Poncol dan Strategi Bertahan Hidup di Tengah Belantara Ibukota

Begitu banyak orang yang turut bergiat di sektor informal, tentunya mempengaruhi pola ruang Kota Jakarta dan kebijakan-kebijakan yang ada di dalamnya. Poncol sebagai salah satu kawasan yang didominasi oleh para pekerja sektor informal di Jakarta, turut memberikan warna terhadap wajah ruang Kota Jakarta. Kalau meminjam istilah yang dikemukakan oleh Hans Dieter Evers dan Rudiger Korff dalam bukunya yang berjudul “South East Asia Urbanism : The Meaning and Power of Social Space”, juga turut memberikan makna dalam ruang-ruang sosial Kota.

Bagian Luar Pasar Poncol

Kawasan Poncol merupakan kawasan yang didominasi oleh pedagang informal, khususnya barang bekas. Satu kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri. Kesan kumuh dan menakutkan selalu membayangi. Secara kasat mata, Pasar Poncol menampilkan kesan kumuh, tidak teratur, rawan kejahatan, dan membutuhkan penataan dalam penempatan ruangnya. Kesan ini pula yang membuat saya pribadi, yang tinggal hanya berjarak kurang lebih 2 km dari kawasan tersebut, enggan untuk berkunjung dan berbelanja di sana.

Saya yang telah tinggal selama 10 tahun di Kawasan Senen, sebelumnya hanya mendengar cerita tentang Pasar Poncol dari orang-orang. Beragam cerita miring tentang kerawanan berbelanja di sana juga turut mewarnai. Konon katanya, di sinilah tempat berkumpulnya barang-barang hasil curian. Di sinilah muara barang-barang yang entah dari mana asal usulnya. Benarkah? Rasa penasaran memang selalu membutuhkan pembuktian.

Aneka Barang

Pasar Poncol sudah ada sejak tahun 1969 dan dikenal sebagai pasar kaki lima yang melegenda. Pada tahun 1989, akhirnya Poncol dibina Pemerintah Kotamadya Jakarta Pusat (Pemkot Jakpus). Lokasinya tidak jauh dari pusat perniagaan Pasar Senen, ke arah Cempaka Putih. Pasar ini terkenal sebagai pasar loak yang cukup lengkap dan besar. Terletak dekat dengan Stasiun Kereta Api Senen. Di sisi rel yang menuju Jl Letjen Soeprapto. Sekarang, ternyata tidak hanya barang bekas yang tersedia di sana.

Tempat ini menawarkan harga “super miring”. Di sini terdapat beragam koleksi barang “istimewa” yang mungkin tidak bisa ditemukan di mal-mal bergengsi. Soal kualitas, kuncinya adalah Anda harus pintar memilih karena tak jarang pedagang-pedagang di pasar ini menawarkan barang-barang yang lumayan kualitasnya. Harga yang murah inilah yang menjadi pertimbangan utama masyarakat Jakarta, untuk memilih Kawasan Poncol sebagai alternatif lokasi untuk berbelanja.

Dari Peralatan Elektronik Hingga Spare Part Kendaraan

Beragam fakta lapangan yang ada ternyata telah mematahkan hipotesis awal yang telah tertanam dalam benak. Awalnya, yang ada dalam pikiran adalah bahwa keberadaan Pasar Poncol beserta seluruh aktivitas di dalamnya tidak akan lepas dari lingkaran kemiskinan masyarakat yang terlibat di dalamnya. Namun hipotesis tersebut tidak sepenuhnya benar.

Berdasarkan obrolan ringan yang saya lakukan dengan beberapa pedagang Pasar Poncol, sambil melihat-lihat barang, ditemukan beberapa hal menarik.

Ujang, adalah salah seorang pedagang informal di Pasar Poncol yang berhasil saya korek keterangannya. Kios yang ia namai “Virgo” menjual alat-alat musik, khususnya gitar, dan alat-alat olah raga, berupa raket tenis dan raket bulu tangkis. Kiosnya tidak lebih dari 2 x 3 m saja. Ia meneruskan usaha dagang yang telah dirintis oleh orang tuanya semenjak Pasar Puring mulai beroperasi. Menurut Ujang, walau kios tersebut milik orang tuanya, dia memiliki kewajiban untuk “menyetor” 60 % dari laba yang dia peroleh tiap bulan kepada orang tuanya. Orang tuanya, selain memiliki kios di Pasar Poncol, juga memiliki kios dengan barang dagangan yang sama di Pasar Taman Puring, Blok M, Jakarta Selatan. Kios yang terletak di Pasar Puring dikelola oleh saudaranya.

