Kaledo dari Bumi Tadulako

Satu kuliner yang melekat erat dengan Kota Palu, KALEDO. Bagi yang belum pernah mendengar, tentu bertanya-tanya.  Apa itu Kaledo? Sejenis makanan apa itu? Kaledo merupakan makanan yang melekat erat dengan Kota Palu, dengan Bumi Tadulako, utamanya di Kabupaten Donggala.  Kaledo merupakan kependekan dari Kaki Lembu Donggala. Sesuai dengan namanya, berbahan dasar Kaki Lembu atau sapi, baik daging, lemak, maupun tulang dan sumsumnya.

Setiap kunjungan ke Kota Palu, selalu diajak untuk mencicipi Kaledo, karena ini lah ciri khasnya. Saat menyantapnya, jangan sekali-kali berpikir tentang kolesterol dan gangguan kesehatan lainnya, karena kolesterol dan teman-temannya hanya ada di laboratorium dan di rumah sakit saja. Kolesterol tidak ada di rumah makan kaledo. Jika pikiran kita sudah melayang pada kolesterol, hilanglah selera makan. Hilanglah nafsu untuk menyantap.

Gambar

Kaledo dari Bumi Tadulako

Yang perlu ditanamkan di benak ketika mencicipi kaledo adalah kenyataan bahwa sumsum tulang sapi memiliki khasiat yang tidak kalah hebat. Selain gurih rasanya, sumsum tulang sapi lembut di mulut. Sangat pas untuk menikmatinya kala masih panas. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa kaledo banyak penggemarnya. Konon katanya, sumsum tulang sangat baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak karena dapat meningkatkan kinerja otak. Anak dapat menjadi pintar dan aktif. Sumsum tulang juga dapat digunakan sebagai campuran kaldu sebagai penambah nafsu makan anak. Selain itu, khasiat lainnya adalah untuk membuat tulang dan gigi tetap kuat serta meningkatkan kekebalan tubuh.  Tapi itu kan untuk anak? Untuk dewasa?

Biasanya kita dihadapkan pada 2 pilihan, menyantapnya dengan nasi atau dengan singkong rebus. Silakan memilih sesuai selera. Kuah kaledo berwarna bening agak kekuningan, rasanya sedikit asam menyegarkan. Rasa asam berasal selain dari buah asam yang merupakan salah satu komponen pelengkap kaledo juga dari jeruk nipis yang dapat ditambahkan sesuka hati. Awalnya bingung, bagaimana cara menyantapnya? Yang disantap adalah daging-daging yang menempel di tulang juga sumsum tulang yang terdapat di dalam rongga tulang. Caranya, jika kaledo masih panas dan sumsum masih cair, dapat diseruput menggunakan sedotan. Sluuuurrrpp…!! Sukakah saya? Ternyata tidak… hehehe… mungkin masih terbayang lemak yang terkandung di dalamnya. Itulah salahnya.

Kaledo disajikan dengan singkong rebus

Bagaimana munculnya ide untuk mengolah tulang-belulang sapi menjadi olahan makanan yang digemari? Ternyata menurut pemilik rumah makan, ada ceritanya. Konon, jaman dulu ada seorang dermawan memotong sapi dan membagikannya. Orang Jawa sebagai orang yang pertama kali datang mendapatkan bagian daging sapi yang empuk, lalu mengolahnya menjadi bakso. Datanglah orang Makassar, karena tidak ada lagi daging, diambilnyalah jeroan/isi perut sapi dan diolah menjadi Coto Makassar. Orang Kaili yang merupakan penduduk asli Donggala datang terakhir dan yang tersisa hanya tulang dengan sedikit daging yang masih menempel. Orang Donggala ini beruntung tidak kehilangan akal. Mereka mengolahnya menjadi masakan. Terciptalah kaledo yang hingga saat ini menjadi masakan khas Sulawesi Tengah.

Walaupun menurut cerita di atas, kaki lembu dan tulang-tulangnya merupakan sisa, ternyata di Bumi Tadulako memiliki nilai tinggi. Berharga mahal. Bahkan menurut cerita, banyak kejadian mutilasi terhadap kaki lembu. Lembu dipotong hanya kakinya saja dan bagian lainnya ditinggalkan begitu saja. Lembu akhirnya mati kehabisan darah. Sungguh kejam, sekaligus ironis. Heuh….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s