13 Tradisi Seputar Lebaran Ala Jakarta

Lebaran sudah di depan mata, sudah tercium aroma wanginya, sudah terasa getarannya. Bahkan aroma libur semakin mengental dan mengkristal, menunggu habisnya masa penantian. Teman-teman yang merayakan, tengah bersibuk ria melakukan beragam persiapan. Teman-teman yang tidak turut merayakan, tetap bergembira menanti dan menyambutnya, karena mereka pun turut libur. Semua senang, semua ceria menanti saat Lebaran, dengan beragam persepsi dan cara.

Sejatinya Hari Raya Idul Fitri, atau yang populer dengan sebutan Hari Lebaran merupakan puncak perayaan di penghujung akhir rangkaian ibadah puasa bagi umat Muslim di Bulan Ramadhan. Saat Lebaran menghampiri, sejatinya umat Muslim saling bersilaturahmi, saling memaafkan, kembali Fitri.

Persiapan menyambut Lebaran pastinya berbeda di setiap tempat, sesuai dengan adat, istiadat, dan akar budayanya masing-masing. Lebaran tidak hanya dipandang sebagai suatu peristiwa besar keagamaan semata, tapi sekaligus sebuah budaya. Tidak salah jika menyimak lebih seksama, memberikan waktu untuk sedikit memperhatikan. Ternyata Jakarta pun menyimpan tradisi Lebaran yang cukup menarik. Sebenarnya beberapa tradisi berikut, tidak istimewa, bahkan terkadang kita tidak menyadarinya. Bahkan mungkin belum layak untuk dikatakan sebagai tradisi. Jakarta yang merupakan miniatur Indonesia dengan beragam latar budaya para penghuninya tentu menyimpan cerita seputar Lebaran. Berikut sebagian di antaranya:

1.   Pasar Ketupat Palmerah

Bagi sebagian besar penikmat ketupat, Lebaran tanpa ketupat bagaikan sayur tanpa garam, terasa tawar dan hambar. Tidak memiliki greget. Belum afdol rasanya bila Lebaran tanpa adanya hidangan ketupat. Ketupat sudah menjadi icon, menjadi simbol Lebaran, menjadi sebuah budaya. Menganyam ketupat sendiri tentunya membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, belum lagi masalah daun kelapa yang dibutuhkan sebagai bahan anyaman. Beragam hidangan Lebaran memang membutuhkan sentuhan ketupat. Rendang, opor ayam, lontong sayur, sate, dan olahan makanan khas Lebaran lainnya, sangat berjodoh dengan ketupat.

Tak usah khawatir, di jaman serba praktis dan serba simpel seperti sekarang, tidak perlu repot. Datang saja ke kawasan Palmerah di Jakarta Barat. Pasti tidak akan pusing. Di sana telah menanti ratusan pembuat ketupat yang seolah menjadi pemandangan unik. Pasar Ketupat Palmerah tidak terlalu jauh dari Pasar Bunga Rawabelong. Pasar Bunga Rawabelong juga tidak kalah pamor dari Pasar Palmerah. Pasar Rawabelong diserbu oleh pembeli bunga untuk keperluan Lebaran, karena seperti halnya ketupat, bunga pun dibutuhkan untuk mempercantik rumah maupun bingkisan di hari nan fitri.

Gambar

Ketupat untuk Lebaran.
Sumber Foto: http://www.kfk.kompas.com

2.  Pasar Parcel Cikini

Warga yang telah lama tinggal di Jakarta tentunya tidak asing dengan Kawasan Cikini. Selain terkenal sebagai pusat perdagangan emas, Cikini juga dikenal luas sebagai pusat penjualan keranjang parsel. Tidak hanya keranjangnya saja, juga berikut isinya. Pusat penjualan parcel Cikini berada tepat di lantai bawah Stasiun Cikini. Aneka pengrajin keranjang parcel selalu diserbu para pengunjung dan pembeli terutama saat menjelang datangnya Hari Raya. Walaupun KPK telah mewanti-wanti melarang, terutama untuk menghindari gratifikasi, namun tidak akan menghapuskan tradisi parcel sama sekali. KPK toh hanya melarang pemberian dan penerimaan parcel yang mengindikasikan ada udang di balik batunya. Selebihnya, jika itu memang untuk kerabat, teman, saudara, dan bukan untuk tujuan buruk, atau berharap balas, dipersilakan.

Gambar

Pasar Parcel Cikini, Jakarta.
Sumber Foto: http://www.dat.tribunnews.com

Aneka jenis, bentuk, dan ukuran parcel diperjual belikan di bawah Stasiun Cikini. Mulai dari yang bergaya konvensional, berisi tumpukan makanan yang tertata rapi dan terhias indah, hingga parcel yang super mewah berisi perhiasan kristal nan mahal, ada di sana. Mulai dari yang kecil hingga yang sebesar gaban, mulai yang murah hingga yang berharga jutaan rupiah, semua tersedia. Semua tergantung selera dan kocek yang ada. Tidak perlu risau, kemasan parcel di Pasar Parsel Cikini kualitasnya setara dengan yang dijual di mall ternama.

3.   Laundry Kiloan

Pembantu mudik? Asisten pulang? Warga Jakarta terbantu dengan menjamurnya kios-kios laundry kiloan.Laundry kiloan tumbuh bak jamur di musim hujan, subur ijo royo-royo. Membantu keluarga yang tengah ditinggal mudik sang asisten rumah tangga, terutama di musim mudik Lebaran. Khusus untuk musim libur Lebaran, kios laundry kiloan justru tengah panen, tengah menangguk untung besar.Mereka jeli melihat peluang keluarga yang tengah ditinggal pergi para pencucinya.Di  saatpeak season seperti musim Libur Lebaran ini, laundry kiloan terkadang merasa di atas angin. Mereka bisa mematok harga lebih tinggi dibandingkan biasanya.Juga waktu penyelesaian yang lebih lama. “Baru selesai 10 hari yang akan datang Bu…., karena banyak sekali yang masuk”. Apa mau dikata, konsumen tetap setuju. “Daripada waktu untuk bersama anak-anak menjadi berkurang, lebih baik menggunakan jasa laundry kiloan”.Itu salah satu alasannya.

4.  Pembantu  Infal

Beragam pilihan yang ditawarkan dan dipilih oleh warga Jakarta untuk mensiasati mudiknya sang asisten rumah tangga. Ada yang hanya perlu untuk menggunakan jasa laundry kiloan saja, namun ada juga yang merasa perlu untuk mendatangkan pasukan darurat di hari-hari menjelang hingga beberapa hari setelah Lebaran. Salah satunya adalah pilihan untuk menggunakan jasa pembantu infal. Pembantu infal yang dimaksud di sini adalah pembantu sementara yang berfungsi menggantikan sementara pembantu permanen. Karena sifatnya sementara, pembantu infal ini hanya bertugas sesuai dengan kebutuhan saja. Biasanya pengguna jasanya harus merogoh kocek lebih dalam karena tarif pembantu infal bisa berkali-kali lipat dari tarif pembantu biasa. Umumnya mereka mematok tarif harian. Terkadang banyak yang justru dimanfaatkan untuk mencari penghasilan tambahan bagi pembantu. “Saya nanti saja pulangnya setelah Lebaran, sekarang saya infal dulu”. Pintar juga.

Mereka pintar, kita pun harus lebih pintar. Untuk menghindari penipuan yang berkedok pembantu infal, kita harus cermat dan lebih pintar. Sebelum menggunakan jasa pembantu infal, pelajari dulu rekam jejak perusahaan penyalurnya. Simpan barang berharga di tempat yang lebih aman, perlu ekstra waspada daripada sesal kemudian.

