Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan

Bantaeng? Di manakah itu? Bantaeng adalah sebuah kota kecil berjarak sekitar 125 km ke arah selatan dari Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kaki Pulau Sulawesi. Memiliki pantai yang ada di bagian Selatan Pulau Sulawesi. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke Kota Bantaeng. Melewati wilayah Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Tapi tidak perlu khawatir, jalanannya cukup mulus, licin, sangat bersih, dan beraspal hotmix. Hanya tersendat ketika melewati pasar-pasar yang ada di pinggir jalan.

Jalanan di Kota Bantaeng, mulus, bersih.
Sumber foto: http://www.id.wikipedia.org

Begitu memasuki Kota Bantaeng, terasa sesuatu yang berbeda. Kota ini demikian bersih, tertata apik. Jalanan cukup mulus, nyaris tak ada lubang yang menghadang. Sepanjang jalan menuju ibukota Kabupaten Bantaeng sangatlah sulit untuk menemukan sampah tergeletak. Sangat susah  untuk menemukan bekas gelas air mineral satupun, apalagi dalam bentuk onggokan. Tidak ada sama sekali. WOW, menakjubkan.

Jadi teringat Kevin Lynch di bukunya yang bertitel Good City Form, 1981.  Lynch mengawali tulisan dalam bukunya dengan kalimat, “What makes a good city?”. Kevin Lynch bertanya dan berupaya untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui keterkaitan antara nilai kota dengan karakteristik spasialnya. Melalui dimensi kinerjanya (dimensions of performance). Untuk mengetesnya, Lynch mengusung 5 kriteria ditambah dengan 2 meta kriteria, yaitu vitality, sense, fit,  access, control, ditambah efficiency dan justice. Tak perlu berpanjang membahasnya satu persatu, tapi hasilnya, yakin sudah mendekati.

Seorang rekan yang merupakan penduduk Bantaeng bercerita, “Coba pura-pura pingsan saja di Kota Bantaeng, pasti dalam waktu kurang dari setengah jam, ambulance akan datang, saya jamin itu”. Pikir dalam hati, ah masa? Lagian, buat apa juga? Itu pasti karena dia merupakan kerabat dekat Bupatinya. Berada di lingkaran dalam sang Bupati. Pasti dia akan membanggakannya. Tapi akhirnya percaya karena begitu lewat ke depan rumah sakitnya, deretan armada penunjang kesehatan tampak jelas.

Pantai Seruni, Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Sumber Foto: http://www.independen.co

Bantaeng mengandalkan sektor pertanian, walau sekarang mulai pula menggarap pariwisata. Sebagian besar penduduknya petani. Di sepanjang perjalanan, terpapar dengan jelas hamparan sawah, bahkan di tepi pantai sekalipun. Masuk ke arah perdesaannya, deretan pohon kopi dan cengkeh seolah menyambut dengan ramah. Sangat subur. Sektor pariwisata juga tengah dipacu dengan kecepatan maksimal. Terdapat beberapa obyek wisata dan rekreasi pantai. Pantai Marina Korongbatu, Pantai Lamalaka, dan Pantai Seruni tengah giat-giatnya berdandan, berbedak, dan bergincu. Layaknya gadis yang tengah mekar. Hampir setiap sore hingga malam, Pantai Lamalaka dan Pantai Seruni ramai dikunjungi warga tidak hanya warga Bantaeng, namun juga dari Kabupaten Bulukumba maupun Jeneponto tetangganya. Kalau untuk sekedar menikmati pisang epe, pasti tersedia.

Kota Bantaeng memang layak diberikan anugrah Piala Adipura. Untuk tahun 2013 ini, Piala Adipura yang diperoleh merupakan kali yang ke tiga, plus 1 kali sertifikat adipura. Untuk kategori Kota Kecil, Bantaeng memang langganan juara dan Bantaeng layak untuk menerimanya. Kebersihan dan keindahan Kota Bantaeng tidak terlepas dari partisipasi dan kesadaran masyarakatnya. Juga andil pemimpinnya.

Siapakah pemimpin di balik keberhasilan Bantaeng? Dialah Prof. DR. Ir. HM. Nurdin Abdullah, M. Agr. Tanpa bermaksud untuk membandingkannya dengan Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, Nurdin Abdullah merupakan sosok lain dari Jokowi, namun dalam bentuk lain.

Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, periode 2008 hingga sekarang.
Sumber Foto: http://www.makassar.tribunnews.com

Jika Jokowi terkenal dengan gaya blusukannya, rasanya pegawai kebersihan di Kota Bantaeng atau petugas sapu jalanan di Kota Bantaeng pun tidak sulit untuk menemukan sosok Nurdin di jalanan. Pagi-pagi dengan bersepeda keliling kota, beliau pasti menyapa para penyapu jalan, para petugas kebersihan jalanan. Sosoknya sangat melekat di hati para laskar kebersihan. Beliau tidak segan untuk mengganjar hadiah bagi para petugas kebersihan jika dapat menjaga wilayah tugasnya masing-masing. Bahkan tahun ini, hadiah umroh diberikan pada petugas kebersihan yang paling jempol, selain hadiah lain tentunya. Bupati sendiri yang menilai. Beliau memang paling hafal siapa petugas kebersihan yang paling rajin dan paling jempolan dalam melaksanakan tugasnya. Alasannya sederhana, karena hobinya berjalan-jalan, baik jalan kaki maupun bersepeda.

Jika kebetulan melintas Bantaeng atau wilayah yang juga dikenal dengan sebutan wilayah Butta Toa Bantaeng, umumnya merasa ikut terbawa arus, terhipnotis. Tak ada kehendak untuk membuang sampah sembarangan, karena sayang mengotori jalanan yang sudah bersih. Rekan dari Bantaeng kembali berceloteh, “ Jangan buang sampah sembarangan, ini Bantaeng ya….”. Sepakat.

Bercerita sedikit tentang sosok Nurdin Abdullah, beliau sedang dalam masa kedua kepemimpinannya. Terpilih menjadi Bupati Bantaeng sejak tahun 2008, dan pada pilkada 2013 April yang lalu, meraih suara  82,71 % di antara para calon lainnya. Menang mutlak. Ini salah satu pertanda bahwa beliau masih sangat dipercaya rakyat untuk memimpin mereka.

Melihat Bantaeng saat ini memang seperti melihat gadis cantik yang tengah berdandan, berbedak, dan bergincu. Bertransformasi menjadi gadis yang lebih cantik lagi. Demi kesejahteraan masyarakatnya. Tentu.

Advertisements

7 thoughts on “Bantaeng Bak Gadis Cantik Tengah Berdandan

  1. hai, mbak deliana,
    perkenalkan nama saya shinta, dan sedang berencana ke bantaeng sebelum bulan puasa. apakah saya bisa meminta saran mengenai rencana perjalanan/itinerary seperti transportasi umum ke bantaeng dan tempat menginap?

    terima kasih banyak

    • Maaf, komentarnya baru saya balas, terlewat. Waktu itu saya berombongan ke Bantaengnya, sehingga sewa bis bersama. Hanya, kalau memang sendiri, kalau mau menggunakan angkutan umum/bis, cukup mudah. Banyak bis yang menuju sana. Atau yang lebih simple, sewa/rental mobil untuk menuju sana. Tidak terlalu jauh kok… Terima kasih sudah mampir. Salam

  2. Hallo Mbak Shinta.

    Bantaeng bisa dicapai dari Makassar melalui perjalanan darat (dengan kendaraan roda empat) sekitar 3 jam ke arah selatan melalui Gowa, Takalar, Jeneponto.

    Sepertinya kalau naik angkutan umum, banyak dari Terminal di Makassar. Sayang waktu itu saya menggunakan kendaraan sewaan sendiri. Bukan kendaraan umum. Tapi kalau mau sewa kendaraan sendiri dari Makassar, banyak kok rental kendaraan di sana.

    Mengenai penginapan di sana, saya juga gak bisa cerita banyak, karena kebetulan saya nginapnya di Makassar, tidak nginap di Bantaeng. Pulang pergi dari Makassar. Tapi ada beberapa penginapan yang representatif di Bantaeng, seperti Hotel Hotel Alam Jaya Jl. A. Mannapiang No. 40 , Hotel Ahriani Jl. Raya Lanto 39-41 Kabupaten Bantaeng.

    Demikian, terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s