Ridwan Kamil Nominator Walikota Terbaik 2014 bersama Jokowi dan Tri Rismaharini

Gambar

Indonesia patut berbangga hati. Di antara sekian banyak pemberitaan negatif tentang para pemimpin Indonesia, masih menyeruak berita yang mampu membesarkan hati, menyemburatkan sedikit cahaya harapan. Masih ada para pemimpin di Indonesia yang dinilai dunia sangat baik dalam mengawal kotanya.

Berdasarkan update dari situs www.worldmayor.com (27/2/2014), Ridwan Kamil turut dinominasikan sebagai walikota terbaik versi worldmayor.com. Beberapa hari yang lalu, Indonesia hanya diwakili oleh Jokowi dan Tri Rismaharini. Ternyata, sekarang telah berubah,  Indonesia diwakili oleh 3 pemimpin kota yang memang prestasinya patut diapresiasi, yaitu Ridwan Kamil, Joko Widodo, dan Tri Rismaharini. Masing-masing merupakan pemimpin Kota Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Melihat prestasinya selama memimpin kota, ketiganya memang layak dinominasikan.

World Mayor Project diumumkan sejak 7 Januari 2014. Saat ini, masih dalam tahap longlist (daftar panjang) nominator walikota terbaik. Daftar panjang akan terus diperbaharui secara berkala hingga bulan Mei sedangkan shortlist (daftar pendek) nya akan diumumkan pada bulan Juni nanti. Menurut World Mayor, masih banyak nama yang akan dimunculkan lagi selama putaran pertama World Mayor Project. Akan banyak nama-nama lainnya yang akan ditambahkan selama putaran Februari hingga Mei 2014.

Perlu diketahui bahwa world mayor merupakan penghargaan yang diberikan pada para walikota terbaik dunia sejak tahun 2004. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah para walikota di seluruh dunia atas kontribusinya dalam melayani warganya dan mengantar kotanya menjadi kota yang lebih baik. Pemilihan pemenang berdasarkan jumlah pemilih yang didapat oleh walikota bersangkutan melalui situs dan komentar yang masuk. Setiap orang dapat menominasikan pemimpin wilayahnya atau pemimpin dari wilayah lain melalui situs ini.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2008, dari 50 finalis yang ada, terselip nama Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo. Tahun 2010, tidak ada satupun walikota di Indonesia yang masuk nominasi. Tahun 2012, barulah Indonesia menorehkan prestasi. Tercantum nama 4 pemimpin kota di Indonesia yang masuk sebagai nominator, yaitu Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan Walikota Solo Joko Widodo. Tidak hanya masuk nominasi, Jokowi berhasil menyabet gelar walikota terbaik ke tiga.

Untuk tahun 2014, Ridwan Kamil, Joko Widodo, dan Tri Rismaharini menjadi nominator bersama dengan 9 walikota/kandidat dari Amerika Utara, 8 kandidat dari Amerika Latin, 18 kandidat dari Eropa, 9 kandidat dari Asia, 2 orang dari Australasia dan 4 dari Afrika. Ketiga pemimpin Indonesia masuk sebagai nominator di antara pemimpin kota di Asia lainnya, yaitu:

  1. Mayor Anil Sole, Nagpur, India,
  2. Mayor Soichiro Takashima, Fukuoka, Japan,
  3. Mayor Edgardo Pamintuan dari Angeles City, Philippines,
  4. Mayor Juliet Marie Ferrer, La Carlota City, Philippines,
  5. Mayor Eric Saratan, City of Talisay, Philippines,
  6. Mayor Hani Mohammad Aburas, Jeddah, Saudi Arabia

Semoga ketiga pemimpin kota tersebut dapat menginspirasi pemimpin kota lainnya di Indonesia. Indonesia masih memerlukan mereka. Salam. (Del)

Sumber : http://www.worldmayor.com

Wagiman Telah Menjelma Menjadi Waliman

Gambar

Tri Rismaharini.
Sumber foto : http://data.tribunnews.com/

Terselip rasa bangga dan bahagia ketika pagi ini menyempatkan diri untuk membuka halaman situs www.citymayor.com. Pada halaman utamanya terpampang berita tentang 2 pemimpin kota di Indonesia dan isinya pun tidak mengecewakan. Berita yang menyejukkan setelah minggu yang lalu dipenuhi oleh beragam kabar tentang bencana. Satu berita tentang Jokowi yang semakin kencang digadang-gadang untuk menjadi RI-1 dan satu lagi berita tentang Tri Rismaharini, sang Walikota Surabaya.

Kekuatan media memang luar biasa. Dalam waktu tidak terlalu lama, bahkan dapat dikatakan sekejap, Walikota Surabaya melejit bak meteor, naik ke permukaan dan mendadak menjadi terkenal di seantero negeri. Jadi teringat ketika beberapa waktu lalu, tepatnya 8 bulan yang lalu, sempat menulis tentang Bu Risma. Waktu itu beliau belum seterkenal sekarang. Pamornya masih berada di kisaran Kota Surabaya. Kunjungan kerja ke Surabaya menggelitik hati untuk menuliskan tentang kiprah Bu Risma. Tulisannya bisa dilihat di Jokowi Harus Mencontoh Wagiman (22/6/2013) dan Dua Pemimpin Jempol, Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi (28/8/2013).