5.   Midnight Sale

Uang Tunjangan Hari Raya (THR) telah di tangan. Beragam kebutuhan spesial turut hadir dalam anggaran. Sah saja, karena ini hari yang spesial, hanya hadir satu tahun sekali. Banyak terdapat permakluman, maklum untuk oleh-oleh orang tua saat mudik, maklum untuk beli baju Lebaran, maklum untuk membahagiakan sanak saudara, pacar, mantan pacar, mertua, dan beragam permakluman lainnya. Tradisi ini ditangkap dengan cerdas oleh pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta. Ditanggapi dengan jeli oleh pemilik mal-mal ternama di Jakarta. Menjelang Hari Raya, bertebaran promo dari mall-mall ternama, bahkan memperpanjang waktu operasionalnya hingga tengah malam. Beragam judul dan tawarannya. Ada yang mengusung Midnight Sale, Late Night Sale, dan seterusnya.

Tidak berhenti di sana, penawaran menggiurkan disertai pula dengan potongan harga, walau tak dapat dipungkiri, mungkin sebagian telah menaikkan harganya terlebih dahulu sebelum potongan harga. Masyarakat tentu tergoda. Dengan THR di tangan, semua terasa terjangkau. Sensasi berbelanja di tengah malam menjadi sebagian gaya hidup warga ibu kota. Sampai terheran-heran, jam 10 malam Jalan Jenderal Sudirman di seputaran Semanggi masih macet. Usut punya usut, ternyata ada midnight sale di pusat perbelanjaan Plaza Senayan dan beberapa mall terkenal lainnya.

6.    Penuhnya Food Court

Ini juga bisa dikatakan tradisi ketika hari-hari menjelang Lebaran hingga beberapa hari setelah Lebaran. Food court maupun restoran-restoran di Jakarta penuh sesak. Warga Jakarta yang tengah ditinggal para asisten rumah tangganya tidak mau repot-repot memasak. “Kita makan di luar saja, sambil jalan-jalan”. Itu yang sering jadi alasan. Food court di supermarket maupun mall-mall selalu disesaki oleh pengunjung. “Sekalian wisata kuliner. Buat apa repot-repot memasak dan mencuci peralatan sehabis memasak, mendingan kita cari makan di luar saja”. Mungkin tidak berlaku untuk semua keluarga Jakarta, namun kenyataannya, tengoklah restoran-restoran dan food court-food court di mall-mall, selalu penuh terisi.

7.     Menginap di Hotel

Pilihan lain bagi keluarga-keluarga yang tidak ingin direpotkan dan disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga. Ada sebagian orang yang memilih untuk mengungsi ke hotel. “Lebih baik tingal di hotel, lebih terjamin, tidak perlu membereskan rumah, tidak perlu mencuci pakaian, kita pun ingin menikmati liburan dengan tenang”. Sah juga, toh ini juga sebuah pilihan. Mungkin tidak berlaku untuk sebagian keluarga, karena banyak pula yang tetap memiliki pandangan “Rumahku adalah Surgaku”. Namun, sebagian keluarga Jakarta memelihara tradisi menginap di hotel ketika masa-masa Libur Lebaran. Banyak alasan yang dikemukakan. Semua tergantung pilihan, juga tergantung selera dan fulus di kantong.

8.     Naiknya harga emas

Entah ada kaitannya atau tidak. Setiap menjelang Hari Lebaran, harga emas pasti naik. Mungkin terkait dengan pandangan sebagian warga. Tradisi mudik bagi sebagian warga disikapi pula dengan ajang pertunjukan diri. Ajang untuk membanggakan diri atas kesuksesannya di Jakarta. Salah satu simbolnya adalah dengan beragam perhiasan emas di badan, terutama untuk kaum hawa. Sebagian masih menganggap kerabat di kampung akan lebih memandang mereka jika mereka berhiaskan emas. Turunnya harga emas beberapa waktu yang lalu, berubah haluan menjelang Hari Lebaran. Harga emas terpantau naik secara konstan. Maksudnya, naik terus menjelang Lebaran.

Gambar

Harga emas turut terdongkrak naik menjelang Lebaran.
Sumber Foto: http://www.actual.co

Pasar Emas Cikini, Pasar Emas Melawai, Atrium, dan lokasi-lokasi sentra penjualan emas lainnya di Jakarta ramai diserbu pembeli. Mereka tidak perduli dengan naiknya harga emas. Emas harus terbeli. Namun, sekali lagi ini untuk sebagian orang. Mungkin tidak berlaku untuk yang lainnya. Tapi fakta membuktikan, toko-toko emas diserbu pembeli.

Hal yang sama juga terjadi pada dealer-dealer dan tempat-tempat penjualan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Ini juga menjadi simbol kesuksesan bagi sebagian orang. Dealer-dealer dituju warga Jakarta. Beli kendaraan baru untuk dibawa mudik nanti.

9.   Tiket ludes

Kalau tradisi yang satu ini selalu dan tidak pernah lekang oleh waktu. Setiap tahun, menjelang Libur Lebaran, bahkan  jauh hari sebelum Lebaran, tiket sudah habis terjual. Harga tiket pesawat, tiket kereta api, tiket bis menjadi dambaan bagi pemudik. Harga mahal menjadi persoalan ke dua. Yang penting dapat tiket mudik, dapat berkumpul bersama sanak keluarga di kampong. Itu yang lebih penting. Tiliklah harga tiket pesawat, bisa naik hingga 2-3 kali lipat. “Ah, itu masih wajar kok”. Itulah, orang Indonesia, penuh dengan permakluman. “Maklum lagi musim Lebaran”.

10.   Jasa Tukar Uang

Tradisi memberi uang kecil, maksudnya memberi uang recehan, uang dengan nominal kecil pada ponakan, cucu, tetangga, dan kerabat ternyata menumbuhkan bisnis baru bagi sebagian orang di Jakarta. Para penjual jasa tukar uang mulai berkeliaran beberapa waktu menjelang Hari Lebaran.  Tentunya dengan tambahan uang jasanya. Mereka memanfaatkan kebutuhan warga akan uang dengan nominal yang lebih kecil. Biasanya, nominal yang dicari adalah Rp. 5.000,00, Rp. 10.000,00 maupun Rp. 20.000,00. Jakarta memang surga bagi orang-orang yang kreatif, pintar melihat peluang.  Warga sebetulnya bisa memanfaatkan jasa penukaran uang secara resmi, baik itu di bank, maupun mobil-mobil yang melayani penukaran uang. Tapi, memang lebih mudah menggunakan jasa mereka.

11.   Mudik Bersama

Tradisi mudik bersama atau mudik bareng sudah terpelihara sejak dulu. Jakarta pun demikian, bahkan Jakarta telah menjadi pelopor tradisi mudik bersama. Sebuah perusahaan jamu terkenal sudah memulai dan melanggengkan tradisi mudik bersama sejak hitungan puluhan tahun yang lalu. Tradisi ini juga telah diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya, bahkan oleh beberapa Kementerian dan Lembaga yang ada di Jakarta, bahkan oleh para pengelola radio swasta sekalipun.

Mereka umumnya membaginya berdasarkan tujuan mudik favorit. Bagus juga, sekaligus untuk mengurangi kemacetan akibat begitu banyaknya mobil pribadi yang bermudik ria. Jika kolektif, tentunya akan lebih efektif.

12.   Open house pejabat

Tradisi open house pejabat turut mewarnai Jakarta. Banyak pejabat yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk menerima tamu, handai taulan, kerabat, sanak saudara, kolega, dan sebagainya, dan seterusnya. Tidak perlu terlalu berburuk sangka, dapat saja memang tujuannya mulia, untuk menjalin silaturahmi, saling bermaafan, kembali fitri.

