CD dan DVD Bajakan : Life Style?

Secara jujur, terbuka, tanpa tedeng aling-aling, tanpa munafik, tanpa berbohong. Saya mengaku. Saya termasuk warga yang juga turut menikmati CD dan DVD Bajakan. Ada beberapa CD dan DVD Bajakan di rumah. Tidak beberapa. Berberapa-berapa. Jumlahnya tidak usah disebut lah. Tidak etis. Akan kah saya diperkarakan? Dipidanakan? Atau diperdatakan? Saya bukan ahli hukum. Tapi dengan sangat sadar. Tahu bahwa itu salah. Tapi tetap tergoda untuk melakukan. Melanggar. Mendobrak rambu-rambu. Semoga setelah tulisan ini muncul, tidak membuat saya diperkarakan. Dipermasalahkan. ūüėÄ .

Mengapa demikian? Ada begitu banyak alasan. Alasan untuk pembenaran. Permakluman. Permintaan untuk dipahami. Permohonan untuk dimengerti. Walau tetap itu salah. Tetap tidak dapat dibenarkan. Sangat kontradiktif memang. Namun demikianlah adanya.

Perkembangan serta kemajuan teknologi dan sistem informasi teknologi sangat berdampak. Sangat signifikan. Terhadap segala bidang kehidupan manusia. Terhadap life style kita. Gaya hidup kita. Inikah salah satu alasan permakluman? Bisa jadi. Sangat mungkin. Sangat masuk akal. Sangat simpel.

Deretan CD/DVD dikategorikan menurut genre film, aktor/aktris, new release, dsb

 Jaman telah bergeser. Dunia telah move on. Life style baru telah terbentuk. Tidak bisa dibilang terlalu baru juga. Toh sudah berlangsung lama. Gaya hidup pemindahan theatre ke dalam rumah tengah berlangsung. Pemindahan ruang publik menjadi ruang privat telah mendapat porsi. Turut mempengaruhi, memberi warna. Kita tak perlu bersusah payah pergi ke tempat lain. Tidak perlu selalu harus ke ruang publik hanya untuk menikmati suatu tontonan. Kalau kita tidak sempat atau tidak ada waktu untuk pergi ke mall, biarlah mereka yang kita pindahkan ke rumah. Walau tetap harus diakui. Tentunya ada rasa yang berbeda. Ada suasana yang lain. Ada kesan yang tidak sama. Antara menonton di rumah dengan menonton atau menikmati di sebuah gedung theatre.

Itu tidak serta merta menghilangkan kebiasaan menonton di theatre. Buktinya theatre tetap ramai. Tetap diminati. Dinanti. Untuk sebuah …. Lagi-lagi…. Life style. Namun mengurangi frekwensi kunjungan. Atau bisa jadi malah menambah kuantitas/frekwensi menonton. Jika dulu hanya menonton di ruang publik, sekarang bertambah dengan menonton di rumah.

Mengapa ? Dengan hanya bermodalkan Rp. 5.000,- saja CD telah berpindah tangan. Dengan bermodal Rp. 15.000,- saja, sebuah DVD telah dapat dinikmati. Ada pula hal yang menarik. CD dan DVD soft ware program pun tak kalah mudah untuk didapatkan. Sebut saja sebuah nama program. Penjaga tokonya dengan senang hati menuntun kita ke tempatnya. Membantu memilihkan. Mengecekkan. Mencobanya terlebih dahulu. Bahkan dengan embel-embel, jika tidak berfungsi, dapat ditukar.Sebuah kemudahan yang absolut. Namun untuk CD atau DVD program, dipatok harga yang lebih mahal, Rp. 35.000,-. Dan rata-rata sebuah program dibuat menjadi 2 DVD. Taktik dagang? Strategi penjualan? Bisa jadi. Tapi tentunya tetap dengan harga yang lebih murah dibandingkan jika membeli secara resmi. Yang asli.

Deretan CD/DVD : Kemudahan mencari, diutamakan. Tak usah khawatir, ada petugas yang akan membantu.

 Atas nama kemajuan teknologi pula, seseorang dapat dengan mudah menggandakan suatu karya intelektual tanpa harus meminta ijin dari pemegang hak cipta. Kemajuan teknologi semakin mempermudah proses pembuatan atau penggandaan cakram optic. Tanpa mempertimbangkan hak-hak yang dimiliki oleh pihak yang memang memiliki royalti atas sebuah hasil karya. Tanpa memperhitungkan intellectual property rights nya.

Saat ini, pemberantasan pelanggaran hak cipta tersebut bukannya tanpa upaya. Undang-Undang tentang Hak Cipta telah diterbitkan, yaitu Undang-Undang No. 19 tahun 2002.  Namun yang jadi masalah, belum sepenuhnya dipatuhi. Belum seratus persen ditaati oleh masyarakat. Bahkan 40 % pun belum. Terkadang termasuk saya. Keberadaan undang-undang tersebut memberikan dimensi tugas bagi Kepolisian dalam upaya melakukan penegakan hukum tentang Perlindungan Hak Cipta. Harus ditambah dengan bangkitnya kesadaran masyarakat untuk menghentikan pembelian CD/DVD bajakan. Saya bertanya pada diri. Mampukah? Hihihi… Ada kontradiksi kembali.

Pemberantasan bukan tanpa upaya sama sekali. Namun kadang terkesan setengah hati. Menurut pemilik toko, razia sering dilakukan. Sekarang sudah banyak kios/toko CD dan DVD bajakan yang gulung tikar. Namun ada kios/toko yang masih bertahan. Mengapa ? Jawaban pemilik toko, ‚ÄúSampai saat ini bisa diatasi‚ÄĚ. Maksudnya? Silakan artikan sendiri.

Yang jelas, perlu penuntasan pemberantasan dari hulu hingga hilir. Dari produsen kelas kakap hingga pengecer kecil di kaki lima. Termasuk propaganda tentang Hak Cipta dan pembangkitan kesadaran masyarakat. Ah itu kan Teori. ¬†Selalu lebih mudah dibandingkan realisasi. ¬†Saya tidak mau sok tahu‚Ķ Buktinya‚Ķsaya sendiri tak berdaya akan godaannya‚Ķ Dan beberapa DVD pun berpindah tangan….Alasan pembenaran: untuk mengisi liburan anak-anak….wkwkwk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s