Situs yang memiliki arus utama penulisan tentang kiprah-kiprah para Walikota di dunia www.citymayors.com mulai kerap menulis tentang sepak terjang pemimpin kota di Indonesia. Bu Risma salah satu yang mulai sering diberitakan. Bahkan di halaman hari ini,  Bu Risma dinobatkan sebagai “Mayor of the month”. Bu Risma terpilih karena secara konsisten telah berhasil mengawal perkembangan kota Surabaya. Terutama pengawalan beliau terhadap pengembangan pelabuhan  yang tersendat selama 2 dekade. Sejak Bu Risma menjadi Walikota, lalu lintas pelabuhan meningkat hingga 200%. Sebuah predikat yang membanggakan.

Latar belakang pendidikan arsitekturnya turut mempengaruhi sentuhannya pada berbagai taman di Kota Surabaya. Beliau sangat peduli akan lingkungan warga kotanya. Beliau mengubah banyak lahan terlantar dan ruang terbuka yang terbengkalai menjadi taman-taman nan cantik. Tidak kurang 11 taman utama dengan tema yang berbeda, dimiliki Surabaya, mulai dari Taman Persahabatan, Taman Ekspresi, Taman Skate dan BMX, Taman Flora, dsb. Nyaris mirip dengan taman-taman yang sekarang coba diwujudkan pula oleh Ridwan Kamil di Bandung. Tidak usah heran karena memang ada keterkaitannya. Ridwan Kamil yang sama-sama memiliki latar belakang pendidikan arsitektur (ITB), sebelum menjadi Walikota Bandung sempat menggarap dan bekerja sama dengan Tri Rismaharini kala beliau masih menjabat di Dinas Pertamanan. Ridwan Kamil turut menggagas taman-taman di Kota Surabaya.

Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini memiliki modal kuat dalam menata kota. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan penataan kota yang mumpuni. Selain pendidikan arsitektur, Tri Rismaharini membekali diri dengan pendidikan manajemen pengembangan perkotaan di Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan juga kursus di  Rotterdam, masih dalam bidang Manajemen Pengembangan Perkotaan.

Kiprah Tri Rismaharini di bidang lingkungan hidup tak hanya berhenti pada taman-taman kota. Surabaya memiliki agenda hijau dengan melibatkan sektor swasta, sekolah, universitas, dan pihak lainnya. Programnya terkait pelestarian hutan mangrove di sepanjang pantai Surabaya dan produksi barang-barang olahan mangrove seperti batik, sirup, dan makanan olahan mangrove lainnya turut mewarnai.

Tri Rismaharini sering mengungkapkan tentang perlunya memerintah tidak hanya untuk masyarakat tapi juga bersama dengan masyarakat. Sebuah kota harus menjadi rumah bagi warganya. Intinya, pengembangan sebuah kota tidak dapat terlepas dari sentuhan pada kehidupan warga kotanya. Kehidupan sosial budayanya. Risma memahami hal tersebut. Bu Risma  tidak menginginkan perkembangan kota Surabaya malah berakibat menjauhkan warganya, menyisihkan warga kotanya.  Untuk itulah, beliau juga memiliki perhatian penuh pada penanganan kesehatan, pendidikan, bahkan penanganan  lokasi-lokasi prostitusi.

Satu demi satu penghargaan diraih oleh Tri Rismaharini. Mungkin kurang tepat jika dikatakan “diraih”. Tepatnya “diberikan”, karena Bu Risma tidak memiliki maksud untuk meraih penghargaan, beliau hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Kota Surabaya yang dicintainya.  Untuk itulah beragam penghargaan layak diberikan padanya. Kemelut yang sekarang tengah dihadapi semoga cepat berlalu dan terselesaikan dengan manis. Semua demi masyarakat, khususnya warga Surabaya. Sangat sayang jika salah satu dari para pemimpin jempolan di negeri ini tersisihkan hanya karena ulah segelintir atau sekelompok orang yang ingin menodai negeri.

Walikota satu ini ternyata tidak hanya layak dijuluki Wagiman, Walikota Gila Taman. Bu Risma telah menjelma menjadi Waliman, Walikota Idaman. Tugas Bu Risma belum usai. Indonesia masih sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mau memimpin dengan hati. Tulus mengabdi pada negeri. Tanpa pamrih melayani warga. Demi kemajuan kota. Kami hanya bisa mendoakan semoga Bu Risma tetap tegar, tetap fokus dalam menata Surabaya. Bu Risma… Semangat..! Selamat pagi. Salam. (Del)

Para Pemimpin Jempol, Kami Bangga !

Beberapa bulan terakhir ini berita yang kurang sedap, kurang nyaman didengar, datang mengepung. Berita tentang praktek-praktek korupsi yang kian merajalela dan berita gonjang-ganjing politik seolah datang silih berganti dengan berita bencana di berbagai pelosok negeri. Bumi pertiwi seakan tengah dirundung duka, tengah menangis,  mengiringi musim banjir yang tak kunjung reda.

Namun, siang ini, rasa lega masih terselip di dada. Setidaknya, Indonesia masih memiliki harapan, memiliki asa yang semoga dapat terus dipupuk, supaya dampaknya terus bertumbuh dengan subur, dan menyebar ke seantero negeri.

Berita pertama datang dari Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Kang Emil telah memulai gebrakannya sejak awal dilantik menjadi pemimpin Kota Bandung. Berbagai terobosan telah dia lakukan, antara lain melalui penertiban pedagang kaki lima, penyediaan ruang publik dan ruang terbuka hijau, atau dengan kebijakannya untuk menerapkan denda Rp. 1 juta bagi warga yang berbelanja di pedagang kaki lima. Tak kalah menarik, Kang Emil juga menginstruksikan seluruh jajarannya supaya memaksimalkan berbagai media sosial untuk memberikan akses kepada masyarakat agar lebih mudah menyampaikan keluhan, atau berbagai permasalahan yang terjadi di lapangan. Keterbukaan informasi birokrasi pun diberlakukan. Dari segi transportasi, Kang Emil juga telah menerapkan system parking meter di Jalan Braga. Bus tingkatnya sudah mulai berkeliling kota.