13.   Jakarta lengang

Horee… Jakarta lengang. Ini yang paling saya suka. Tradisi ini yang jadi favorit. Masa-masa musim Lebaran sekaligus menjadi masa istirahat dan rehat sejenak bagi Jakarta. Waktu yang sempurna bagi Jakarta untuk menarik nafas sejenak, dari kesibukan dan kepenatan rutin yang menerpa. Memberikan kesempatan bagi Jakarta untuk melepaskan bebannya sementara dari kemacetan lalu lintas, dari polusi udara. Memberikan kesempatan bagi warga yang tertinggal di Jakarta untuk menghirup udara yang sedikit lebih baik. Inilah sebenarnya waktu terbaik untuk menikmati Jakarta yang lebih bersih, Jakarta yang lebih baik.

Jadi sebenarnya, Jakarta tidak memerlukan ahli transportasi handal untuk mengurai kemacetan Jakarta. Tidak memerlukan ahli lingkungan mumpuni untuk mengurangi polusi Jakarta. Yang diperlukan adalah Hari Lebaran. Hari Lebaran hadir, kemacetan akan sirna. Udara akan sedikit lebih layak hirup. Hehehe… kalimat di paragraf ini sekedar candaan. Abaikan saja.

Demikianlah 13 tradisi seputar Lebaran ala Jakarta yang selalu melekat dengan masa-masa seputar Lebaran. Mungkin sebagian besar juga sudah diamini yang lain. Manakah yang menjadi favorit anda? Mana saja yang juga dilakukan? Mungkin ada pula yang terlupakan, yang terlewat. Jika ada yang terlewat dan terlupakan, silakan tambahkan. Mungkin bukan hanya 13 tradisi seputar Lebaran ala Jakarta, mungkin bisa jadi ada 15, 20, 25 ? Silakan… (Del)

Advertisements

Sutra Sengkang Ingin Senantiasa Melenggang

Mungkin belum banyak yang mengenal Sengkang. Sengkang adalah kota kecil ibu kota Kabupaten Wajo yang berjarak sekitar 250 km dari Makassar ke arah utara. Kota Sengkang dapat ditempuh dari Makassar sekitar 5-6 jam perjalanan darat dengan menyusur jalur lintas Barat Sulawesi melewati Kota Maros, Pangkajene, Barru, Pare-Pare, Pinrang, dan Sidenreng Rappang. Namun tidak perlu terlalu khawatir, walaupun suasana sepanjang jalan sudah ramai, jalanan menuju ke sana relatif mulus. Hanya mengalami keterhambatan di beberapa spot keramaian saja.

Menyebut Kabupaten Wajo, ingatan langsung tertuju pada Danau Tempe dan Sutra. Dua hal ini memang melekat erat dan terkait mesra dengan Kabupaten Wajo. Kota Sengkang selaku ibu kota Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan,  merupakan kota kecil yang tengah sibuk menata diri, menghibur hati, mencoba merajut senyum kembali setelah selama tidak  kurang dari 2 minggu berkutat dengan banjir, akibat meluapnya Danau Tempe. Bukan semata meluap, namun luapan akibat pendangkalan Danau Tempe. Danau Tempe merupakan danau yang berlokasi di bagian sebelah Barat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Hanya berjarak sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju Sungai Walanae. Danau ini merupakan salah satu danau tektonik di Indonesia. Ribuan rumah di sekitar Danau Tempe terendam banjir akibat meluapnya Danau Tempe. Dampaknya tidak hanya untuk Kabupaten Wajo saja, namun juga merembet ke tiga Kabupaten sekitarnya, yaitu Sidrap (Sidenreng Rappang), Soppeng, dan Bone. Air menggenangi rumah-rumah penduduk dengan ketinggian berkisar setengah hingga 3 m.

Gambar

Banjir akibat meluapnya Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Kota Sengkang memang belum terlalu populer, belum sering terdengar. Tapi ternyata di kota kecil tersebut juga menyimpan potensi yang tak kalah indah dan menarik. Kota ini merupakan surga bagi penggemar sutra, sentra utama kerajinan sutra di Indonesia Timur. Bagi orang yang sering berbelanja oleh-oleh di sepanjang Jalan Somba Opu, Makassar, tentu tidak asing dengan deretan kain sutra yang terpajang rapi di toko-toko souvenir. Dari Sengkang lah, sutra-sutra itu bermula.

Gambar

Tumpukan sutra di sentra penjualan sutra Sengkang, Kabupaten Wajo

Sutra dan Wajo seakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Hampir seluruh warga kota tidak asing dengan kerajinan sutra. Bahkan warga mengakrabi proses pemeliharaan ulat sutra di rumah masing-masing. Jika kita menengok Kecamatan Sabbangparu, hampir semua bagian bawah rumah, bagian kolong rumah penduduk sekaligus juga berfungsi sebagai kandang ulat sutra. Bagi mereka ulat sutra sudah menjadi bagian hidup, kehidupan, dan penghidupan mereka. Sudah pula menjadi bagian dari budaya. Kondisi tanah di Kabupaten Wajo turut mendukung dan sangat menunjang kelancaran penanaman pohon murbei yang merupakan pakan utama ulat sutra. Bagi gadis Wajo, kepiawaian menenun menjadi prasyarat wajib. “Bukan gadis Sengkang kalau tidak bisa menenun” tetap menjadi tagline yang selalu digaungkan masyarakat Wajo.

Gambar

Tenun dan Sutra sudah menjadi nafas kehidupan Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Cobalah mampir ke sentra kerajinan sutra di Kabupaten Wajo. Untaian benang sutra telah menjelma indah menjadi bentangan kain dengan beragam motif dan corak. Selain corak dan motifnya yang khas, para perajin juga masih banyak yang tetap menggunakan bahan alami untuk pewarnaannya. Biasanya mereka menggunakan getah beragam pohon, pucuk daun mangga, daun pandan, atau kunyit untuk memperkaya warna pada motif kain.

Namun sayangnya para perajin terganjal oleh masalah pemasaran. Karena kurang mumpuni dalam hal pemasaran, kain-kain itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal yang selanjutnya menimba keuntungan besar dengan memasarkannya ke manca negara.  Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah asal sama-sama diuntungkan dengan kadar yang wajar. Keuntungan selayaknya dirasakan pula oleh para penenun. Agar sutra Sengkang tetap senantiasa melenggang mengikuti langkah pemakainya. Agar senyum para perajin tenun sutra di Kota Sengkang tetap terajut indah. Agar duka akibat banjir Danau Tempe tidak terlalu menyesakkan hati mereka. Agar harapan dan asa mereka tetap terjaga. (Del)

Si Cantik Sumba Timur

Sumba Timur memang cantik. Sayangnya belum banyak yang tahu. Perlu promosi. Sumba Timur masih nampak bagai gadis yang pemalu. Malu untuk mempertontonkan kecantikannya. Malu untuk membanggakan diri. Tapi mungkin itu pula yang membuatnya semakin menarik. Mengundang orang untuk mencari tahu lebih lanjut.

Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Sumba terletak di bagian barat daya Pulau Timor, tempat Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur terletak. Pulau Sumba memiliki empat kabupaten, yaitu Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Pesona wisata yang dimiliki pulau Sumba merata di setiap kabupaten di pulau Sumba.

