CR7 dan SBY Tanam Mangrove, Lulut Sudah Jauh di Depan

Rabu, 26 Juni 2013, di Taman Hutan Raya (Tahura) Telaga Waja, Benoa, Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo (CR7) melakukan penanaman mangrove. CR7 pun dinobatkan sebagai Duta Mangrove Indonesia. Kesediaan CR7 menjadi duta mangrove Indonesia tidak terlepas dari keprihatinannya setelah melihat kehancuran yang diakibatkan oleh bencana tsunami Aceh akhir tahun 2004 lalu. Pemain asal Portugal tersebut tidak ragu untuk mengambil andil agar tindakannya memberikan inspirasi bagi penyelamatan mangrove Indonesia.

Yang dilakukan oleh CR7 dan SBY sudah tepat, tidak salah, dan tidak keliru. Kita hanya berharap tindak lanjut, agar tidak hanya terhenti pada acara seremonial saja. Agar gaungnya lebih dahsyat lagi dan terasa di seluruh pelosok negeri. Terasa di sepanjang pantai Indonesia yang sungguh sangat panjang. Terasa dalam memperluas hutan mangrove Indonesia yang semakin tidak luas lagi. Semoga.

Tanpa mengecilkan arti tindakan yang dilakukan SBY dan CR7, tulisan ini hendak mengangkat langkah seorang Lulut Sri Yuliani, sosok yang telah jauh di depan dalam upaya pelestarian mangrove Indonesia. Sekedar oleh-oleh hasil dolanan ke Surabaya.

Siapakah Lulut Sri Yuliani? Seberapa pentingnyakah beliau sehingga perlu diangkat dalam tulisan? Mengapa diperbandingkan dengan CR7 dan SBY? Apa hubungannya? Apa korelasinya? Sudahlah, tak perlu banyak tanya, lanjutkan saja bacanya. *tersenyumlah…

Lulut Sri Yuliani
Sumber : http://www.ekonomi.kompas.com

Jika bertemu langsung dengan sosok Lulut Sri Yuliani, kesan pertama yang muncul adalah beliau sosok yang sangat sederhana, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, straight to the point. Setelah mendengarkan penjelasan sekilas tentang upaya pelestarian mangrove yang telah dilakoninya baru kita terperangah, terkagum-kagum, acungan jempol layak diberikan. Tanpa tedeng aling-aling, beliau langsung mengatakan, “Jika ingin tahu lebih banyak, serius untuk menjalani, silakan ikuti pelatihan kami. Jika tidak, lebih baik tidak usah. Pelatihan kami berbeda dengan pelatihan lainnya. Jika ketahuan ada yang tidak serius, kami tidak segan-segan untuk menghentikannya. Selesai pelatihan kami tetap melakukan monitoring agar pelatihan benar-benar bermanfaat”.

Produk Olahan Mangrove

Upaya yang dilakukan oleh Lulut Sri Yuliani dalam upaya melestarikan tanaman mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya memang luar biasa. Ibu Lulut langsung menerka apa yang ada di benak, yang menjadi keraguan kami. “Jangan berfikiran akan menemukan lokasi pengolahan mangrove dengan skala besar di sini. Kami lebih mementingkan pemberdayaan masyarakat sekitar”. Tempat pengolahan dan pembuatan produk-produk turunan mangrove yang dikomandoi oleh Ibu Lulut tersebar di sekitar kediamannya, di Kompleks Wisma Kedungasem Indah, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Semuanya skala rumahan, walaupun hasilnya melebihi itu. Selain tempat pembuatan batik mangrove yang berada di kediamannya sendiri, beliau juga menunjukkan rumah-rumah tempat pengolahan kerupuk mangrove, tempat pengolahan tempe mangrove, sirop mangrove, dll yang notabene merupakan tetangga-tetangganya. Tidak jauh dari kediamannya.