Gambar

Ridwan Kamil ketika kunjungan ke rumah Siti Rokayah

Siang ini, tersiar kabar, masih ada tindakan lain yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, yang layak menjadi inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Ridwan Kamil masih menyempatkan waktunya, di sela-sela kesibukannya, untuk menyambangi warganya yang tinggal di pelosok-pelosok, di sudut-sudut Kota Bandung. Ridwan Kamil tidak segan mendatangi warga yang kurang beruntung, untuk sekedar menyapa, santap bersama,  mendengar keluh kesahnya, dan menentukan yang bisa dia lakukan sebagai tindak lanjutnya. Siti Rokayah, warga yang dikunjungi merasa terharu atas perhatian pemimpinnya. Boleh jadi, dia merasa bahagia, bahwa pemimpinnya juga memberikan perhatian terhadap masalah yang menimpanya. Ridwan tengah menjalankan salah satu programnya, yaitu berupaya untuk menaikkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung. Salah satu caranya, dengan setiap satu minggu sekali, mengunjungi warga pra sejahtera di Kota Bandung.

Kita tidak perlu berburuk sangka terlebih dahulu. Tidak perlu terburu memberikan cap pencitraan. Kita lihat ketulusan dan tindakan yang akan dilakukan Kang Emil selanjutnya. Apakah hanya akan berhenti pada kunjungan semata, ataukah ada tindak lanjut yang tentunya dapat dirasakan tidak hanya oleh warga yang kebetulan terkunjungi. Kami percaya, Kang Emil memiliki jaringan yang dapat menindaklanjuti hasil kunjungannya.

Gambar

Ahok tak segan memuji pemimpin lainnya

Berita kedua yang tidak kalah menggembirakan, memberikan harapan datang dari Ahok. Salah satu sosok pemimpin Jakarta ini mau dengan jujur mengakui dan memberikan pujian pada pemimpin lainnya. Ini bukan masalah sepele. Salah satu ciri pemimpin yang patut diacungi jempol, adalah mau secara jantan mengakui keberhasilan pemimpin lainya, bahkan mau mencontoh kebijakan yang baik. Tidak perlu malu atau tidak perlu merasa rendah dianggap sebagai pengekor. Sebagai salah satu pimpinan di kota yang katanya miniatur Indonesia, kota yang menjadi barometer negeri, Ahok tidak sungkan untuk melontarkan pujian pada para pemimpin daerah lainnya. Ahok tidak merasa bahwa kedudukan dan posisinya lebih bergengsi dibandingkan dengan pemimpin daerah lainnya. Ahok tidak malu untuk menghaturkan pujian pada Ridwan Kamil. Tindakan ini bukan sesuatu yang mudah bagi seorang pemimpin Jakarta. Ahok secara tulus mengatakan, “Memang dia (Ridwan) bagus kinerjanya dan banyak kebijakan yang bisa kita tiru, banyak juga yang tidak bisa kita tiru”,  kata Basuki (28/1/2014). Ahok bukan sekali ini memuji keberhasilan pemimpin daerah lain. Hal yang sama juga pernah dia lakukan untuk Bu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Ahok memuji sistem e-budgeting yang diterapkan di Kota Surabaya.

Gebrakan yang dilakukan Ahok tidak kalah gaung dibandingkan dengan gebrakan yang dilakukan Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini. Jokowi pun salah satu pemimpin yang menginspirasi. Mereka semua adalah para pemimpin jempol yang tengah meniupkan angin harapan, asa yang masih bisa kita harap. Semoga dapat menularkannya pada para pemimpin lainnya, memberikan inspirasi bagi para pemimpin lainnya. Semoga berita yang beredar tidak hanya tentang muramnya Indonesia, namun juga tentang harapan yang masih dapat kita nantikan. Indonesia pasti bisa. Salam. (Del).

Sumber:

  1. Kisah Janda Miskin ‘Diapeli’ Wali Kota Ridwan Kamil
  2. Puji Ridwan Kamil, Basuki Ingin Tiru Kebijakannya

Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini Akan Gratiskan Angkutan Umum

Mengikuti kiprah kedua walikota ini memang menarik. Kita terus menanti dan berharap banyak pada langkah dan terobosan keduanya. Keduanya memiliki kesamaan ide. Setidaknya dalam hal membenahi sistem transportasi kotanya masing-masing. Semuanya guna mengurai kemacetan yang senantiasa hadir di kota-kota besar.

Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung dan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya ternyata memiliki rencana yang hampir sama. Boleh dikatakan hanya “beti” saja. Beda-beda tipis. Intinya serupa. Memiliki rencana untuk menggratiskan angkutan umum.

Bu Risma sebagai punggawa Kota Surabaya, memiliki rencana untuk menggratiskan angkutan umum perkotaan (angkot). Sopir angkot akan diganjar dengan gaji sehingga para sopir tidak perlu pusing memikirkan target penumpang dan bertindak ugal-ugalan demi kejar setoran. Terobosan ini untuk mendorong masyarakat agar mau menggunakan angkot sebagai moda transportasinya. Rencana angkot gratis tercetus dari mulut Bu Risma sendiri  pada acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (20/11/2011). Rencananya, program angkot gratis akan direalisasikan mulai tahun depan. Tentunya selain program angkot gratis, tidak lupa pula diiringi dengan program peremajaan armada angkotnya dengan menggandeng koperasi angkot yang ada. Modal peremajaan angkot akan diberikan melalui koperasi angkot. Rute angkot pun akan terkoneksi dengan sistem angkutan monorel dan trem yang juga akan dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Semoga terwujud.

