Sepeda Motor dan Lampu Merah

Sepeda motor dan lampu merah. Pasangan yang selalu hadir. Paduan yang senantiasa ada. Menemani. Menghampiri. Di setiap sudut Jakarta. Suka atau tidak suka. Aman atau tidak aman. Nyaman atau tidak nyaman. Itulah kenyataan. Fakta yang terjadi. Tanpa bisa dihindari. Tak kenal waktu.

Motor dan Lampu Merah.
Sumber foto: kompas.com

Lampu merah belum berganti. Belum menghijau. Atau pun sekedar menguning. Puluhan motor, bahkan bukan mustahil ratusan untuk lampu merah di jalan utama, telah bersiap. Bahkan berkeinginan untuk mencuri start. Seakan tak sabar menggapai garis finish. Semoga finishnya bukan di Rumah Sakit. Apalagi di alam lain. Amit-amit. Jangan sampai. Tapi terkadang itulah kenyataan. Kadang harus terjadi. Menjadi seperti arisan nyawa. Tinggal menanti giliran siapa, yang mana, dan kapan. Amit-amit. Jangan sampai.

Berdasarkan data yang ada, walau hanya saya dapat dari hasil googling, sangat mencengangkan. Membuat decak kagum. Inikah pertumbuhan ekonomi? Atau “the power of Kepepet?” Mungkin mereka pun tidak semua murni berkehendak, berkeinginan, untuk berkendaraan sepeda motor. Hanya karena tidak ada pilihan lain. Pasti banyak yang karena keterpaksaan. Ketidakberdayaan. Ketika angkutan publik tidak dapat mengakomodir. Mengatasi. Memberi solusi. Karena kepepet, akhirnya mereka memutuskan. Mengambil keputusan. Lebih baik bermotor ria. Walaupun terkadang pula dengan alasan sebagai kebanggaan. Simbol keberhasilan seseorang.

Kata Om Google, jumlah motor di Jakarta sudah melebihi jumlah penduduk Jakarta, yaitu hampir 10 juta kendaraan. Bahkan bertumbuh sekitar 1.000 perhari. How come? Itulah Jakarta. Tingkat kecelakaan tertinggi pun dimenangkan oleh pengendara motor. 70 % dari total kecelakaan. Di Jakarta, setiap hari 3-4 pengguna motor tewas. Ini sumbernya dari Bapak Joko Setijowarno, pakar transportasi. Kapok kah? Hati mengkerut? Menjadi takut? Ternyata tidak.

Buktinya, pengendara sepeda motor layaknya semut. Menyemut. Menjadi seperti semut. Di seluruh penjuru Jakarta. Tercetus alasan lain. Motor lebih efektif, lebih efisien, untuk mensiasati kemacetan Jakarta. Bisa nyelip-nyelip.  Area selebar setengah meter pun menjadi sangat berarti. Bahkan dapat merambah ke ranah trotoar. Ranahnya pejalan kaki. Tanpa rasa bersalah. Walau sadar itu melanggar.

Motor pun dengan leluasa mengokupasi trotoar, jalur pejalan kaki

Sebenarnya saya setuju dengan beberapa beberapa solusi untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Rencana penyediaan akses transportasi publik yang nyaman dan terjangkau bagi warga, itu perencanaan yang baik. Monorail, MRT, pembenahan busway, kopaja, metromini. Itu usaha yang baik. Begitu juga dengan mobil pribadi. Ada upaya pembatasan, pengaturan. Konsep 3 in 1, walau sangat tidak berhasil, tetap patut diakui. Rencana pengaturan dengan semacam “denda” seperti hal nya di Singapura dengan ERP (Electronic Road Pricing), juga OK. Mobil pribadi bila masuk kawasan tertentu, wajib bayar.

Tapi bagaimana dengan sepeda motor? Akan adakah pembatasan atau pengaturan tentang sepeda motor? Akan adakah pembatasan jumlah sepeda motor yang boleh beredar di Jakarta? Selama ini yang tercium justru hal-hal yang menguntungkan pengendara. Walau jelas itu pelanggaran. Sepeda motor dengan mudah dapat mengokupasi jalur. Berada di garda depan. Masuk jalur busway. Bisa merambah trotoar tanpa kemampuan polisi atau hukum atau sanksi untuk menjamahnya. Bila harga transportasi publik masih belum terjangkau, masih belum terintegrasi dengan angkutan publik lainnya, motor tetap jadi pilihan primadona. Pilihan strategis dan memungkinkan. Favorit masyarakat kebanyakan.

Belum lagi ditambah jika BBM naik, sepeda motor tentunya bakal lebih populer, tambah naik daun. Seperti ulat yang selalu menggapai puncak demi pucuk muda. Kalimat terakhir, itu kata iklan. Tentunya karena sepeda motor jelas lebih hemat BBM. Kebijakan ERP pun sepertinya tidak berlaku bagi sepeda motor.

Ditambah pula dengan kemudahan akses pembelian motor. Skema kredit yang ramah sangat. Pajak yang relatif murah. Perparkiran yang mendukung. Dan sebagainya. Dan seterusnya. Jadi.. sepeda motor tetap akan bertahan di jalanan ibukota. Akan tetap merajai. Sebagai juara.

Catatan :

Saya bukan warga yang anti kendaraan roda dua. Saya pun terkadang pengguna kendaraan roda dua ini. Walau hanya membonceng suami. Tak berani sendiri. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s