Cerita dalam Setangkup Kerak Telor

Gonjang-ganjing penyelenggaraan PRJ masih berlangsung. Namun tak menyurutkan niat beli kerak telor sedikitpun…. dan gak ada hubungannya pula.

Honestly, saya bukan pengunjung setia PRJ. Terakhir jalan-jalan ke PRJ entah kapan. Yang jelas, minimal 3 tahun terakhir ini, tak sekalipun singgah ke PRJ. Hanya berhubung tinggal di Senen, relatif dekat dengan Kemayoran, dan kebetulan penggemar kerak telor, jadi hampir tiap tahun selalu mampir ke area sekitar PRJ. Bukan untuk masuk area PRJ nya. Hanya demi nyari tukang kerak telor. Melengganglah ke sana….

kerak telor

Kurang afdol kalau beli kerak telor tanpa plus ngobrol. Berikut hasil obrolannya. Ini cerita dari sumbernya langsung. Maksudnya, dari Bapak tukang kerak telornya. Beliau layaklah dianggap sebagai narasumber. Sudah 8 tahun terakhir mangkal di sekitar PRJ sebagai tukang kerak telor musiman. Hanya berjualan pada saat PRJ berlangsung. Tiap musim PRJ, P Abdul meninggalkan pekerjaan tetapnya di Ciawi-Bogor sebagai perajin kayu. Demi mengejar gula keriaan PRJ. Pikulan yang dia gunakan pun buatannya sendiri. Di akhir musim PRJ, pikulannya ikut dia jual. Toh P Abdul bisa membuat yang baru menjelang musim PRJ berikutnya.

Ternyata untuk jualan kerak telor di area PRJ, baik di dalam maupun di luar PRJ, sama-sama harus bayar.

Jualan di luar area PRJ, bayar 400 ribu ke “kamtib” sebagai sewa lahan dan Rp.5.000,- per malam ke  salah satu ormas (F*R) untuk uang keamanan.
Jualan di depan pintu masuk, bayar 600 ribu dan 10.000 uang keamanan.
Jualan di dalam area PRJ, Rp. 1.500.000,- per bulan dan uang keamanan 10.000.

Ck ck ck …. padahal ada 2600 penjual kerak telor di sekitar PRJ. Sudah minimal sekitar 2 M.
Itu baru dari kerak telor saja…
Roda ekonomi memang bergerak.. tapi ada yang salah…
Belum lagi masalah perparkiran, tiket masuk, sewa stand, dll
Hehehe… pantas Ahok meradang…

Apanya yang salah? Pungutan lain-lainnya itu yang salah. Tentunya pungutan ini juga berlaku buat penjual lainnya. Di area sekitar PRJ saja, di luar area PRJ, banyak sekali pedagang kaki lima bertebaran. Kerak telor, minuman, gorengan, mie bakso, mainan anak, dsb. Kenapa tidak di area dalam PRJ? Jawabannya sederhana. Sesederhana tukang kerak telor yang saya temui. Sewa di dalam area, mahal. Titik. Penjelasan yang singkat, namun sekaligus logis.

Coba mengorek keterangan lain. Adakah untung yang diraih, dibawa pulang untuk anak-istri? Jawabannya tetap sederhana. Tapi P Abdul sudah mulai bercerita panjang. Ada gelora harapan di sana. Di penghujung uraiannya, terselip kalimat, “Tapi akan lebih bagus lagi kalau uang sewanya jangan tiap tahun naik, supaya saya tetap kebagian…”. Tetap sederhana, tapi cukup menjelaskan. Intinya, mereka masih ingin turut memeriahkan pesta tahunan itu. Dengan pengelolaan yang lebih baik tentunya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berkeinginan untuk menggelar pesta rakyat menyambut HUT DKI Jakarta. Pesta Rakyat tersebut bukan untuk mengusik acara PRJ yang diselenggarakan oleh PT JIExpo. Itu sudah benar. Dan ide membuat Pesta Rakyat yang dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat pun sudah benar.  Harus ada pula acara yang dapat mengakomodasi usaha kecil masyarakat. Tidak hanya sebuah pameran dagang besar seperti yang terkesan dari PRJ selama ini.

Carut marut biaya sewa stand yang selangit, tiket masuk yang tinggi, dan parkiran yang sangat mahal selalu membayangi kesan masyarakat tentang PRJ. Walau menurut pihak JIExpo, jumlah pengunjung tiap tahun selalu bertambah. Omset selalu meningkat. Jumlah stand selalu bertambah. Peredaran uang melonjak. Namun dividen yang diterima Pemprov DKI “hanya” 1,25 M. Bahkan Pemprov harus merogoh kocek 4 M untuk biaya stand mereka sendiri. Ahok layak untuk meradang. Sah untuk mempertanyakan. Legal untuk menelisik lebih lanjut. Walau dengan kadar emosi yang harus tetap terjaga.

PRJ layaknya pameran dagang yang selalu bersolek, tiap tahun mempercantik diri. Namun dengan “kecantikan” menurut versinya sendiri. PRJ sekarang dapat dikatakan pameran industri dengan skala besar. Itu memang bagus. Namun konsep keberpihakan pada industri kecil pun tetap harus mendapatkan ruang, mendapatkan tempat, mendapatkan wadahnya.

Ide Jokowi untuk mewujudkan pesta rakyat dalam bentuk lain, saya setuju. P Abdul tidak mengharapkan sesuatu yang muluk. Hanya ingin memeriahkan pesta tahunan dan tentunya turut mendapatkan hasil dari keriaan tersebut. Tidak perlu untung yang melonjak. Dia hanya berkeinginan agar jangan berkurang. Uang sewa tidak selalu bertambah. Harapan yang sederhana.

Setangkup kerak telor telah tandas, tak bersisa. Tapi kesederhanaan P Abdul tetap harus tersalurkan, terakomodasi. Semoga.

 

Advertisements

4 thoughts on “Cerita dalam Setangkup Kerak Telor

  1. Mas Bayu…. yang patut ditiru adalah semangat dalam kesederhanaannya…. mungkin itu resep supaya kerak telornya enak… hahaha…gak nyambung blassss!!!

  2. Mbak Ayie…. iya Yie… rada emosi juga denger cerita dari tukang kerak telornya… Kok ya bisa-bisanya narik pungutan semena-mena begitu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s