Bandung tidak mau kalah, ternyata Ridwan Kamil pun memiliki ide yang serupa tapi tak sama. Sama-sama memiliki ide menggratiskan angkutan umum. Namun, jika Bu Risma menggratiskan angkutan umum, maka Kang Emil (panggilan Ridwan Kamil) memiliki rencana mengratiskan angkutan umum bis pada waktu-waktu tertentu.

Yang akan digarap oleh Ridwan Kamil adalah program naik bus gratis bagi pelajar dan naik bus gratis khusus untuk hari Senin. Dengan menjalankan program naik bus gratis di Hari Senin, diharapkan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang tumpah ruah di jalanan Kota Bandung. Demikian yang disampaikan Ridwan Kamil di acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di jakarta, Rabu (20/11/2013). Pemerintah Kota Bandung pun berencana untuk menambah frekwensi program naik bus gratis menjadi pagi dan sore hari jika jumlah bis nya mencapai 100 unit. Kita tunggu.

Semoga rencana-rencana kedua pemimpin jempol di atas segera terwujud, segera terealisasi. Agar keruwetan jalanan di kedua kota tersebut sedikit demi sedikit terurai, dan terselesaikan. Bagaimana dengan Jakarta? Jokowi dan Ahok pun memiliki rencana. Jakarta pun tengah berupaya mengurai kemacetan yang terjadi. Mencoba mengurai satu persatu benang kusut yang melilitnya. Jokowi dan Ahok harus lebih siap. Kemacetan yang ada sekarang akan ditambah dengan gempuran mobil murah yang terlihat mulai melanda Jakarta. Jokowi-Ahok memiliki strategi lain. Program ERP, monorel, MRT, tambahan  armada bus Transjakarta, peremajaan kopaja, metromini, dsb sangat dinanti. Semua menunggu dengan harapan dan asa yang besar. Semoga. (Del)

Julukan Wagiman untuk Tri Rismaharini Tidak Sia-Sia, Kembali Raih Penghargaan

Ini kali ketiga menulis tentang sosok Tri Rismaharini. Tri Rismaharini, wanita pertama yang menduduki jabatan Walikota Surabaya telah menorehkan berbagai prestasi tidak hanya dalam lingkup Kota Surabaya. Gaungnya sudah mulai merambah Nasional, bahkan mulai dilirik prestasinya oleh dunia Internasional. Ternyata julukan Wagiman, Walikota Gila Taman yang disematkan padanya tidak sia-sia. Memang demikianlah adanya. Wanita perkasa ini sepatutnya bangga dengan julukan tersebut. Justru dengan keseriusannya dan sentuhannya pada taman-taman di Kota Surabaya telah membawanya pada berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri.

Tidak sedikit taman yang telah disentuhnya, misalnya Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-ine entertainment park nya. Taman Bungkul telah dilengkapi berbagai sarana pendukung taman, antara lain jogging track, tempat bermain untuk anak-anak, Wi-Fi, amphitheatre, serta beragam sarana olah raga lainnya. Semua dapat diakses oleh warga secara gratis. Kekuatan taman tersebut terletak pada terintegrasinya penataan taman sebagai fasilitas publik yang relatif lengkap dengan tetap terjaganya geliat ekonomi yang mengiringinya. Para pedagang makanan tetap mendapatkan tempat. Harmonisasi ruang publik, kegiatan ekonomi, maupun kegiatan budaya dan religi menjadi nilai plus Taman Bungkul.

Julukan Wagiman semakin tepat untuknya.  Kini Taman Bungkul telah menjadi taman terbesar dan terkenal di Kota Surabaya.  Taman Bungkul pula yang akan membawanya ke Jepang. Taman Bungkul Surabaya meraih penghargaan di tingkat Internasional. Penghargaan tersebut rencananya akan diterima oleh Bu Risma pada tanggal 26 November 2013 di Fukuoka, Jepang.

Tidak perlu terlalu kaget, selain terobosannya pada berbagai lini pembangunan di Kota Surabaya, Bu Risma memang memiliki kepedulian penuh pada ruang terbuka hijau, yaitu pada taman-taman maupun jalur hijau. Kota Surabaya yang dulu terkenal sebagai kota yang sangat panas, perlahan telah berubah menjadi lebih teduh, lebih rindang, lebih hijau, dan lebih nyaman. Kepeduliannya pada penataan taman-taman yang ada tidak terlepas dari latar belakangnya. Sebelum menjabat sebagai Walikota Surabaya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko). Beliaulah dalang dan yang bertanggung jawab atas bersih, hijau, dan asrinya Kota Surabaya. Beliau bertekad untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Sejuta Taman dan itu tampaknya telah menunjukkan hasil. Kota Surabaya tercatat berhasil meraih Piala Adipura tahun 2011. Beliau juga ternyata pernah menjadi salah satu nominasi Walikota terbaik di dunia tahun 2012 melalui “2012 World Mayor Prize” yang diselenggarakan oleh The City Mayors.  World Mayor Prize merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh walikota dalam memajukan kota yang dipimpinnya. Beliau dinilai berhasil menata Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan tentunya penuh dengan taman.