Perjuangan Ibu Lulut Sri Yuliani telah membuahkan hasil penghargaan Kalpataru tahun 2011 untuk kategori perintis lingkungan, namun itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana membaktikan diri pada masyarakat dan lingkungan. Itu jauh lebih mulia, jauh lebih bernilai. Sesuai dengan janjinya pada Sang Pencipta setelah mengalami mujizat yang luar biasa.

Awalnya Ibu Lulut membaktikan diri sebagai guru, mengajar di sejumlah sekolah dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMK Panglima Sudirman dan SMPK Prapanca 2 Surabaya. Namun tahun 1997 Ibu Lulut mengalami tragedi hidup yang berat. Tubuhnya lumpuh dan dokter telah menjatuhkan vonis bahwa hidupnya tidak akan lama. Aliran darahnya tidak normal dan pembuluh darahnya pecah. Tangan, kaki, dan bagian tubuh lain tidak dapat digerakkan lagi. Jika aliran darah tidak dapat mencapai otak, maka tamatlah sudah. Walau tekad untuk sembuh sangat kuat, sampai pula Ibu Lulut pada tahap pasrah karena semua upaya pengobatan yang dilakukan sia-sia. Ibu Lulut hanya berharap mujizat. Terlontar janji. “ Jika sembuh, saya akan mengabdikan diri pada alam dan masyarakat”. Tuhan Maha Mendengar, beliau sembuh. Dan janji harus ditepati. Untuk itu, sejak tahun 2007, sebagai Ketua Forum Peduli Lingkungan (FPL) Kecamatan Rungkut, beliau total mengabdikan diri untuk masyarakat dan lingkungan. Dari sinilah seorang Lulut Sri Yuliani bergerak nyata, walau sudah memulai sejak tahun 1996.

Beragam Hasil Produk Olahan Mangrove

Beliau menyadari bahwa upaya pelestarian lingkungan tidak dapat hanya menjaga dan merawatnya saja tapi juga harus memiliki nilai ekonomi bagi warga setempat. Hanya yang perlu ditekankan, jangan berfikir ekonomi terlebih dahulu. Yang utama tetap lingkungan. Beliau berfikir tentang cara memberdayakan masyarakat untuk peduli pada mangrove namun tetap memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Munculah beragam karya olahan mangrove dari tangannya. Dari tangannya mangrove dapat dioleh menjadi sirup, sabun cair, kerupuk, tepung, roti kering, permen, batik, dan banyak yang lainnya.

Ibu Lulut kemudian membentuk Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Griya Karya Tiara Kusuma untuk mempromosikan dan mendistribusikan produk olahan mangrove karya warga sekitar. Salah satu produk unggulannya adalah Seni Batik Mangrove Rungkut atau lebih dikenal dengan “Batik SeRU”. Apa yang membedakan Batik Seru dengan batik lainnya? Apa itu Batik Mangrove?

Batik Mangrove, Batik SeRU

Batik mangrove memiliki tema mangrove. Hutan mangrove dimanfaatkan sebagai dasar motif batik yang menarik. Tak hanya itu, prosesnya pun harus ramah lingkungan. Memakai pewarnaan alami. Setiap batik dibuat ekslusif, berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap perajin menciptakan komposisi desain sendiri. Ibu Lulut hanya menyiapkan pakemnya saja. Beliau ingin agar setiap karya itu orisinal, tidak menjiplak. Peserta pelatihan batik mangrove pun harus lepas dari pengaruh batik lainnya. Hasil kerja kerasnya telah diapresiasi. SBY dan Ibu Ani pun tak mau ketinggalan, sudah memesan langsung batik seru.

CR7 dan SBY telah memukul gong keberpihakan pada mangrove Indonesia. Namun gaungnya harus terus disuarakan, disebarluaskan, dan ditindak lanjuti. Agar tidak hanya berhenti dalam tataran seremonial saja. Tidak nanggung. Perlu Lulut-Lulut lain yang mengambil estafet keberpihakan pada lingkungan. Perlu langkah-langkah lanjutan. Langkah yang terus melaju ke depan. Tanpa seremonial belaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s