandan, atau kunyit untuk memperkaya warna pada motif kain.

Namun sayangnya para perajin terganjal oleh masalah pemasaran. Karena kurang mumpuni dalam hal pemasaran, kain-kain itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal yang selanjutnya menimba keuntungan besar dengan memasarkannya ke manca negara.  Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah asal sama-sama diuntungkan dengan kadar yang wajar. Keuntungan selayaknya dirasakan pula oleh para penenun. Agar sutra Sengkang tetap senantiasa melenggang mengikuti langkah pemakainya. Agar senyum para perajin tenun sutra di Kota Sengkang tetap terajut indah. Agar duka akibat banjir Danau Tempe tidak terlalu menyesakkan hati mereka. Agar harapan dan asa mereka tetap terjaga. (Del)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s