Tidak hanya itu saja. Surabaya pun baru mendapat penghargaan Kota Sehat Swasti Saba Padapa. Surabaya mendapatkan penghargaan tersebut karena Surabaya dianggap sebagai Kota yang secara konsisten berupaya mewujudkan lingkungan yang bersih. Pemerintah Kota Surabaya dinilai konsisten melakukan inovasi dalam penataan Ruang Terbuka Hijau, pengelolaan sampah, dan tindakan-tindakan hemat energi. Pemerintah Kota juga dinilai memberikan fasilitasi pada peningkatan derajat kesehatan jasmani dan rohani warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih dan mandiri.

Peran media memang sangat dahsyat. Jika dulu belum terlalu banyak orang luar Surabaya yang mengenal sosok Tri Rismaharini, berbeda halnya dengan sekarang. Perlahan tapi pasti, Wagiman menyeruak ke deretan para pemimpin Indonesia yang cukup mencerahkan. Saya pribadi selalu tertarik untuk terus memunculkan tokoh-tokoh yang menyejukkan. Tokoh yang diharapkan dapat menginspirasi para pemimpin lainnya. Agar para pemimpin lebih amanah dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Indonesia masih memiliki setitik harapan, secercah asa, di tengah carut marut Negeri. Kita masih dapat menggantungkan harap di tangan para pemimpin yang membaktikan diri untuk Negeri. Untuk menggapai Indonesia yang lebih baik. Semoga. (Del)

Tulisan lain tentang Tri Rismaharini:

1. Jokowi Harus Mencontoh Wagiman

2. Dua Pemimpin Jempo: Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi

Dua Pemimpin Jempol : Sayang Wagiman Tidak Sekondang Jokowi

Kekuatan media memang dahsyat. Dalam waktu tidak terlampau lama, semenjak mencalonkan diri menjadi Cagub DKI Jakarta, Jokowi menjadi pusat perhatian, pusat pemberitaan. Sangat “Media Darling”. Apapun yang dilakukan Jokowi selalu menjadi sorotan. Kemanapun Jokowi pergi, selalu ada yang mengikuti, menguntit, lalu memberitakan. Kekondangan seorang Jokowi sangat fenomenal. Bahkan terus digadang-gadang supaya mau nyapres. Bagaimana dengan Wagiman? Beliau juga sosok pemimpin yang bagus. Hanya sayang tidak sekondang Jokowi. Tidak seterkenal maupun sefenomenal Jokowi. Padahal keduanya merupakan sosok pemimpin yang layak mendapat pujian, layak disematkan bintang. Wagiman pun punya prestasi.

“Siapa itu Wagiman? Kok bisa-bisanya dibanding-bandingkan dengan Jokowi? Apa hebatnya Wagiman? Apa prestasinya? Mana hasil karyanya?” Jika masih mau tahu, masih penasaran, silakan simak tulisan selanjutnya.

Ini kali kedua menulis tentang Wagiman di Kompasiana. Sebelumnya, pernah menulis tentang sosok Wagiman di sini . Saya yakin, masih belum banyak yang mengenal sosok Wagiman. “Siapa beliau?” Bagi yang belum mengenal sosok Wagiman, baiklah. Wagiman adalah julukan yang dipersembahkan tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum pada Tri Rismaharini atau lebih dikenal dengan panggilan Ibu Risma. Mungkin belum banyak yang mengenal sosok Tri Rismaharini. Beliau tidak seterkenal Jokowi, yang namanya sudah berskala Nasional. Beliau adalah sosok wanita pertama yang menyandang gelar Walikota Surabaya. “Lalu apa hubungannya dengan Wagiman? Saudaranyakah?”

Tri Rismaharini inilah yang dikenal sebagai Wagiman. Beliau mendapatkan julukan WAGIMANWalikota Gila Taman. Tersinggungkah beliau dengan julukan tersebut? Harusnya tidak perlu. Sepatutnya beliau bangga. Saat ini, beliau berdampingan dengan mantan walikota Surabaya sebelumnya, yaitu Bambang Dwi Hartono, memimpin komando sebagai Walikota Surabaya dan Wakil Walikota Surabaya. Sebelum menjabat sebagai Walikota Surabaya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko). Beliaulah dalang yang bertanggung jawab atas bersih, hijau, dan asrinya Kota Surabaya. Beliau bertekad untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Sejuta Taman dan itu tampaknya telah menunjukkan hasil. Kota Surabaya tercatat berhasil meraih Piala Adipura tahun 2011. Beliau juga ternyata pernah menjadi salah satu nominasi Walikota terbaik di dunia tahun 2012 melalui “2012 World Mayor Prize” yang diselenggarakan oleh The City Mayors.  World Mayor Prize merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh walikota dalam memajukan kota yang dipimpinnya. Beliau dinilai berhasil menata Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan tentunya penuh dengan taman.

Ternyata beliau tidak hanya berprestasi di bidang pertamanan. Ada banyak prestasi lainnya. Jika Jokowi memiliki jurus blusukan andalannya, Bu Risma pun melakukan hal yang sama dan itu bukan karena syndrome Jokowi. Blusukannya telah dilakukan sejak lama, sejak masih menjadi Kepala Dinas Pertamanan Surabaya. Kebiasaan itu masih tetap langgeng hingga kini. Bahkan kerap membuat warga terheran. Bu Risma yang notabene seorang wanita, bisa keluar jam dua belas malam dan turut menyapu jalan. Namun, karena tidak sekondang Jokowi, aksinya tidak terendus media.

