Hapuskan Saja 3 in 1

Di satu sisi, kita patut memberikan acungan jempol, memberikan apresiasi. Orang Indonesia, terutama Jakarta memang kreatif. Kreatif dalam mensiasati dan melihat peluang dari bolongnya sebuah kebijakan publik. Mereka dapat menciptakan “lapangan pekerjaan” baru dari kelemahan sebuah kebijakan publik. Ada beragam “lapangan pekerjaan” baru yang tercipta hasil ide kreatif warga Jakarta yang berhubungan dengan transportasi. Salah satunya adalah joki 3 in 1, selain ojek atau juga omprengan tak resmi pribadi. Joki 3 in 1 hadir dan lekat dengan kehidupan Kota Jakarta. Lahir untuk mensiasati kebijakan pembatasan jumlah penumpang pada kendaraan pribadi. Ya, sejatinya memang kebijakan ini diterapkan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi dengan ujung tujuan untuk mengurai kemacetan Ibu Kota. Efektifkah? Ternyata tidak.

Para joki 3 in 1 tidak pernah berkurang. Berderet di sepanjang jalan, bahkan mengokupasi sebagian badan jalan. Dilakukan demi terlihat oleh calon konsumennya atau demi memenangkan persaingan di antara mereka sesama joki. Sangat membahayakan diri mereka dan pengguna jalan lainnya. Jumlahnya tidak berkurang setelah banyaknya razia sekalipun. Karena solusinya bukan razia. Kehadiran mereka ada dan akan tetap ada sepanjang demand nya ada dan mereka belum memperoleh alternatif pekerjaan lain semudah joki 3 in 1.

Joki 3 in 1.
Sumber Foto: http://www.kfk.kompas.com

Menarik jika memperhatikan para joki 3 in 1. Jika di luar negeri, biasanya yang terjadi adalah para pemilik kendaraan memberikan bantuan tumpangan dalam arti membantu para pencari tumpangan (hitchhikers) di pinggir jalan. Tidak demikian yang terjadi di Jakarta. Para joki yang justru membantu para pemilik kendaraan dan dibayar pula. Satu lagi yang membedakannya. Jika di luar negeri para pencari tumpangan ini mengacungkan ibu jari atau jempol tangannya, di Jakarta mengacungkan telunjuk kiri atau bahkan telunjuk dan jari tengahnya jika dia ibu dan anak balitanya. Menarik.

Sangat dimengerti, dipahami, dan dimaklumi. Hanya berbekal pakaian yang paling rapi (karena umumnya pemilik kendaraan memilih joki yang relatif “bersih/rapi”), berdiri di lokasi tertentu, acungkan telunjuk kiri, atau telunjuk dan jari tengah, menanti calon konsumen. Untuk ibu-ibu, dapat sekaligus membawa serta anak balitanya agar dihargai dua kali lipat. Mereka bahkan mendapatkan bonus pengalaman merasakan nikmatnya menjadi penumpang beragam jenis kendaraan dari yang biasa hingga yang mewah, plus dibayar pula. Setelah mengantarkan konsumennya, mereka akan kembali lagi dengan menggunakan kendaraan umum ke tempat semula, stand by kembali, acungkan telunjuk lagi. Penghasilan mereka cukup lumayan, melebihi UMR Jakarta, dengan jadwal kerja yang singkat dan untuk ibu-ibu masih bisa menyesuaikan dengan pekerjaan rumah tangga lainnya. Pernah iseng tanya, ternyata sang joki telah mengantungi uang Rp 80.000,00, padahal jam masih di angka 9 pagi. Dia tinggal pulang, dan melakukan pekerjaan lainnya.

Kebijakan 3 in 1 sudah diterapkan sejak  lama, sejak terbitnya Keputusan Gubernur DKI No. 2054 Tahun 2004. Tentunya dan seharusnya sudah dilakukan evaluasi. Hasilnya? Mungkin karena belum ada alternatif kebijakan pengganti, kebijakan 3 in 1 masih berlaku. Berbagai wacana alternatif kebijakan pembatasan kendaraan telah didengungkan. Mulai ERP seperti di Singapura, penerapan penggunaan sistem nomor ganjil genap, hingga kemungkinan penerapan kebijakan 5 in 1. Belum ada satupun yang digongkan. Namun menurut hemat saya, kebijakan pembatasan tidak akan efektif. Salah satu alasannya, kembali ke tulisan awal. Orang Jakarta “sangat kreatif”. Warga akan berusaha untuk mensiasati bolongnya sebuah kebijakan publik. Mengakali kelemahan sebuah kebijakan publik. Misal, jika penerapan ganjil genap diterapkan, akan berlomba mengganti dan mengatur plat nomor kendaraan plus stikernya. Kebijakan ini membutuhkan pengawasan ketat dan baik dari penegak hukum.

Evaluasi dan uji coba penghapusan 3 in 1 telah dilakukan. Contohnya di Ruas Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Pintu Besar Selatan. Setelah uji coba selama satu bulan, kebijakan 3 in 1 dicabut mulai 12 Oktober 2012. Untuk ruas Gajah Mada dan Hayam Wuruk, lebih efektif jika diberlakukan kebijakan larangan parkir liar di sepanjang jalan. Larangan on street parking. Setelah larangan parkir di jalan diterapkan, kebijakan 3 in 1 pun dihentikan.

Kawasan 3 in 1 tinggal meliputi 5 ruas jalan, yaitu Jalan Sisingamangaraja, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Medan Merdeka Barat, dan sebagian Jalan Jenderal Gatot Subroto, yaitu antara persimpangan Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Gerbang Pemuda sampai persimpangan jalan dengan Jalan HR. Rasuna Said. Tetap dengan waktu tiap pukul 07.00-10.00 dan pukul 16.30-19.00.

Bagaimana dengan ke lima ruas jalan di kawasan pembatasan penumpang tersebut? Hapuskan saja. Tidak efektif.  Fokuskan pada perbaikan dan peningkatan angkutan publik, pada transportasi massal. Tetap konsisten dengan perbaikan dan penambahan transportasi massal. Kerahkan daya dan upaya sekuat tenaga untuk memperbaiki transportasi publik. Siasati dan gunakan anggaran untuk transportasi massal. Lupakan kebijakan pembatasan penumpang atau pembatasan kendaraan seperti ganjil genap, 3 in 1, 5 in 1, ERP, dan sejenisnya. Tidak akan efektif untuk Jakarta. Intinya, tidak perlu membuang anggaran yang tidak perlu untuk pembatasan penumpang dan kendaraan. Tetap konsentrasi penuh pada perbaikan dan peningkatan layanan angkutan publik.

Tetaplah konsisten untuk menggarap, menseriusi, memusatkan perhatian, mengumpulkan energi penuh untuk pengadaan dan perbaikan transportasi publik.  Mulai dari hal yang pasti. Tambahkan armada Transjakarta, lakukan sterilisasi jalur transjakarta, lakukan terus peremajaan bis kota, metromini, dan kopaja, tambahkan dan perbaiki layanan KRL. Tingkatkan pelayanan angkutan publik. Sambil tetap merintis, mengusahakan, dan melaksanakan kelanjutan monorel dan MRT. Memang harus ada transportasi publik yang mumpuni, minimal layak, aman, nyaman, dan senantiasa ada. Agar pemilik kendaraan pribadi mau dengan sukarela berpindah ke angkutan publik. Jangan biarkan calon penumpang menunggu lebih dari 10 menit, kalau bisa, jangan lebih dari 5 menit.  Semoga. (Del).

Advertisements

2 thoughts on “Hapuskan Saja 3 in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s