Beruk, Nasibmu Sungguh Buruk

Walaupun pesta Pameran Flora dan Fauna 2013 yang diselenggarakan di Lapangan Banteng telah berakhir, masih ada yang tertinggal, yang patut ditulis, dan diceritakan. Tatapan mata itu. Sungguh memelas hati, memiris kalbu, menyesakkan, sulit dilupakan. Tetap terbawa hingga kini. Mungkin ini juga perlu penuangan, meski hanya berupa tulisan.

Beberapa beruk kecil dalam satu kerangkeng, geraknya sangat terbatas. Sungguh ironis. Mereka yang biasanya di alam liar, harus berdempetan dalam satu terali. Lagi-lagi, tatapannya sangat melekat. Memilukan. Sepertinya, mata ini tak kuasa untuk menatap lebih lama.

Beruk-beruk Kecil, Terkerangkeng

Di alam bebas dan liar, perilaku beruk sangat berbeda. Biasanya mereka hidup berkoloni, berkelompok, dan bersama-sama. Beruk pun dengan mudah dapat ditemui di hutan-hutan wisata, misal di Sangeh, Bali. Atau juga di Pariaman, Sumatera Barat. Di sana bahkan kita dapat menemukan sekolah beruk.

Jika kita melihat tingkah polah beruk, sungguh menarik. Bersama rekan-rekannya, mereka senang turun untuk sekedar menemukan buah-buahan yang tercecer jatuh. Atau juga sering saling mencari kutu dari kepala sesamanya. Atau juga menggendong bayinya sambil berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya. Atau saling berkejaran di antara pohon seperti Tarzan. Atau bertingkah nakal dengan mencuri properti milik pengunjung. Hidup mereka seakan hanya didedikasikan untuk bermain dan bercanda.

Beruk-beruk kecil seakan berkata, “Aku ingin bebas…..”

Sangat kontras jika dibandingkan dengan beruk yang ada di Pameran Flona 2013. Mereka terkerangkeng dan diperjualbelikan. Ketika coba tanya ke penjualnya, beruk-beruk ini dijual di kisaran harga Rp. 600.000,00 hingga Rp. 2.000.000,00 tergantung besar kecilnya. Penjualan beruk memang tidak hanya terjadi di Pameran Flona ini saja. Bahkan di Pariaman, Sumatera Barat pun terjadi.

Beruk memang hewan yang cukup pintar. Bisa dilatih dan diberdayagunakan, sebagai pemetik kelapa seperti di Pariaman sana. Untuk menjadi sang pemetik kelapa, beruk terlebih dahulu harus melewati proses pelatihan. Beruk yang dilatih biasanya yang betina dan yang masih muda karena kalau yang jantan umumnya susah dilatih dan galak.

Kembali lagi ke beruk di Flona. Sungguh sayang, beruk yang ditemui di Pameran Flona ini masih belum melalui proses pelatihan. Beruk-beruk yang diperdagangkan di Flona umumnya masih kecil. Mungkin juga masih sangat membutuhkan belaian bundanya. Mereka seakan ingin meneriakkan kata atau setidaknya mengumandangkan lagu “Aku ingin bebas, lepas, jauh… Aku ingin senantiasa, merasa bahagia….”. Seperti lagunya Indra Lesmana. Itu juga kalau beruk-beruk itu mengenalnya. Ah mana mereka kenal lagu itu. Itu kan lagu jadul banget. Mereka pasti belum lahir.  🙂 . Beruk, nasibmu sungguh buruk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s