Jika Jokowi telah menunjukkan keberhasilannya di Pasar Tanah Abang, Bu Risma pun telah merambah penataan pasar di Surabaya. Beberapa pasar telah menjadi bukti jamahan tangannya. Pasar yang dulunya tidak tertata dan terkesan semrawut, kini tertata apik.  Penataan kaki lima pun tidak luput dari sentuhannya. PKL yang dulunya tersebar di pinggir-pinggir jalan dan mengganggu lalu lintas, perlahan mulai dibenahi dan diberikan tempat di dalam gedung yang mirip mall. Masih banyak lagi hasil karya Bu Risma lainnya. Revitalisasi waduk yang tengah dilakukan Jokowi pun ternyata dilakukan Bu Risma di Surabaya. Juga revitalisasi sungai, pembersihan gorong-gorong, dan pembersihan sampah-sampah di sungai. Hasilnya? Surabaya sedikit lega karena tidak terkena banjir.

Baru-baru ini terdengar kabar, seperti diberitakan di media tempo, Bu Risma berkehendak dan bertekad untuk menghapus lokalisasi di Surabaya. Setelah menutup lokalisasi di Klakah Rejo, Benowo, beliau bertekad untuk menutup lokalisasi lainnya. Bertekad untuk menutup lokalisasi Tambak Asri, juga lokalisasi yang terkenal, Dolly di Putat Jaya. Tanpa gentar, beliau menghadapi para pendemo yang menentang penutupan lokalisasi. Menemui para pendemo yang adalah para pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari. Wow…! Sungguh berani.

Para pendemo seperti biasa, membawa tulisan-tulisan yang intinya menolak penutupan lokalisasi. Mereka menganggap Pemkot Surabaya telah bertindak otoriter. Saat berdemo, mereka berusaha untuk mendekati Walikotanya. “Dan apa yang dilakukan Bu RIsma?” Beliau malah merebut salah satu poster yang mereka bawa, dan mengatakan, “Ini apa-apa ini, mau dibantu kok tidak mau”. Beliau mengatakan lebih lanjut, “Apapun rintangannya, akan saya hadapi, dan akan terus saya tutup. Wow…lagi.

Bu Risma memiliki kiat andalan, yaitu sikap tegas dan berani. Walau seorang wanita, beliau berani dan tegas menghadapi segala macam permasalahan, tantangan, dan kendala yang dihadapi. Pada prinsipnya, sepanjang masih di rel kebenaran dan demi masa depan warga, beliau tidak akan gentar, tidak akan ciut nyalinya.

Saya tidak hanya bermaksud membanding-bandingkan antara Wagiman dan Jokowi. Poinnya adalah, ternyata Indonesia masih memiliki secercah harapan. Masih memiliki sebersit asa di tengah galaunya Indonesia. Indonesia masih dapat menggantungkan harapan di atas pundak para pemimpin yang memimpin tidak hanya dengan kekuatannya, tapi juga dengan hati yang bersih dan tekad yang tulus. Semoga ke depan, masih dapat ditemukan Jokowi-Jokowi lain, Wagiman-wagiman lainnya. Pray for Indonesia. Semangat. Salam. (Del)

CR7 dan SBY Tanam Mangrove, Lulut Sudah Jauh di Depan

Rabu, 26 Juni 2013, di Taman Hutan Raya (Tahura) Telaga Waja, Benoa, Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo (CR7) melakukan penanaman mangrove. CR7 pun dinobatkan sebagai Duta Mangrove Indonesia. Kesediaan CR7 menjadi duta mangrove Indonesia tidak terlepas dari keprihatinannya setelah melihat kehancuran yang diakibatkan oleh bencana tsunami Aceh akhir tahun 2004 lalu. Pemain asal Portugal tersebut tidak ragu untuk mengambil andil agar tindakannya memberikan inspirasi bagi penyelamatan mangrove Indonesia.

Yang dilakukan oleh CR7 dan SBY sudah tepat, tidak salah, dan tidak keliru. Kita hanya berharap tindak lanjut, agar tidak hanya terhenti pada acara seremonial saja. Agar gaungnya lebih dahsyat lagi dan terasa di seluruh pelosok negeri. Terasa di sepanjang pantai Indonesia yang sungguh sangat panjang. Terasa dalam memperluas hutan mangrove Indonesia yang semakin tidak luas lagi. Semoga.

Tanpa mengecilkan arti tindakan yang dilakukan SBY dan CR7, tulisan ini hendak mengangkat langkah seorang Lulut Sri Yuliani, sosok yang telah jauh di depan dalam upaya pelestarian mangrove Indonesia. Sekedar oleh-oleh hasil dolanan ke Surabaya.

Siapakah Lulut Sri Yuliani? Seberapa pentingnyakah beliau sehingga perlu diangkat dalam tulisan? Mengapa diperbandingkan dengan CR7 dan SBY? Apa hubungannya? Apa korelasinya? Sudahlah, tak perlu banyak tanya, lanjutkan saja bacanya. *tersenyumlah…

Lulut Sri Yuliani
Sumber : http://www.ekonomi.kompas.com

Jika bertemu langsung dengan sosok Lulut Sri Yuliani, kesan pertama yang muncul adalah beliau sosok yang sangat sederhana, apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, straight to the point. Setelah mendengarkan penjelasan sekilas tentang upaya pelestarian mangrove yang telah dilakoninya baru kita terperangah, terkagum-kagum, acungan jempol layak diberikan. Tanpa tedeng aling-aling, beliau langsung mengatakan, “Jika ingin tahu lebih banyak, serius untuk menjalani, silakan ikuti pelatihan kami. Jika tidak, lebih baik tidak usah. Pelatihan kami berbeda dengan pelatihan lainnya. Jika ketahuan ada yang tidak serius, kami tidak segan-segan untuk menghentikannya. Selesai pelatihan kami tetap melakukan monitoring agar pelatihan benar-benar bermanfaat”.

