Masihkah Mereka Punya Mimpi?

Sabtu siang, tanpa rutinitas kerja, memang waktu yang paling tepat untuk menuntaskan kepentingan yang malas dilakukan di hari kerja. Siang tadi, bergeraklah kami, saya dan suami, ke Senen dan Pasar Baru. Tujuannya, selain urusan usahanya suami, juga beli dompet, tas, dan payung. Pengganti yang kejambret beberapa hari lalu. Belum bisa beli HP pengganti. Duitnya belum cukup. Masih ada list lain yang lebih urgent. Ah…sudahlah, saya tak ingin bercerita tentang peristiwa tas melayang. Terlalu menyesakkan. Menyedihkan. Memasgulkan hati. Berhenti meratap. Berusaha ikhlas. Sabar. Melepaskan. Merelakan. Tuhan pasti ganti.

Pulang Pasar Baru, lewat Stasiun Juanda. Tepatnya di samping stasiun Juanda. Terpampang kenyataan. Inilah Jakarta. Kota Metropolitan. Walaupun lebih layak dijuluki Kampung Besar. Karena walaupun kota namun masih berbudaya kampung. Kota yang senantiasa menarik bagi orang yang ingin mengadu nasib. Mengais rejeki. Menaruh asa dan cita. Ketika kota dan desa lain di pelosok tidak mampu memenuhi. Tidak mampu memberi harapan.

Masih kah mereka punya mimpi ?

 Terlintas di benak. Nyaman sekali tidur mereka. Padahal di siang hari yang ramai. Tak terusik sedikitpun. Pun oleh bunyi kereta lewat. Oleh ramainya tukang ojek dan pedagang kaki lima. Atau deru kendaraan yang lalu lalang. Ini lah Jakarta. Mereka telah mampu beradaptasi. Menyatu dengan lingkungan. Harmoni dengan sekitar.

Mungkin mereka tengah bermimpi. Tentang masa depannya. Atau tentang mainan idamannya. Atau tentang makanan kesukaannya. Tentang es cream. Tentang peri penjaganya. Atau tentang cita-citanya. Mungkin juga tanpa mimpi sama sekali. Entahlah. Tapi saya masih berharap, mereka masih punya mimpi. Paling tidak.…masih berani bermimpi. Karena mimpi dapat diwujudkan. Direalisasikan. Diwujudnyatakan. Berani bermimpi berarti masih punya cita. Masih punya harapan.

Kegiatan rumah tangga tetap terselesaikan dalam satu tempat. Btw… peralatan mencucinya lengkap sekali.

Tak jauh dari tempat mereka tidur, terlihat sang bunda. Sedang mencuci. Mungkin inilah waktu yang tepat baginya untuk mencuci. Ketika anak-anak tengah terlelap. Bermimpi. Dan sang bunda berusaha mewujudkannya. Mewujudkan mimpi anak-anaknya. Atau mungkin juga mimpi-mimpinya sendiri. Saya harap, sang bunda pun masih berani untuk bermimpi.

Teringat tadi di kios penjual dompet. Saya ragu memilih antara dompet yang bahan dan coraknya lebih manis juga bagus dan dompet yang secara fungsi lebih cocok. Banyak tempat kartunya. Itu saja sudah membuat bingung. Dan saya pilih yang kedua. Pilihan sang bunda tentunya berbeda dengan saya. Dia tidak perlu bingung memilih dompet. Dia punya mimpi yang lain. Pilihan yang lain. Dia mungkin tak perlu repot memilih dompet, yang hanya kemasan. Dia mungkin lebih fokus pada bagaimana mencari isinya. Untuk mewujudkan mimpinya dan mimpi anak-anaknya. Walaupun, itu juga saya alami. Bagaimana mencari isi dompetnya. Untuk mengganti HP yang hilang…. Heuh…. Keikhlasan tetap membutuhkan waktu.

Terlintas buku yang pernah dibaca dan masih tersimpan hingga kini. Buku “Kota Tanpa Warga”, tulisan Pak Jo Santoso. Mungkin ini juga salah satu alasan mengapa Jakarta masih layak diberi label Kampung Besar. Menurut Jo Santoso, bagi masyarakat yang tinggal di kampung, bekerja dan bermukim (working and living) adalah dua hal yang terintegrasi. Mereka tinggal di emperan. Tidur di emperan. Seluruh kegiatan rumah tangga dilakukan di emperan. Bekerja pun di emperan. Atau, kalau pun tidak di emperan, di sekitar emperan. Sang istri mencuci, suami memilah sampah. Tak jauh dari lokasi anak-anak tidur.

Warga yang lain pun tak sungkan bercengkrama. Di warung. Tepat di sebelah gunung sampah. Tak ada rasa canggung. Tak ada rasa risih. Tak ada rasa jijik. Semua berjalan seirama. Selaras. Tak terusik apapun. Suatu paduan yang aneh. Pemandangan yang ganjil. Tapi itu menurut orang lain. Belum tentu menurut mereka.

Tidak terusik.gunung sampah. Paduan yang aneh.

Ruang yang mereka gunakan merupakan ruang publik. Secara keseluruhan, terlihat ketidakberdayaan pemerintah dan warganya untuk menegakkan konsensus bersama atas “ruang publik”. Ketiadaan kesepakatan mengenai apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan di ruang publik. Ketidakberdayaan  pengaturan yang jelas mengenai penggunaan ruang publik yang seharusnya di bawah pengaturan dan pengelolaan pemerintah. Tapi mungkin juga lebih banyak pada ketidakberdayaan warga. Ketiadaan pilihan. Kepasrahan. Mungkin juga mereka telah merasa nyaman di sana. Toh kenyamanan adalah relatif. Siapa tahu ? Yang penting, mereka masih punya mimpi. Masih berani bermimpi. Kalau tidak ? Entahlah.

Advertisements

2 thoughts on “Masihkah Mereka Punya Mimpi?

  1. tulisannya bagus2 mbak 🙂 aku percaya mereka masih punya mimpi: bisa tinggal di kota. walau standar hidupnya masih di desa. tapi prestise lebih berharga, tampaknya…

  2. Terima kasih Mbak Arni, atas kunjungan dan komentarnya…. Tetap berkunjung ke lapak saya ya… :-).

    Benar Mbak. Yang membuat salut adalah mereka tetap menikmati… Dengan cara mereka. Dengan perspektif mereka. Yang belum tentu sama dengan kita. Kita memang tidak bisa hanya melihat mereka dengan perspektif kita saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s