Jokowi pun Enggan Mikir Soal Pengemis

Bulan Ramadhan telah tiba. Bulan yang dikenal sebagai bulan penuh berkah dan ampunan telah hadir.  Satu hal yang menarik, Bulan Ramadhan juga identik dengan menjamurnya pengemis musiman, pengemis yang hanya muncul di Bulan Ramadhan. Pengemis yang “memanfaatkan” umat yang seakan sedang berlomba untuk beramal, berbuat baik, dan mengumpulkan pahala. Bulan Ramadhan identik dengan menjamurnya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), yaitu pengemis, gelandangan, pemulung, yang memanfaatkan bulan suci untuk mendapatkan rejeki, bekal Idul Fitri.

Pengemis di Bulan Ramadhan.
Sumber Foto: http://www.jejakpost.com

Tiap tahun gelombang pengemis berdatangan dari sekitar Kota Jakarta, dari Jabodetabekpunjur, bahkan tidak sedikit yang berasal dari kota-kota lainnya. Tiap tahun pula Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan Razia PMKS, Razia Gepeng, razia pengemis, atau apapun istilahnya. Tidak tanggung-tanggung, tidak hanya dirazia, tapi sekaligus pula difasilitasi untuk diantarkan pulang ke kampungnya masing-masing. Efektifkah tindakan yang dilakukan? Berhasilkah upaya yang dikerjakan? Ternyata tidak. Tahun depan, pasti akan datang kembali, bahkan mungkin dengan jumlah yang lebih banyak.

Pulang kerja tadi, sekilas menonton tayangan di TV, narasumbernya ibu dari Dinas Sosial Pemerintah DKI Jakarta. Beliau dengan kepercayaan diri tinggi, dengan tingkat keyakinan penuh, mengatakan bahwa dinasnya telah melakukan razia untuk mengatasi para PMKS, para pengemis musiman, dan memulangkan mereka ke daerahnya masing-masing. Ratusan orang telah terjaring razia. Tindakan razia dan pemulangan PMKS sudah kerap dilakukan, rutin tahunan dilaksanakan. Sudahkah dievaluasi? Sudah dicek keberhasilannya?

Jokowi pun enggan untuk memikirkan cara mengatasi PMKS di Jakarta. Bukan tanpa alasan. Beliau secara tidak langsung, secara halus, sebenarnya tengah menyindir pihak-pihak yang seharusnya bertugas dan bertanggung jawab. Seharusnya Dinas Sosial memiliki cara yang lain, yang lebih efektif, dengan belajar dari pengalaman sebelumnya. Beliau sebenarnya hendak mengatakan bahwa jika dengan cara razia dan pemulangan PMKS yang telah rutin dilakukan tidak berhasil, cari cara lainnya. Perlu cara yang berbeda, perlu inovasi, perlu gebrakan lain. Tidak monoton dan itu-itu saja, padahal sudah terbukti tidak efektif. Berikan beberapa usulan dan ide ke Jokowi, dan Jokowi tinggal memilihnya. Semoga pihak Dinas Sosial dan Satpol PP paham.

Untuk mengatasinya memang perlu melihat permasalahan secara menyeluruh, secara komprehensif. Diperlukan upaya untuk melihat akar permasalahannya. Mengemis sekarang ini sudah bisa dikatakan sebagai pekerjaan. Juga sebagai budaya, ini yang lebih gawat. Ketika budaya mengemis sudah melekat, akan lebih sulit lagi untuk mengatasinya. Tentunya ini juga sangat terkait dengan hasil mengemis yang banyak disinyalir jauh lebih besar dari pendapatan seorang pekerja. Inilah realita. Pelan-pelan tapi pasti, memupuk budaya malas dan meminta-minta dengan memanfaatkan kemurahhatian dan belas kasihan orang lain. Bahkan yang lebih ironis lagi, terkadang para mahasiswa pun menerapkan pola yang sama dengan pengemis, walau dengan tujuan berbeda sekalipun. Sering kita temui para mahasiswa menggalang dana di lampu-lampu merah, mirip pengemis. Ada yang salah.

Jadi bagaimana cara mengatasinya?  Ah… saya pun sedang malas mikir. Kita beri kesempatan dulu buat Dinas Sosial dan Satpol PP untuk berfikir. Sekarang sudah malam, waktunya tidur. Siapa tahu besok punya ide.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s