BBM : Benar – Benar Meresahkan

Rencana kenaikan harga BBM (atau “penyesuaian”, seperti katanya pemerintah) tidak hanya satu kali ini terjadi, Sudah berkali-kali. Sudah sering kali. Namun sepertinya setiap kali ada rencana kenaikan, energi yang dikeluarkan lebih banyak pada energi sosial (social cost). Rencana kenaikan harga BBM seakan menjadi komoditi yang seksi. Yang menjadi alat tawar bagi pihak-pihak tertentu. Demi kepentingan masing-masing. Kepentingan tertentu.

Haruskah setiap ada rencana kenaikan harga BBM gonjang-ganjing terjadi? Haruskah gejolak terwujud? Saya sangat setuju dengan pendapat salah seorang tokoh. Hanya saya lupa siapa. Energi yang dikeluarkan dalam kurun waktu rencana kenaikan, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil/besaran dari kenaikan itu sendiri. Salah satunya bisa jadi dan sangat mungkin karena pucuk pimpinan kita selalu ragu, atau terlalu takut,  atau terlalu banyak pertimbangan, untuk mengambil keputusan.

Bisa dibayangkan. Berapa besar social cost yang harus dikeluarkan akibat demo, baik mendukung atau menolak, karena dampak rencana penyesuaian yang berlarut-larut. Belum lagi ditambah dengan social cost yang dikeluarkan pasca penyesuaian.

Saya tidak anti kenaikan harga BBM. Setuju malah. Hanya saja menyayangkan, mengapa untuk membuat keputusan ini saja, masyarakat harus dibuat terombang-ambing. Dibuat galau. Dibuat resah. Benar-benar Meresahkan. Mungkin karena seksi itu tadi.  Walau kenaikan harga belum terjadi, media banyak memberitakan kenaikan harga bahan pokok. Salah siapa?

Yang tidak kalah penting adalah supaya masyarakat lebih dapat menghargai energi fosil. Tidak membuangnya dengan percuma. Memang seperti lingkaran yang tidak ada putusnya. BBM murah, lonjakan jumlah kendaraan bermotor terjadi. Kemacetan melanda. Berapa BBM yang terbuang percuma?  

Tidak dapat dipungkiri, energi merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Selayaknya, sewajarnya, dan seharusnya, BBM yang berasal dari fosil seperti bensin, solar/diesel, dll) memang dipatok dengan harga tinggi. Tanpa subsidi. Saya tidak berbicara tentang lainnya. Tapi lebih pada karena memang energi fosil suatu saat akan habis.  Tidak dapat diperbaharui.  Bahkan menurut para ahli, jika pola penggunaan masih seperti sekarang, cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade mendatang.

Sudah saatnya kita beralih pada sumber energi yang lebih ramah. DI sekitar kita banyak bertebaran energi terbarukan (renewable energy). Sangat berlimpah dan tidak akan ada habisnya. Tinggal bagaimana cara kita memanfaatkannya. Menjadikannya berguna. Energi matahari (solar system), energi angin, energi nuklir, energi air, energi panas bumi, energi biomassa, dan seterusnya, dan sebagainya. Subsidi lebih baik jika diterapkan untuk energi terbarukan dan bukan untuk energi fosil.

Yang dibutuhkan adalah keberpihakan. Yang dibutuhkan adalah kebijakan penuh terkait dukungan terhadap pengembangan energi berkelanjutan. Tidak setengah hati. Ataupun anget-anget tai ayam. Hanya gencar di awal saja, setelah itu dibiarkan sendiri. Dibutuhkan dukungan seluruh jajaran pemerintah tingkat atas maupun di bawahnya. Tidak hanya 1 atau 2 menteri saja. Perlu pengeroyokan. Perlu keseriusan. Perlu totalitas.

Kebutuhan akan energi tidak mungkin berkurang. Pasti selalu bertambah. Selain karena pertambahan penduduk, juga akibat pola penggunaan dan gaya hidup modern yang banyak membutuhkan energi. Kebijakan terkait renewable energy memang sudah banyak. Tapi gregetnya belum menggelegar. Belum membahana. Saya masih ingat. Ketika harga minyak dunia melesat naik, sekitar tahun 2005, presiden gencar mendorong pengembangan bahan bakar nabati. Keluarlah blueprint pengelolaan energi melalui PP No. 5 tahun 2006. Lalu muncul Inpres No. 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Namun setelah itu, dapat dikatakan melempem. Tidak terlalu bersuara. Maaf, kalau boleh dikatakan, masih lebih didominasi oleh retorika. Benar – Benar Meresahkan. Semoga tidak terlalu lama lagi.

2 thoughts on “BBM : Benar – Benar Meresahkan

  1. Hahaha…. Apa hubungannya??? Cita-cita saya bukan jadi presiden Mbak… Cita-cita saya dulu cuman pengen jadi pramugari…. biar bisa terbang kemana-mana. Sangat sederhana kan? Cuman karena bogel dan berkacamata… impian itu terhenti.. wkwkwk Tapi sekarang patut bersyukur, tanpa jadi pramugari pun, masih bisa menikmati beberapa kota lain, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s