Gambar

Bandara Umbu Mehang Kunda

Ibu kota Kabupaten Sumba Timur adalah Waingapu. Untuk mencapai Kota Waingapu dari Jakarta, terdapat 2 pilihan. Bisa melalui Kota Denpasar dengan rute Jakarta-Denpasar-Waingapu, maupun melalui Kota Kupang dengan rute Jakarta-Kupang-Waingapu. Terdapat Bandara Umbu Mehang Kunda yang siap menyambut kedatangan. Berkat keberadaan Bandara Umbu Mehang Kunda, Sumba Timur kini menjadi pintu masuk utama pulau Sumba. Bandara Umbu Mehang Kunda, seperti halnya bandara kecil lainnya, sangat sederhana. Tidak ada conveyor berjalan yang mengantarkan barang bagasi. Hanya ada jendela yang sekaligus berfungsi sebagai tempat mengantarkan bagasi. Penumpang bahkan tidak memerlukan detektor yang berlebihan untuk keluar masuk Bandara.

Gambar

Proses penurunan bagasi di Bandara Umbu Mehang Kunda, Sumba Timur

Jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang ada di Pulau Sumba, Sumba Timur relatif lebih mudah dijangkau baik melalui udara maupun laut karena memiliki bandara dan pelabuhan yang cukup memadai.

Gambar

Runway bandara Umbu Mehang Kunda dari atas bukit

Pulau Sumba memiliki topografi berbukit dengan padang savana yang indah dan sangat luas. Sepanjang mata memandang, hamparan rumput seakan menjadi surga bagi para sapi, kerbau, babi, kuda, kambing, dan hewan ternak lainnya. Topografinya yang berbukit pula yang menjadikan Sumba Timur sangat menawan, berpadu manis dengan liukan sungai dan lembah.

Gambar

Sungai di Sekitar Bandara, tampak dari atas bukit, sungguh indah

Gambar

Sungai tampak dari atas bukit

Pemandangan indah sudah dapat kita temui di puncak bukit. Lampu-lampu kendaraan dari kejauhan terlihat mengular membentuk barisan. Ternyata Sumba Timur pun memiliki jam tidur yang sangat larut. Sebagian makhluk tetap hidup, tetap menikmati malam.

Gambar

Deretan pohon kehi yang meranggas, kering, namun nampak eksotis.
Sumber foto: Koleksi Tri Agustin

Sumba Timur selain cantik, juga sangat eksotis. Di musim kemarau sekalipun, tetap menarik untuk dilihat. Di antara deretan pohon kehi (pohon angsana) yang meranggas tanpa daun, Sumba tetap menampakkan keeksotisannya. Pohon kehi yang terbaris rapi, mempertontonkan liukan dahan dan ranting yang indah. Cuaca terik dan panas membakar, seakan terbayar ketika melihat indahnya alam.

Tidak hanya itu saja. Potensi wisata Sumba Timur terdistribusi secara merata di seluruh wilayah. Kita bisa menikmati keindahan Pantai Puru Kambera, Pantai Tarimbang, dan Pandai Londalima. Pantainya masih sangat jauh dari kata tercemar. Semoga tetap terjaga demikian.

Gambar

Makam di Kampung Adat Pray Liu

Cerita tentang keeksotisan Sumba Timur tidak lepas dari pesona budaya dan pesona alam dari ujung barat daya hingga ujung timur Pulau Sumba. Budaya yang lekat dengan Sumba Timur tetap lestari hingga sekarang. Terdapat beberapa kampung adat, atau permukiman adat di Sumba Timur. Contohnya di kampung adat Pray Liu. Di tempat ini terdapat pula makam batu, tempat dimakamkannya kerabat dan saudara. Di sana banyak pula para penjual kain tenun yang menjadi ciri khas Sumba.

Gambar

Nenek penjual kain tenun khas Sumba

Sumba Timur tetap dengan kecantikannya. Untuk lebih mempercantik diri, Sumba Timur perlu sentuhan promosi, perlu menjual diri dalam arti positif. Sumba Timur tidak kalah dengan keindahan dan keunikan lokasi wisata Iainnya. Supaya potensi wisata yang memukau bisa diketahui luas, tentunya patut diiringi dengan pembenahan kondisi sarana dan prasarana penunjangnya. Misal perbaikan dan pengembangan akses transportasi ke pusat-pusat wisata, pelayanan jasa perhotelan, seni pertunjukan yang dikemas menarik, serta gerakan wisata lainnya untuk kemajuan ekonomi daerah.

Geliat arah potensi wisata Sumba Timur sudah semakin jelas dan semakin terang. Potensi wisata Pulau Sumba perlu dicermati dan dikelola dengan seksama dan penuh rasa tanggung jawab. Tentunya agar dampak positifnya terasa hingga seluruh lapisan warga. Tidak hanya untuk satu golongan maupun satu kepentingan tertentu saja. (Del)

Kuota Impor Daging Sapi dan Sumba Timur

Harga daging sapi yang tak kunjung turun membuat SBY marah. SBY marah, semua sibuk. Jajaran menteri dan pejabat-pejabat di bawahnya seakan berlomba untuk mengambil inisiatif, melakukan tindakan dan kebijakan, demi memuaskan sang bos. Semua bagaikan kebakaran jenggot. Bahkan yang tidak memiliki jenggot pun ikut terbakar, tersengat, dan tergopoh. Ada menteri yang langsung sibuk menstabilkan  harga, ada yang melakukan upaya percepatan impor, ada yang langsung menugaskan Bulog untuk impor sapi, ada juga yang cepat mengamankan posisi. Yang terakhir, mungkin supaya tidak terpental dari kursi.

Gambar

Sapi Sumba Timur
Sumber Foto: Koleksi Tri Agustin

Sapi memang seksi, sehingga semua urus sapi. Semua terlihat terburu-buru mengambil langkah, walau banyaknya hanya langkah sesaat semata. Langkah untuk jangka pendek, langkah tanggap darurat. Belum ada langkah untuk jangka panjang. Artikel ini tidak mengulas tentang penambahan kuota impor sapi atau tentang carut marut impor sapi atau tentang aktor-aktor pelaku penyelewengan impor sapi, beserta bumbu-bumbu penyedap di sekelilingnya. Melalui tulisan ini saya ingin mengajak kita untuk lebih memikirkan solusi jangka panjang. Toh para pembantu Presiden sudah banyak yang melakukan tindakan darurat jangka pendek. Walau hasilnya belum signifikan.

SBY dan para menterinya tentu tahu dan pasti tahu, kebijakan impor bukan solusi jangka panjang. Terlebih pemerintah telah mematok target swasembada daging pada tahun 2014. Salah satu solusi jangka panjangnya adalah memacu produksi daging sapi dalam negeri. Supaya tidak bergantung pada sapi impor. Supaya tidak terbeban penyelewengan kuota. Supaya tidak terganjal mahalnya harga sapi.  Solusi jangka panjang tersebut membutuhkan waktu dan keseriusan. Juga membutuhkan pengeroyokan dalam penanganan.

Mari kita sejenak menengok Sumba Timur. Ada apa dengan Sumba Timur? Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain alamnya yang indah, Sumba Timur menyimpan potensi besar. Potensi yang belum tergarap serius, belum tersentuh sempurna. Salah satunya adalah potensi peternakan sapi.

Kebetulan, minggu lalu dari tanggal 21 hingga 24 Juli 2013, mendapatkan tugas berkunjung ke Sumba Timur. Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, dapat dijangkau dari Jakarta melalui perjalanan udara Jakarta-Denpasar-Waingapu atau melalui perjalanan udara Jakarta-Kupang-Waingapu. Kota Waingapu telah memiliki Bandara Umbu Mehang Kunda yang melayani perjalanan ke Kota Kupang, Denpasar, Tambolaka, maupun kota-kota lainnya di luar Pulau Sumba.