Ujang di Depan Kios Peralatan Musik dan Peralatan Olah Raga

Yang menarik adalah, laba bersih yang diperoleh oleh orang tuanya dari kedua kios tersebut ternyata mencapai jumlah yang cukup fantastis. Dari 2 kios kecil tersebut ternyata orang tuanya memperoleh penghasilan bersih rata-rata Rp. 30 juta per bulan, masing-masing kios rata-rata Rp. 15 juta per bulan. Berarti penghasilan bersih yang diperoleh oleh Ujang rata-rata minimal sekitar Rp. 10 juta rupiah per bulan. Suatu jumlah penghasilan yang sangat besar bahkan lebih besar dari gaji seorang lulusan S1 yang baru bekerja.

Hal menarik lainnya adalah kenyataan bahwa penghasilan besar yang diperoleh oleh Ujang, tidak membuat dirinya tergoda untuk hidup bermewah diri. Dia memilih untuk membangun rumah di kampung halamannya, Rajapolah, Tasikmalaya. Di Jakarta, dia cukup mengontrak rumah seadanya di kawasan sekitar Poncol.

Berusaha untuk memahami pola pikir Ujang, Tentunya berdasarkan obrolan singkat. Menurut Ujang, pihak Pemkot Jakarta Pusat telah beberapa kali berupaya untuk melakukan relokasi terhadap kawasan Pasar Poncol. Selalu ditolak. Para pedagang Pasar Poncol diminta untuk pindah ke Kawasan Perdagangan Senen. Gagal. Mereka juga pernah diminta untuk pindah ke Kawasan Perdagangan Cempaka Mas. Gagal pula. Mereka terlanjur merasa nyaman dengan kondisi yang mereka peroleh sekarang. Kawasan yang menurut kita terlihat kumuh, tidak demikian halnya menurut mereka. Mereka tidak menginginkan kawasan perdagangan yang mewah karena menurut hemat mereka, target konsumen yang mereka tuju pun merupakan masyarakat menengah ke bawah.

Tak jauh berbeda dengan Ujang. Ada pula Pak Masdi. Pak Masdi menyewa salah satu kios di pinggir jalan. Biaya sewa yang harus dia keluarkan untuk menyewa kios dengan ukuran 2 x 3 m, Rp. 15 juta per tahun. Dia berjualan segala hal terkait dengan “kamar mandi”, mulai dari toilet, kran, shower, hingga pipa. Pak Masdi pun tidak menginginkan adanya pemindahan lokasi Menurut beliau, lebih nyaman dengan kondisi sekarang. Kalau pindah ke Kawasan Perdagangan Senen, dia harus mengeluarkan biaya tambahan. Perlu membeli kios yang mahal, pajak, dan biaya-biaya lainnya. Pak Masdi berjualan tiap hari di Pasar Poncol dan memiliki penghasilan di atas 10 juta per bulan.

Kios P. Masdi : Perlengkapan Kamar Mandi

Jangan salah. Pedagang di Pasar Poncol, umumnya memiliki spesialisasi. Ada yang spesialis alat-alat elektronik, alat rumah tangga, pakaian, sepatu, dsb. Pak Masdi pun tidak menutup kemungkinan bahwa terkadang, barang yang masuk ke tempat tersebut merupakan barang ilegal, dalam arti tidak melalui bea cukai yang benar atau bahkan merupakan barang hasil kejahatan.

Hans Dieter Evers dan Rudiger Korff dalam bukunya yang berjudul “South East Asia Urbanism : The Meaning and Power of Social Space”, mengulas tentang ekonomi bayangan (shadow economy). Ekonomi bayangan mencakup semua kegiatan ekonomi yang tidak tercatat dalam statistik resmi. Tidak tersentuh oleh peraturan pemerintah dan kewajiban membayar pajak. Di dalamnya juga terdapat “sektor informal”. Meliputi unit-unit kecil dalam ekonomi bayangan. Menghasilkan barang dan jasa untuk dipasarkan. Ekonomi bayangan merupakan suatu bidang ekonomi yang menghindari pengaruh negara, atau tersisih dari sistem ekonomi negara. Dalam pengertian tertentu, dibandingkan dengan sektor formal, sektor informal lebih merupakan antipoda (sesuatu yang menentang arus) nation building.

Kegiatan para pedagang informal Pasar Poncol merupakan salah satu yang dapat dikategorikan sebagai ekonomi bayangan. Kegiatan ekonominya tidak tercatat dalam statistik resmi sehingga tidak tersentuh oleh peraturan pemerintah dan kewajiban membayar pajak. Berdasarkan hasil obrolan ringan, banyak di antara para pedagang hanya mengeluarkan biaya untuk “sewa kios” sekitar 8 juta hingga 12 juta per tahun tergantung lokasi kios/lapak dan biaya “keamanan” kepada petugas di sana sebesar Rp. 9.000,- per hari per kios/lapak. Ini pula yang menyebabkan usaha pemerintah daerah untuk memindahkan/merelokasi mereka selalu berakhir dengan kegagalan. Mereka umumnya mengungkapkan alasan bahwa mereka lebih nyaman berdagang di lokasi Pasar Poncol. Tidak dibebani oleh beragam pungutan maupun pajak. Selain itu, lokasi ini umumnya sudah menjadi lokasi berjualan mereka dalam kurun waktu yang cukup panjang. Banyak di antara pedagang yang sudah berjualan di sana semenjak Pasar Poncol didirikan dan sebagian merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha dari orang tua atau kerabat mereka.