Produk Olahan Mangrove

Upaya yang dilakukan oleh Lulut Sri Yuliani dalam upaya melestarikan tanaman mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya memang luar biasa. Ibu Lulut langsung menerka apa yang ada di benak, yang menjadi keraguan kami. “Jangan berfikiran akan menemukan lokasi pengolahan mangrove dengan skala besar di sini. Kami lebih mementingkan pemberdayaan masyarakat sekitar”. Tempat pengolahan dan pembuatan produk-produk turunan mangrove yang dikomandoi oleh Ibu Lulut tersebar di sekitar kediamannya, di Kompleks Wisma Kedungasem Indah, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya. Semuanya skala rumahan, walaupun hasilnya melebihi itu. Selain tempat pembuatan batik mangrove yang berada di kediamannya sendiri, beliau juga menunjukkan rumah-rumah tempat pengolahan kerupuk mangrove, tempat pengolahan tempe mangrove, sirop mangrove, dll yang notabene merupakan tetangga-tetangganya. Tidak jauh dari kediamannya.

Perjuangan Ibu Lulut Sri Yuliani telah membuahkan hasil penghargaan Kalpataru tahun 2011 untuk kategori perintis lingkungan, namun itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana membaktikan diri pada masyarakat dan lingkungan. Itu jauh lebih mulia, jauh lebih bernilai. Sesuai dengan janjinya pada Sang Pencipta setelah mengalami mujizat yang luar biasa.

Awalnya Ibu Lulut membaktikan diri sebagai guru, mengajar di sejumlah sekolah dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMK Panglima Sudirman dan SMPK Prapanca 2 Surabaya. Namun tahun 1997 Ibu Lulut mengalami tragedi hidup yang berat. Tubuhnya lumpuh dan dokter telah menjatuhkan vonis bahwa hidupnya tidak akan lama. Aliran darahnya tidak normal dan pembuluh darahnya pecah. Tangan, kaki, dan bagian tubuh lain tidak dapat digerakkan lagi. Jika aliran darah tidak dapat mencapai otak, maka tamatlah sudah. Walau tekad untuk sembuh sangat kuat, sampai pula Ibu Lulut pada tahap pasrah karena semua upaya pengobatan yang dilakukan sia-sia. Ibu Lulut hanya berharap mujizat. Terlontar janji. “ Jika sembuh, saya akan mengabdikan diri pada alam dan masyarakat”. Tuhan Maha Mendengar, beliau sembuh. Dan janji harus ditepati. Untuk itu, sejak tahun 2007, sebagai Ketua Forum Peduli Lingkungan (FPL) Kecamatan Rungkut, beliau total mengabdikan diri untuk masyarakat dan lingkungan. Dari sinilah seorang Lulut Sri Yuliani bergerak nyata, walau sudah memulai sejak tahun 1996.

Beragam Hasil Produk Olahan Mangrove

Beliau menyadari bahwa upaya pelestarian lingkungan tidak dapat hanya menjaga dan merawatnya saja tapi juga harus memiliki nilai ekonomi bagi warga setempat. Hanya yang perlu ditekankan, jangan berfikir ekonomi terlebih dahulu. Yang utama tetap lingkungan. Beliau berfikir tentang cara memberdayakan masyarakat untuk peduli pada mangrove namun tetap memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat. Munculah beragam karya olahan mangrove dari tangannya. Dari tangannya mangrove dapat dioleh menjadi sirup, sabun cair, kerupuk, tepung, roti kering, permen, batik, dan banyak yang lainnya.

Ibu Lulut kemudian membentuk Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Griya Karya Tiara Kusuma untuk mempromosikan dan mendistribusikan produk olahan mangrove karya warga sekitar. Salah satu produk unggulannya adalah Seni Batik Mangrove Rungkut atau lebih dikenal dengan “Batik SeRU”. Apa yang membedakan Batik Seru dengan batik lainnya? Apa itu Batik Mangrove?

Batik Mangrove, Batik SeRU

Batik mangrove memiliki tema mangrove. Hutan mangrove dimanfaatkan sebagai dasar motif batik yang menarik. Tak hanya itu, prosesnya pun harus ramah lingkungan. Memakai pewarnaan alami. Setiap batik dibuat ekslusif, berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap perajin menciptakan komposisi desain sendiri. Ibu Lulut hanya menyiapkan pakemnya saja. Beliau ingin agar setiap karya itu orisinal, tidak menjiplak. Peserta pelatihan batik mangrove pun harus lepas dari pengaruh batik lainnya. Hasil kerja kerasnya telah diapresiasi. SBY dan Ibu Ani pun tak mau ketinggalan, sudah memesan langsung batik seru.

CR7 dan SBY telah memukul gong keberpihakan pada mangrove Indonesia. Namun gaungnya harus terus disuarakan, disebarluaskan, dan ditindak lanjuti. Agar tidak hanya berhenti dalam tataran seremonial saja. Tidak nanggung. Perlu Lulut-Lulut lain yang mengambil estafet keberpihakan pada lingkungan. Perlu langkah-langkah lanjutan. Langkah yang terus melaju ke depan. Tanpa seremonial belaka.

