Jangan Membuat Poso Semakin Nelongso

Terus terang, kala mendengar Poso, yang terbersit di benak dan yang tercetus di bibir, “Amankah? Sudah kondusifkah? Sudah layak kunjungkah?”. Ketika mendapatkan tugas ke Poso, tentunya itu pula yang pertama muncul.  Tapi tugas tetap harus terlaksana.

Bandara Kasiguncu Poso
Sumber Foto: http://rahmanandra.blogspot.com/

Mendarat di Bandara Kasiguncu, mulai terasa aroma kesederhanaan sebuah bandara kecil. Proses pengambilan bagasi hanya dilakukan melalui sebuah jendela. Begitu sederhana. Tidak ada yang namanya conveyor panjang dan berputar seperti layaknya sebuah bandara. Bahkan ketika pulang, penumpang bebas keluar masuk pintu detektor. Sangat tidak terjaga dengan baik, sekaligus mencerminkan kesederhanaan. Namun, menurut keterangan pejabat pemerintah setempat, tahun 2013 ini, pemerintah melalui Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengucurkan dana untuk pengembangan Bandara Kasiguncu Poso, terutama untuk pekerjaan taxy way dan pembangunan terminal bandara. Semoga bisa lebih aman dan nyaman karena akan sangat menunjang pembangunan dan pengembangan Kabupaten Poso, supaya tidak semakin nelongso, terpuruk oleh beragam pemberitaan buruk. Dengan peningkatan fasilitas bandara Kasiguncu, diharapkan tidak hanya masyarakat Kabupaten Poso saja yang dapat menikmati, tapi juga masyarakat Parigi Moutong, Tojo Una Una, dan Morowali. Kabupaten sekitar Poso dapat menggunakan Bandara Kasiguncu untuk keluar daerah.

Bagaimana Poso tidak nelongso? Coba ketikkan kata “Poso” di kotak pencarian gambar di Google, yang muncul adalah gambar-gambar menyeramkan, gambar-gambar korban kekerasan, gambar-gambar tentara dan polisi dengan senjata lengkap, serta gambar-gambar muka orang yang konon katanya teroris. Sangat menyeramkan. Sangat berbeda jika kita mengetikkan kata “Jakarta” di kotak pencarian gambar yang sama. Walau Jakarta sering dicerca namun tetap dirindu dan dihuni, yang muncul setidaknya masih gambar-gambar indah tentang monas, gedung-gedung tinggi, skyline Jakarta, dan gambar-gambar indah lainnya.

Pertanyaan yang sama seperti di awal tulisan, saya ajukan pula secara langsung kepada Wakil Bupati Poso, Ir. T. Syamsuri, MSi., “Amankah?”. Jawabnya, ”Tenang Bu, aman, silakan buktikan sendiri selama di sini”. Terima kasih.  Bapak Ir. T. Syamsuri, MSi. bersama dengan Bupati Drs. Piet Inkiriwang, MM memimpin Poso untuk periode 2010-2015.

Terlalu banyak pemberitaan buruk yang beredar di media. Pemberitaan dilakukan berulang-ulang dan terlalu bombastis. Patut diakui, Itulah salah satu kekuatan media. Bisa menolong sekaligus pula membuat lebih terpuruk. Peristiwa di Poso mengundang derasnya arus pemberitaan pada tataran lokal maupun nasional. Gaungnya bahkan sampai internasional. Situasi demikian tentunya memiliki implikasi terhadap kegiatan pembangunan maupun pelayanan kemasyarakatan. Seharusnya media lebih proporsional, lebih berimbang, dan pemberitaannya tidak hanya bersifat penuh nada provokasi.

Ini pula yang tercetus dari obrolan dengan salah satu rekan di Poso. Terkadang media tidak melihat secara langsung, hanya mendengar dan melihat dari satu sudut pandang saja. Sebenarnya masyarakat Poso sudah jenuh akan provokasi-provokasi. Sudah bosan mendengar dan melihat pemberitaan yang tidak sepenuhnya benar. Seakan kiamat telah terjadi di Poso. Padahal tidak demikian. Jangan biarkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, pihak-pihak yang senang bila Poso tetap bergolak, pihak-pihak yang diuntungkan bila Poso goyang, terus menancapkan kukunya.

Rekan tadi melanjutkan, “Cerita di luar saja yang aneh-aneh. Memang ada kejadian bom, tapi sekarang sudah aman kembali, jangan usik dengan pemberitaan lain yang tidak sepenuhnya benar. Kami ingin tenang”.

Bahkan, ada sebuah desa, yaitu Desa Meko, yang mewujudkan niat tulusnya untuk membantu warga muslim di desa tersebut yang notabene warga minoritas. Warga membangunkan mesjid bagi kaum muslim di sana. Desa Meko berjarak sekitar 70 kilometer sebelah selatan ibu kota Kabupaten Poso. Letaknya di sebelah timur tepian danau Poso. Desa ini merupakan ibu kota dari Pamona Barat. Jika mengacu pada syarat yang berlaku, pendirian rumah ibadah harus sekitar 60 orang dan itu tidak berlaku di sana.  Walau hanya 17 keluarga, mesjid tetap harus dibangun. Semua orang berhak untuk beribadah. Warga non muslim bahu membahu membantu membangun mesjid dan rindu untuk hidup berdampingan bersama.  Walaupun mayoritas agama Kristen dan Hindu, mereka mau membantu mewujudkan rumah ibadah bagi kaum muslim untuk mempererat persaudaraan, perdamaian, dan toleransi antar umat beragama. Begitu pula sebaliknya, kaum muslim membantu kaum kristiani membangunkan gereja.

Jadi, mari, jangan buat pemberitaan yang tidak berimbang, yang provokatif, yang semakin membuat Poso terpuruk. Jangan membuat Poso semakin nelongso. (Del)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s