Jangan heran jika jalan-jalan ke arah Timur Kota Waingapu, yaitu ke arah Kecamatan Pandawai, Kecamatan Umalulu, Kecamatan Kahaungu Eti, dan Kecamatan Rindi, kita akan disuguhi pemandangan hamparan padang rumput, hamparan savana, surganya para sapi. Sepanjang mata memandang, tampak gerombolan sapi yang mandiri, mencari makan sendiri, mencari minum sendiri, dan pulang ke kandang sendiri. Di kala siang terik, di sinilah tempatnya kita menemukan populasi ternak sapi yang berkeliaran jauh lebih banyak dibandingkan manusia yang lalu lalang. Ke manakah para penduduknya? Mungkin orang-orang sedang istirahat di rumah karena sapi-sapi itu tidak memerlukan gembala. Mereka bisa mencari makanannya sendiri. Sempat terbersit tanya, “Kok tidak takut sapinya dicuri?”. Menurut penduduk sana, masing-masing sapi telah diberi tanda inisial pemiliknya berupa tato di badannya dan para sapi tersebut tahu jalan pulangnya sendiri. Sapi-sapi di Sumba Timur memang pintar, sudah terbiasa mencari makan sendiri, mencari sungai untuk minum sendiri, dan pulang ke kandangnya masing-masing ketika sore menjelang.

Sektor peternakan di Sumba Timur memegang peran penting, menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk Sumba Timur. Sejak dahulu, Sumba Timur dikenal sebagai pusat penangkaran dan perdagangan ternak, terutama sapi. Sapi yang banyak terdapat di Sumba Timur merupakan jenis sapi ongole yang asalnya dari India. Sapi ongole dari India itu sekarang biakannya dikenal sebagai ras Sumba Ongole.

Inilah salah satu solusi jangka panjangnya. Seriusi Sumba Timur. Keroyok Sumba Timur. Gali dan kembangkan potensi yang ada di Sumba Timur. Sumba Timur memiliki potensi yang tidak kalah dibandingkan dengan Australia. Presiden SBY bukannya tidak sadar akan potensi Sumba Timur. Bahkan SBY sudah mulai menginisiasinya sejak tahun lalu. Hanya memang gaungnya tidak berlanjut hingga kini. Semakin hari gaungnya semakin samar terdengar. Tidak lagi menggelegar dan membahana.

Masih terekam dalam catatan, tanggal 4 Juli 2012 SBY melakukan kunjungan ke Waingapu. Berkunjung ke Desa Moubokul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Kunjungan SBY dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil kunjungan beliau ke Australia dalam rangka membicarakan kerja sama investasi peternakan sapi. Kunjungan ke Waingapu untuk mengembangkan peternakan sapi di Nusa Tenggara Timur. Setidaknya, beliau sudah menginisiasi peluang untuk memacu produksi daging sapi dalam negeri. Hanya memang gaungnya perlu diperdengarkan lagi. Saat ini makin sayup. Perlu dibangunkan kembali.

Yang menjadi masalah terbesar dalam pengembangan peternakan sapi di Sumba Timur adalah masalah air. Curah hujan di Sumba Timur rendah. Hanya memiliki hujan kurang lebih selama 3 bulan saja.  Diperlukan pembangunan sistem irigasi, sistem embung, pemanfaatan potensi mata air, dan pemanfaatan sumur bor (air tanah). Namun semua ini bukan hal yang mustahil, hanya perlu rekayasa teknologi.

Selain permasalahan ketersediaan air, juga perlu keseriusan dalam pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Baing, pelabuhan yang dapat menjadi outlet produksi sapi. Tahun 2012, Kementerian Perhubungan telah menggelontorkan ada APBN nya untuk pembangunan Pelabuhan Baing.

Yang tak kalah penting mungkin adalah pengenalan pengelolaan ternak menggunakan sistem paronisasi. Maksudnya peternakan sapi dengan sistem kandang, tidak dibiarkan berkeliaran mencari makanan sendiri. Juga pembiakan atau pembudi dayaan rumput untuk pakan ternak. Karena dengan sistem seperti sekarang, ketika musim kemarau, ternak-ternak sapi sangat kurus, sangat menyedihkan, sangat memprihatinkan.  Pada kunjungan pertama ke Sumba Timur, Oktober 2012, jelas terlihat.

Gambar

Sapi-sapi terlihat sangat kurus ketika musim kemarau
Sumber Foto: Koleksi Tri Agustin

Saat ini di Desa Matawai Maringu, Kecamatan Kahaungu Eti telah terdapat Breeding Centre. Di area breeding centre seluas 500 Ha. memang belum menerapkan sistem paronisasi seutuhnya. Sistem peternakan yang diterapkan masih sama dengan peternakan tradisional, yaitu digembalakan. Ternak yang dikandangkan hanya ternak kualitas unggulan untuk pembibitan. Di tempat ini pun mulai dikenalkan pengolahan limbah sapi menjadi biogas dan terdapat area pengembangan tumbuhan untuk pakan ternak.

Jadi, apalagi yang ditunggu? Segera seriusi Sumba Timur, keroyok penanganan segala macam permasalahannya, tuntaskan penanganannya. Jangan hanya sibuk urusi kuota impor daging sapi. Seriusi pula solusi jangka panjangnya. (Del)

Jangan Membuat Poso Semakin Nelongso

Terus terang, kala mendengar Poso, yang terbersit di benak dan yang tercetus di bibir, “Amankah? Sudah kondusifkah? Sudah layak kunjungkah?”. Ketika mendapatkan tugas ke Poso, tentunya itu pula yang pertama muncul.  Tapi tugas tetap harus terlaksana.

Bandara Kasiguncu Poso
Sumber Foto: http://rahmanandra.blogspot.com/

Mendarat di Bandara Kasiguncu, mulai terasa aroma kesederhanaan sebuah bandara kecil. Proses pengambilan bagasi hanya dilakukan melalui sebuah jendela. Begitu sederhana. Tidak ada yang namanya conveyor panjang dan berputar seperti layaknya sebuah bandara. Bahkan ketika pulang, penumpang bebas keluar masuk pintu detektor. Sangat tidak terjaga dengan baik, sekaligus mencerminkan kesederhanaan. Namun, menurut keterangan pejabat pemerintah setempat, tahun 2013 ini, pemerintah melalui Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah mengucurkan dana untuk pengembangan Bandara Kasiguncu Poso, terutama untuk pekerjaan taxy way dan pembangunan terminal bandara. Semoga bisa lebih aman dan nyaman karena akan sangat menunjang pembangunan dan pengembangan Kabupaten Poso, supaya tidak semakin nelongso, terpuruk oleh beragam pemberitaan buruk. Dengan peningkatan fasilitas bandara Kasiguncu, diharapkan tidak hanya masyarakat Kabupaten Poso saja yang dapat menikmati, tapi juga masyarakat Parigi Moutong, Tojo Una Una, dan Morowali. Kabupaten sekitar Poso dapat menggunakan Bandara Kasiguncu untuk keluar daerah.

Bagaimana Poso tidak nelongso? Coba ketikkan kata “Poso” di kotak pencarian gambar di Google, yang muncul adalah gambar-gambar menyeramkan, gambar-gambar korban kekerasan, gambar-gambar tentara dan polisi dengan senjata lengkap, serta gambar-gambar muka orang yang konon katanya teroris. Sangat menyeramkan. Sangat berbeda jika kita mengetikkan kata “Jakarta” di kotak pencarian gambar yang sama. Walau Jakarta sering dicerca namun tetap dirindu dan dihuni, yang muncul setidaknya masih gambar-gambar indah tentang monas, gedung-gedung tinggi, skyline Jakarta, dan gambar-gambar indah lainnya.

Pertanyaan yang sama seperti di awal tulisan, saya ajukan pula secara langsung kepada Wakil Bupati Poso, Ir. T. Syamsuri, MSi., “Amankah?”. Jawabnya, ”Tenang Bu, aman, silakan buktikan sendiri selama di sini”. Terima kasih.  Bapak Ir. T. Syamsuri, MSi. bersama dengan Bupati Drs. Piet Inkiriwang, MM memimpin Poso untuk periode 2010-2015.