Jokowi Harus Mencontoh Wagiman

Siapa itu Wagiman? Apa hebatnya Wagiman? Bukankah sekarang seorang Jokowi sudah menjadi contoh dan panutan bagi sebagian besar orang, bahkan di tataran Nasional sehingga banyak digadang-gadang untuk menjadi Presiden? Mengapa harus mencontoh orang lain? Mengapa harus mencontoh Wagiman? Untuk mencari tahu jawabannya, silakan simak….

Kebetulan selama 3 hari saya berkesempatan untuk berkunjung ke Kota Surabaya dan saya terkesan. Kota Surabaya memang layak dan pantas jika dijuluki sebagai Kota Sejuta Taman. Sepanjang perjalanan dari Bandara Juanda menuju pusat kota, menuju hotel tempat menginap sementara, pemandangan taman langsung tampak dengan nyata. Langsung terpapar dengan jelas. Pemandangan hijaunya taman, indahnya median jalan, dan deretan pepohonan di pinggir jalan, selalu menghampiri, mengundang untuk sekedar ditengok dan diperhatikan. Hampir tidak ada lahan kosong milik publik yang dibiarkan merana tanpa sentuhan hijaunya tanaman. Hampir tidak ada median jalan yang tidak terwarnai hijaunya tumbuhan dan beraneka warnanya bunga. Semua cantik, semua indah, semua memancarkan aroma kesejukan dan kesegaran.  Panasnya suhu Surabaya terdegradasi dan terkorupsi oleh rimbunnya dan rindangnya pepohonan.

Taman Bungkul – Surabaya. Sumber : eastjava.com

Sepanjang perjalanan menuju hotel, jadi ajang tebak-tebakan dan diskusi di antara kami. Jenis pohon apakah itu? Kok bisa ya, tumbuh di Surabaya yang panas? Siapa yang bisa menemukan median tanpa sentuhan taman? Siapa dalang semua ini? Siapa yang bertanggung jawab atas semuanya?

Bisakah Jakarta seperti itu? Jawabannya : BISA. Jika Jokowi mencontoh Wagiman. Siapa itu Wagiman?

Mungkin belum banyak yang mengenal sosok Tri Rismaharini. Beliau tidak seterkenal Jokowi, yang namanya sudah berskala Nasional. Saya juga tidak mengenalnya dan saya gak mau sok kenal, sok dekat. Tapi saya tahu siapa itu Tri Rismaharini. Tahu berbeda dengan kenal dan tahu belum tentu kenal. Beliau adalah sosok wanita pertama yang menyandang gelar Walikota Surabaya. Lalu apa hubungannya dengan Wagiman? Saudaranyakah?

Tri Rismaharini inilah yang dikenal sebagai Wagiman. Beliau memang mendapatkan julukan WAGIMAN, Walikota Gila Taman. Tersinggungkah beliau dengan julukan tersebut? Harusnya tidak perlu. Sepatutnya beliau bangga. Saat ini, beliau berdampingan dengan mantan walikota Surabaya sebelumnya, yaitu Bambang Dwi Hartono, memimpin komando sebagai Walikota Surabaya dan Wakil Walikota Surabaya.

Tidak usah terlalu kaget, karena ternyata sebelum menjabat sebagai Walikota Surabaya, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko). Beliaulah dalang dan yang bertanggung jawab atas bersih, hijau, dan asrinya Kota Surabaya. Beliau bertekad untuk menjadikan Surabaya sebagai Kota Sejuta Taman dan itu tampaknya telah menunjukkan hasil. Kota Surabaya tercatat berhasil meraih Piala Adipura tahun 2011. Beliau juga ternyata pernah menjadi salah satu nominasi Walikota terbaik di dunia tahun 2012 melalui “2012 World Mayor Prize” yang diselenggarakan oleh The City MayorsWorld Mayor Prize merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi yang dicapai oleh walikota dalam memajukan kota yang dipimpinnya. Beliau dinilai berhasil menata Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan tentunya penuh dengan taman.

Tidak sedikit taman yang telah disentuhnya, misalnya Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-one entertainment park nya. Kini Taman Bungkul telah menjadi taman terbesar dan terkenal di Kota Surabaya. Selain itu, yang tak kalah menarik adalah sentuhannya pada taman di Bundaran Dolog, taman Undaan, taman di Bawean, dan beberapa taman lainnya yang sekarang telah menjadi tempat refreshing atau sekedar melepas penat warga kota.

Jokowi harus mencontoh Wagiman. Menambah hijaunya Jakarta. Jokowi juga bukan tanpa upaya untuk pengadaan Ruang Terbuka Hijau Publik (RTH Publik). Namun gaungnya tenggelam di antara beragam permasalahan urgent lainnya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya keras untuk menambah luasan RTH, demi untuk menjadikan ibukota yang lebih hijau dan lebih nyaman. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI 2013-2017, salah satu misinya adalah menjamin ketersediaan hunian dan ruang publik yang layak serta terjangkau warga kota.

Salah satu langkahnya, yaitu dengan meningkatkan luasan dan kualitas RTH publik dan privat. Jakarta berencana untuk mencapai luas RTH di atas 11 % di tahun 2017 dari awalnya yang hanya 9,9 %. Caranya dengan menerapkan penambahan RTH publik melalui penyediaan dan pembelian lahan baru, dengan pembebasan lahan. Ini juga rencananya dilakukan bekerja sama melalui penggalangan peran swasta dalam penyediaan RTH publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga merencanakan penerapan regulasi untuk penambahan RTH privat pada kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa, serta kawasan industri. Mampukah? Dapatkah? Mampukah Jokowi mencontoh Wagiman? Butuh pembuktian. Kita lihat nanti.