Didapat pula kenyataan bahwa di antara sesama pedagang di Pasar Poncol memiliki interaksi sosial yang cukup tinggi. Banyak di antara para pedagang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan asal daerah yang sama. Misal : para pedagang alat musik memiliki hubungan kekerabatan dan berasal dari daerah yang sama, yaitu Rajapolah, Tasikmalaya.

Strategi bertahan hidup yang mereka jalani juga agak berbeda dengan pola kaum miskin pada umumnya karena ternyata mereka tidak dapat dikategorikan sebagai kaum miskin perkotaan. Mereka mau tinggal di lokasi-lokasi kumuh dan padat yang terdapat di sekitar Kawasan Poncol namun tidak berarti mereka miskin. Mereka umumnya memiliki tingkat pendapatan yang tinggi. Jauh melebihi lulusan Perguruan Tinggi yang baru bekerja. Namun mereka lebih memilih untuk membangun rumah yang bagus di kampung mereka masing-masing atau pergi ber haji.

Terkadang, di mata para perencana, daerah kumuh diibaratkan sebagai penyakit yang diderita oleh kota dan perlu segera diatasi dengan penggusuran/relokasi. Beda halnya dengan yang saya temui di Poncol. Dengan mengandaikan sebagai salah satu bagian dari kawasan tersebut, memberikan perspektif lain. Saya dapat memahami alasan mereka tidak bersedia pindah dari kawasan tersebut. Banyak hal yang tidak terduga telah terjadi di kawasan ini. Persepsi sebelumnya tentang strategi bertahan hidup di Kota Jakarta untuk para pedagang Kawasan Poncol, ternyata meleset. Masalah tidak hanya dapat dipandang sebagai kekumuhan dan harus digusur/direlokasi. Tetapi juga masalah kenyamanan yang mereka rasakan dalam berkegiatan di sana. Mereka sudah terlanjur menikmati kondisi yang ada. Menikmati rupiah dalam jumlah yang tidak sedikit. Yang belum tentu dapat mereka peroleh di kawasan yang lain. Ini salah satu alasan sederhana mereka lebih suka tetap melakukan usahanya di Kawasan Poncol.

Saya mencoba menempatkan orang yang memiliki kegiatan di Kawasan Poncol sebagai subjek. Mereka adalah aktor kehidupan yang memiliki hasrat dan kehidupan sendiri yang unik. Pandangan subjektif seperti ini diperlukan untuk mengimbangi pandangan objektif yang sering justru memojokkan mereka dan memandang mereka sebagai pelaku pembuat kekumuhan kota, dan bukan sebagai entitas masyarakat yang memiliki pemikiran dan pengalaman hidup yang mereka rasakan dan alami sendiri.

Kawasan Poncol memang harus ditata dengan lebih baik, lebih manusiawi, namun harus mempertimbangkan aspek-aspek sosial yang telah terbangun di sana. Pelaku yang ambil bagian dalam proses penataan Kawasan Poncol harus memahami karakteristik budaya dan kenyamanan yang telah mereka peroleh. Jika memang kebijakan relokasi yang harus diambil, lokasi baru yang dipilih tidak mengurangi manfaat yang telah mereka peroleh di lokasi yang lama. Tidak mencerabut akar interaksi sosial yang telah terjalin di dalamnya.

Advertisements

2 thoughts on “Poncol dan Strategi Bertahan Hidup di Tengah Belantara Ibukota

  1. solusinya sih mungkin cukup dandanin aja pasarnya dan kebersihannya dijaga. tapi yang menarik banget malah ini bu…ternyata pedagang2 yang tampilannya lecek penghasilannya 5 kali lipat dari lulusan s1, tapi gaya hidup mereka sederhana aja, duitnya dikumpulin buat beli rumah sama naek haji, nggak kaya anak2 lulusan s1 yang tiap abis terima gaji dan honor tim malah pergi nonton di 21 dan makan enak XD #selftoyor

  2. Bener banget…!! Life style mereka berbeda sangat. Sempet terlintas di benak. Kenapa saya gak ganti profesi aja ya….? Ikutan buka lapak di sana. Mungkin bisa lebih sukses daripada mereka….wkwkwk. Gak perlu susah-susah sekolah ngejar S2 segala… Berminat…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s