Terlalu banyak pemberitaan buruk yang beredar di media. Pemberitaan dilakukan berulang-ulang dan terlalu bombastis. Patut diakui, Itulah salah satu kekuatan media. Bisa menolong sekaligus pula membuat lebih terpuruk. Peristiwa di Poso mengundang derasnya arus pemberitaan pada tataran lokal maupun nasional. Gaungnya bahkan sampai internasional. Situasi demikian tentunya memiliki implikasi terhadap kegiatan pembangunan maupun pelayanan kemasyarakatan. Seharusnya media lebih proporsional, lebih berimbang, dan pemberitaannya tidak hanya bersifat penuh nada provokasi.

Ini pula yang tercetus dari obrolan dengan salah satu rekan di Poso. Terkadang media tidak melihat secara langsung, hanya mendengar dan melihat dari satu sudut pandang saja. Sebenarnya masyarakat Poso sudah jenuh akan provokasi-provokasi. Sudah bosan mendengar dan melihat pemberitaan yang tidak sepenuhnya benar. Seakan kiamat telah terjadi di Poso. Padahal tidak demikian. Jangan biarkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, pihak-pihak yang senang bila Poso tetap bergolak, pihak-pihak yang diuntungkan bila Poso goyang, terus menancapkan kukunya.

Rekan tadi melanjutkan, “Cerita di luar saja yang aneh-aneh. Memang ada kejadian bom, tapi sekarang sudah aman kembali, jangan usik dengan pemberitaan lain yang tidak sepenuhnya benar. Kami ingin tenang”.

Bahkan, ada sebuah desa, yaitu Desa Meko, yang mewujudkan niat tulusnya untuk membantu warga muslim di desa tersebut yang notabene warga minoritas. Warga membangunkan mesjid bagi kaum muslim di sana. Desa Meko berjarak sekitar 70 kilometer sebelah selatan ibu kota Kabupaten Poso. Letaknya di sebelah timur tepian danau Poso. Desa ini merupakan ibu kota dari Pamona Barat. Jika mengacu pada syarat yang berlaku, pendirian rumah ibadah harus sekitar 60 orang dan itu tidak berlaku di sana.  Walau hanya 17 keluarga, mesjid tetap harus dibangun. Semua orang berhak untuk beribadah. Warga non muslim bahu membahu membantu membangun mesjid dan rindu untuk hidup berdampingan bersama.  Walaupun mayoritas agama Kristen dan Hindu, mereka mau membantu mewujudkan rumah ibadah bagi kaum muslim untuk mempererat persaudaraan, perdamaian, dan toleransi antar umat beragama. Begitu pula sebaliknya, kaum muslim membantu kaum kristiani membangunkan gereja.

Jadi, mari, jangan buat pemberitaan yang tidak berimbang, yang provokatif, yang semakin membuat Poso terpuruk. Jangan membuat Poso semakin nelongso. (Del)

Pemindahan Ibu Kota Negara : Hanya Tinggal Wacana?

Itulah Indonesia. Beragam permasalahan, beragam wacana dilempar ke area publik tanpa ada akhir yang tuntas, tanpa hasil yang paripurna. Tidak sulit untuk mencari beragam permasalahan yang seakan hanya digantung, menunggu menguap terbawa angin, lalu terlupakan karena munculnya aneka permasalahan lainnya. Menanti meledak terlebih dahulu agar kembali menyedot perhatian. Agar kembali seksi untuk dibahas dan dijadikan komoditi berita.

Masih terekam jelas dalam ingatan, Presiden SBY sendiri yang melontarkan wacana tentang pemindahan ibu kota negara, saat berbuka puasa bersama Kadin, 3 September 2010. Tiga tahun yang lalu, kantor staf khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah memetakan adanya tiga skenario perpindahan ibu kota (Antara News, 3 September 2010):

  1. Skenario realistis, yaitu ibu kota tetap di Jakarta namun dengan pilihan kebijakan untuk menata, membenahi, dan memerbaiki berbagai persoalan Jakarta, seperti kemacetan, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan urban, banjir, maupun tata ruang wilayah;
  2. Skenario moderat, yaitu pusat pemerintahan dipisahkan dari ibu kota negara. Artinya, Jakarta akan tetap diletakkan sebagai ibu kota negara karena faktor historis, namun pusat pemerintahan akan digeser atau dipindahkan ke lokasi baru;
  3. Skenario radikal, yaitu membangun ibu kota negara yang baru dan menetapkan pusat pemerintahan baru di luar wilayah Jakarta, sedangkan Jakarta hanya dijadikan sebagai pusat bisnis. Skenario radikal memerlukan strategi perencanaan yang komprehensif dengan berbagai opsi penentuan calon ibu kota baru.

Saat ini, Jakarta bersama dengan kota-kota di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang telah menjadi sebuah kawasan megapolitan Jabodetabek. Hampir semua markas utama perusahaan besar nasional maupun multi-nasional berlokasi di Jakarta. Jakarta telah memposisikan dirinya sebagai pusat perdagangan dan jasa.

Kota memang merupakan aglomerasi ekonomi, tempat segala fungsi ekonomi terkumpul. Semakin besar kota, semakin banyak pula variasi ekonomi yang ada di dalamnya. Kota tidak hanya menyandang 1 fungsi saja, misalnya sebagai kota dengan fungsi pariwisata saja atau kota pendidikan saja.  Jika meminjam prinsip lingkungan, semakin tinggi tingkat keanekaragaman, maka akan semakin sustain. Yang membedakan kota yang satu dengan yang lainnya selain besaran kotanya, juga lokasinya. Misalnya, jika lokasinya berada di tempat dengan potensi wisata yang tinggi, maka akan ada tambahan fungsi pariwisata atau ciri khas lainnya yang membedakan.

Kota Jakarta, selain memiliki fungsi sebagai Ibu kota Negara RI, juga memiliki beragam fungsi yang disandangnya. Kota Jakarta berkembang pesat menjadi konsentrasi kegiatan jasa, finansial, perkantoran, bisnis, pariwisata, sementara kegiatan industri dan permukiman berkembang di pinggir kota. Konversi lahan  di pusat kota banyak terjadi dari perumahan menjadi kawasan bisnis. Di pinggir kota, konversi terjadi dari lahan pertanian subur beririgasi menjadi kawasan industri serta permukiman dan kota-kota baru. Beban Jakarta menjadi berat dan tidak sesuai lagi dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya.

Pertanyaannya : Apakah Jakarta masih layak menjadi pusat pemerintahan? Apakah dekatnya pusat bisnis dengan pusat pemerintahan berdampak buruk? Apakah memang perlu untuk memindahkan ibu kota RI ke luar wilayah Jakarta? Ah, kok banyak nanya? Kita hanya butuh jawaban dan penjelasan.

Hingga saat ini saya memang belum menemukan literatur yang cukup tegas menentukan syarat sebuah ibu kota. Namun banyak tulisan yang memberikan gambaran berdasarkan pengalaman pemindahan ibu kota yang pernah terjadi di negara-negara lain dengan berbagai pertimbangan. Bisa dikatakan tidak ada alasan yang benar benar sama dari pemindahan sebuah ibu kota negara.

Sejarah Perjalanan Lokasi Ibu Kota Negara RI

Dilihat dari perjalanan sejarahnya, Indonesia telah mengalami beberapa kali pemindahan ibu kota negara pada waktu kepemimpinan Presiden Soekarno. Indonesia terpaksa mengalami pemindahan ibu kota untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

Sejak jaman penjajahan Hindia Belanda, Jakarta memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Jakarta menjadi pilihan paling realistis kala itu karena Kota Jakarta telah terbentuk sehingga tinggal mengembangkannya melalui pembangunan infrastruktur. Pusat pemerintahan terpaksa berpindah ke Yogyakarta menyusul adanya pendudukan Belanda di Jakarta. Pusat pemerintahan sempat pula pindah sementara ke Bukittinggi pada 19 Desember 1948-6 Juli 1949 namun kembali lagi ke Yogyakarta sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Pemindahan ibu kota ke Bukittinggi terpaksa dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI menyusul pendudukan Belanda di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta.

Selain itu, Soekarno juga pernah mewacanakan agar ibu kota negara dipindah ke Kota Palangkaraya (Kalimantan Tengah). Alasannya karena letak Palangkaraya yang cukup strategis, berada di tengah-tengah Indonesia. Selain itu, juga karena pertimbangan pemerataan pembangunan.

Pengalaman Pemindahan Ibu Kota Negara di Negara Lain

Jika melihat beberapa negara lain di luar negeri, banyak yang memiliki perbedaan antara kota dagang dan ibu kota. Negara-negara tersebut menjadikan sebuah kota megalopolitan terpisah dari pemerintahan. Sebagai contoh Jerman menjadikan Frankfurt sebagai kota dagang dan Berlin sebagai Ibu Kota. Australia menjadikan Sydney sebagai kota jasa dan Canberra sebagai Ibu Kota. Atau Amerika Serikat yang menjadikan New York sebagai kota bisnis dan Washington DC sebagai Ibu Kota.

Negara di Asia lainnya pun semakin ingin mengurangi peran ibu kota sebagai kota bisnis. Seperti China yang mulai mengembangkan kota bisnis selain Beijing seperti Shenzen, Ghuanzou, dan Shanghai. Sehingga, pada akhirnya beban Beijing semakin berkurang sebagai pusat ekonomi dan bisa fokus sebagai pusat pemerintahan.

Dari beberapa contoh di atas, hal terpenting yang harus menjadi bahan pertimbangan adalah kelayakan Kota Jakarta maupun calon lokasi ibu kota yang diusulkan. Harus dilakukan kajian yang mendalam dan komprehensif terhadap Kota Jakarta, baik dari sisi spasial, sosial, kependudukan, daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ibu kota merupakan simbol dari sebuah negara. Paris dan London dipilih oleh Romawi sebagai ibu kota karena alasan pertahanan. Banyak ibu kota negara yang berada di tepi laut yang kemudian berkembang menjadi kota pelabuhan karena pada jaman dulu, laut merupakan simbol kekuatan pertahanan dan peperangan.

Faktor koordinat lokasi juga menjadi bahan pertimbangan. Ibu kota diharapkan terletak di tengah/pusat dalam konteks wilayah suatu negara. Walaupun mungkin tidak terlalu berlaku saat ini. Dengan adanya arus perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, lokasi dapat mengambil tempat di mana saja.

Solusi yang diusulkan

Saya mencoba mengemukakan sedikit sumbang saran/usulan terkait dengan wacana pemindahan ibu kota negara RI, yaitu:

  1. Pemindahan ibu kota Negara perlu telaahan yang mendalam. Jika masalah utamanya adalah kemacetan lalu lintas, pemindahan ibu kota Negara tidak dapat dijadikan solusi. Ini hanya akan memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat yang lain. Beberapa alternatif lokasi untuk memindahkan ibu kota negara memang pernah diwacanakan, namun masih diperlukan kajian yang lebih mendalam untuk menentukan di mana dan kapan realisasi pemindahannya. Jika untuk membenahi masalah kemacetan lalulintas, solusinya tentu dengan membenahi sistem transportasi dan tata ruang kota yang sudah akut. Sumber permasalahan yang ada sekarang adalah terjadinya penumpukan kegiatan ekonomi, khususnya jasa, perdagangan, keuangan, dan industri, bukan pada keberadaan kegiatan pemerintahan semata. Secara lebih tegas lagi, upaya mengurangi kemacetan dan penumpukan di Jakarta serta keinginan untuk memindahkan ibu kota dan penataan pusat pemerintahan adalah dua hal (issues) yang sangat berbeda;
  2. Dari ketiga opsi wacana pemindahan ibu kota negara, perlu tambahan satu opsi lagi, yaitu pembagian fungsi kegiatan ekonomi  ke lokasi lainnya. Yang dipindahkan bukan ibu kota negara tapi mewujudkan kota-kota lain yang dapat dijadikan alternatif pusat kegiatan ekonomi. Diperlukan upaya lebih serius lagi untuk menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru di wilayah lain. Selain untuk menghindari beban yang semakin berat di Pulau Jawa, juga untuk aspek pemerataan atau solusi terhadap isu ketimpangan wilayah. Jika hanya dilakukan pemisahan ibu kota negara dan pusat pemerintahan di lokasi yang tidak terlalu jauh, tidak akan menyelesaikan masalah kerumitan Jakarta. Para pegawai dan pejabat pemerintah hanya akan bekerja di Jonggol namun tetap tinggal di Kota Jakarta dan tetap menjadi beban Kota Jakarta.
  3. Lebih setuju dengan yang dilakukan oleh China. China tidak melakukan tindakan pemindahan ibu kota negaranya dari Beijing, namun mulai mengembangkan kota bisnis selain Beijing seperti Shenzen, Ghuanzou, dan Shanghai. Sehingga, pada akhirnya beban Beijing semakin berkurang sebagai pusat ekonomi dan bisa fokus sebagai pusat pemerintahan. Indonesia pun dapat melakukan hal yang sama. Indonesia dapat mengembangkan kota-kota bisnis lainnya di luar Jakarta, seperti halnya yang telah dilakukan terhadap beberapa kota di masa lalu, namun memang tidak tuntas, dan tidak memiliki hasil maksimal. Pengembangan Kota Batam, Kota Palangkaraya, Kota Makassar, atau Kota Ambon bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Opsi ini juga memang memerlukan waktu yang lama untuk mewujudkannya. China melakukan pengembangan Kota Shenzen sejak 30 tahun yang lalu dan baru terasa benar perkembangannya dalam dasawarsa terakhir ini. Sama halnya dengan Kota Batam, yang sudah memiliki rencana sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi, namun sekarang kurang gaungnya.
  4. Yang tak kalah penting adalah komitmen yang tinggi dari pemerintah untuk mewujudkan kebijakan tersebut. Perlu diatur dalam tataran Undang-Undang. Untuk mengembangkan pusat-pusat kegiatan ekonomi di luar Jakarta, diperlukan kebijakan dan Undang-undang yang mempertegas tentang hal tersebut. Perwujudan pusat-pusat kegiatan ekonomi di kota lain harus dilakukan dengan melibatkan partisipasi swasta (public-private partnership) tidak mengandalkan APBN saja, karena yang jelas akan banyak anggaran publik yang tersedot.

Penutup

Pada akhirnya keputusan apapun yang dibuat dapat dilakukan bila ada suatu tujuan nasional yang jelas dan merupakan konsensus bersama dan bukan merupakan keinginan dari satu kelompok elit yang memiliki kepentingan tertentu.

Pemindahan ibu kota tidak seharusnya dilakukan jika untuk upaya menanggulangi kemacetan dan penumpukan fungsi di Jakarta, karena pemindahan ibu kota saja tidak akan berdampak signifikan pada pemecahan masalah lalu lintas.

Upaya mendorong munculnya pusat-pusat kegiatan ekonomi lain di luar Jakarta, khususnya di luar Jawa pada gilirannya merupakan upaya untuk mengurangi dominasi perkembangan Kota Jakarta dan memacu pertumbuhan di luar Jawa. Namun hal ini memang perlu dilakukan  dengan perspektif jangka panjang dan bertahap, tidak mungkin dilakukan secara instan.

Jadi, akankah hanya berakhir pada tataran wacana? Itulah Indonesia. (Del)

Hapuskan Saja 3 in 1

Di satu sisi, kita patut memberikan acungan jempol, memberikan apresiasi. Orang Indonesia, terutama Jakarta memang kreatif. Kreatif dalam mensiasati dan melihat peluang dari bolongnya sebuah kebijakan publik. Mereka dapat menciptakan “lapangan pekerjaan” baru dari kelemahan sebuah kebijakan publik. Ada beragam “lapangan pekerjaan” baru yang tercipta hasil ide kreatif warga Jakarta yang berhubungan dengan transportasi. Salah satunya adalah joki 3 in 1, selain ojek atau juga omprengan tak resmi pribadi. Joki 3 in 1 hadir dan lekat dengan kehidupan Kota Jakarta. Lahir untuk mensiasati kebijakan pembatasan jumlah penumpang pada kendaraan pribadi. Ya, sejatinya memang kebijakan ini diterapkan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi dengan ujung tujuan untuk mengurai kemacetan Ibu Kota. Efektifkah? Ternyata tidak.

Para joki 3 in 1 tidak pernah berkurang. Berderet di sepanjang jalan, bahkan mengokupasi sebagian badan jalan. Dilakukan demi terlihat oleh calon konsumennya atau demi memenangkan persaingan di antara mereka sesama joki. Sangat membahayakan diri mereka dan pengguna jalan lainnya. Jumlahnya tidak berkurang setelah banyaknya razia sekalipun. Karena solusinya bukan razia. Kehadiran mereka ada dan akan tetap ada sepanjang demand nya ada dan mereka belum memperoleh alternatif pekerjaan lain semudah joki 3 in 1.

Joki 3 in 1.
Sumber Foto: http://www.kfk.kompas.com

Menarik jika memperhatikan para joki 3 in 1. Jika di luar negeri, biasanya yang terjadi adalah para pemilik kendaraan memberikan bantuan tumpangan dalam arti membantu para pencari tumpangan (hitchhikers) di pinggir jalan. Tidak demikian yang terjadi di Jakarta. Para joki yang justru membantu para pemilik kendaraan dan dibayar pula. Satu lagi yang membedakannya. Jika di luar negeri para pencari tumpangan ini mengacungkan ibu jari atau jempol tangannya, di Jakarta mengacungkan telunjuk kiri atau bahkan telunjuk dan jari tengahnya jika dia ibu dan anak balitanya. Menarik.

Sangat dimengerti, dipahami, dan dimaklumi. Hanya berbekal pakaian yang paling rapi (karena umumnya pemilik kendaraan memilih joki yang relatif “bersih/rapi”), berdiri di lokasi tertentu, acungkan telunjuk kiri, atau telunjuk dan jari tengah, menanti calon konsumen. Untuk ibu-ibu, dapat sekaligus membawa serta anak balitanya agar dihargai dua kali lipat. Mereka bahkan mendapatkan bonus pengalaman merasakan nikmatnya menjadi penumpang beragam jenis kendaraan dari yang biasa hingga yang mewah, plus dibayar pula. Setelah mengantarkan konsumennya, mereka akan kembali lagi dengan menggunakan kendaraan umum ke tempat semula, stand by kembali, acungkan telunjuk lagi. Penghasilan mereka cukup lumayan, melebihi UMR Jakarta, dengan jadwal kerja yang singkat dan untuk ibu-ibu masih bisa menyesuaikan dengan pekerjaan rumah tangga lainnya. Pernah iseng tanya, ternyata sang joki telah mengantungi uang Rp 80.000,00, padahal jam masih di angka 9 pagi. Dia tinggal pulang, dan melakukan pekerjaan lainnya.

Kebijakan 3 in 1 sudah diterapkan sejak  lama, sejak terbitnya Keputusan Gubernur DKI No. 2054 Tahun 2004. Tentunya dan seharusnya sudah dilakukan evaluasi. Hasilnya? Mungkin karena belum ada alternatif kebijakan pengganti, kebijakan 3 in 1 masih berlaku. Berbagai wacana alternatif kebijakan pembatasan kendaraan telah didengungkan. Mulai ERP seperti di Singapura, penerapan penggunaan sistem nomor ganjil genap, hingga kemungkinan penerapan kebijakan 5 in 1. Belum ada satupun yang digongkan. Namun menurut hemat saya, kebijakan pembatasan tidak akan efektif. Salah satu alasannya, kembali ke tulisan awal. Orang Jakarta “sangat kreatif”. Warga akan berusaha untuk mensiasati bolongnya sebuah kebijakan publik. Mengakali kelemahan sebuah kebijakan publik. Misal, jika penerapan ganjil genap diterapkan, akan berlomba mengganti dan mengatur plat nomor kendaraan plus stikernya. Kebijakan ini membutuhkan pengawasan ketat dan baik dari penegak hukum.

Evaluasi dan uji coba penghapusan 3 in 1 telah dilakukan. Contohnya di Ruas Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Pintu Besar Selatan. Setelah uji coba selama satu bulan, kebijakan 3 in 1 dicabut mulai 12 Oktober 2012. Untuk ruas Gajah Mada dan Hayam Wuruk, lebih efektif jika diberlakukan kebijakan larangan parkir liar di sepanjang jalan. Larangan on street parking. Setelah larangan parkir di jalan diterapkan, kebijakan 3 in 1 pun dihentikan.

Kawasan 3 in 1 tinggal meliputi 5 ruas jalan, yaitu Jalan Sisingamangaraja, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Medan Merdeka Barat, dan sebagian Jalan Jenderal Gatot Subroto, yaitu antara persimpangan Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Gerbang Pemuda sampai persimpangan jalan dengan Jalan HR. Rasuna Said. Tetap dengan waktu tiap pukul 07.00-10.00 dan pukul 16.30-19.00.

Bagaimana dengan ke lima ruas jalan di kawasan pembatasan penumpang tersebut? Hapuskan saja. Tidak efektif.  Fokuskan pada perbaikan dan peningkatan angkutan publik, pada transportasi massal. Tetap konsisten dengan perbaikan dan penambahan transportasi massal. Kerahkan daya dan upaya sekuat tenaga untuk memperbaiki transportasi publik. Siasati dan gunakan anggaran untuk transportasi massal. Lupakan kebijakan pembatasan penumpang atau pembatasan kendaraan seperti ganjil genap, 3 in 1, 5 in 1, ERP, dan sejenisnya. Tidak akan efektif untuk Jakarta. Intinya, tidak perlu membuang anggaran yang tidak perlu untuk pembatasan penumpang dan kendaraan. Tetap konsentrasi penuh pada perbaikan dan peningkatan layanan angkutan publik.

Tetaplah konsisten untuk menggarap, menseriusi, memusatkan perhatian, mengumpulkan energi penuh untuk pengadaan dan perbaikan transportasi publik.  Mulai dari hal yang pasti. Tambahkan armada Transjakarta, lakukan sterilisasi jalur transjakarta, lakukan terus peremajaan bis kota, metromini, dan kopaja, tambahkan dan perbaiki layanan KRL. Tingkatkan pelayanan angkutan publik. Sambil tetap merintis, mengusahakan, dan melaksanakan kelanjutan monorel dan MRT. Memang harus ada transportasi publik yang mumpuni, minimal layak, aman, nyaman, dan senantiasa ada. Agar pemilik kendaraan pribadi mau dengan sukarela berpindah ke angkutan publik. Jangan biarkan calon penumpang menunggu lebih dari 10 menit, kalau bisa, jangan lebih dari 5 menit.  Semoga. (Del).